2 Rajab 1442 H
Guten Morgen, Liebe Freunde!
Hey, kali ini saya mau menceritakan dan menggambarkan sedikit insight perjalanan awal mula kedatanganku di Jerman sampai berkuliah saat ini.
Sebenernya sudah lama sekali saya ingin bercerita mengenai hal ini, namun karena dulu masih berfikir pengalaman saya masih kurang dan jauh untuk diceritakan sehingga saya agak kurang pede untuk show off. Namun berjalan waktu ke waktu di Jerman membuat saya lebih siap untuk muncul dan menuliskan keluh kisah dan pengalaman saya ke teman-teman, terutama ketika saya sudah menginjakkan kaki di tahap perkuliahan.
Sebenernya sudah lama sekali saya ingin bercerita mengenai hal ini, namun karena dulu masih berfikir pengalaman saya masih kurang dan jauh untuk diceritakan sehingga saya agak kurang pede untuk show off. Namun berjalan waktu ke waktu di Jerman membuat saya lebih siap untuk muncul dan menuliskan keluh kisah dan pengalaman saya ke teman-teman, terutama ketika saya sudah menginjakkan kaki di tahap perkuliahan.
OK langsung saja berikut uraian perjalanan saya kuliah S1 di Jerman melalui kondisi pembagian waktu dibawah ini:
Jadi awal mula saya ke Jerman ialah di tahun 2018 dengan mengikuti program FSJ yang dibawah naungi oleh lembaga IJGD (Internationale Jugendgemeinschaftsdienste). Mungkin beberapa ada yang sudah mengetahui program sosial ini, walaupun begitu masih banyak juga orang indonesia yang belum tahu. Bahkan beberapa orang indonesia yang sudah tinggal lama di Jerman pun banyak juga yang tidak mengerti, hingga mengira program sosial ini adalah program baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Jerman. Namun sebenernya tidak.
Program FSJ ini merupakan program sosial volunteering atau sukarelawan yang terikat kontrak untuk satu tahun lamanya dari pemerintah Jerman. Untuk bidang kerjanya itu ada banyak variasiya, ada yang bekerja di Altenheim (panti jompo), di rumah sakit, di Kindergarten atau taman kanak-kanak (TK), di immigrasi internasional, dan lain-lain.
Cikal bakal atau sejarah berdirinya program FSJ ini sudah ada lama dari berakhirnya perang dunia kedua (PD-II) ditahun 1945 dimana kala itu ketika Jerman mengalami kekalahan besar melawan sekutu dan dari situ banyak nya prajurit dan warga Jerman tewas pasca perang, sehingga anak-anak muda yang berusia sekitar 18 tahun keatas diwajibkan untuk menjadi Freiwilliger (sukarelawan) untuk membantu membangun negara pulih kembali dengan bekerja sosial yang ditempatkan oleh pemerintah.
| Bersama rekan-rekan FSJ dari mancanegara dalam Seminar bertajuk politik di Karlsruhe Bildungszentrum, 2018 |
Jadi FSJ lah yang membawa saya pertama kalinya ke Jerman. Dan ini memang sudah saya rencanakan sesuai bagaimana saya bisa berkuliah di Jerman. Karena beralasan kondisi finansial yang seadanya, dengan mengikuti program FSJ ini kalian akan mendapatkan upah sosial berupa gaji setiap bulannya sehingga memudahkan kalian untuk menabung di tahun berikutnya untuk masuk one step closer ke jenjang kuliah yaitu Studienkolleg atau Prauniv.
Namun sebelum kalian bisa mengikuti program FSJ ini, kalian membutuhkan minimal Sertifikat Bahasa Jerman level B1 yang bisa kalian tempuh melalui ujian di Lembaga kursus bahasa Jerman Goethe yang berada di 3 tempat di Indonesia, yaitu di Surabaya, Jakarta dan Bandung. Saya sendiri dulu mengikuti kursus bahasa Jerman di Surabaya dari level A1 hingga B1 selama kurang lebih setahun mulai lulus SMA tahun 2017 hingga 2018. Karena sertifikat bahasa ini juga merupakan salah satu dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti program FSJ.
"Tapi kak, saya kan setidaknya bisa lancar bahasa Inggris?"
Memang sangat mendukung kalau kalian bisa berbahasa inggris dan menjadi nilai plus ketika pendaftaran nanti. Namun bahasa inggris bukanlah menjadi bahasa utama sehari-sehari yang digunakan di Jerman. Ketika kalian misalnya ditaruh bekerja di Altenheim atau panti jompo, orang-orang yang sudah lanjut usia disana mayoritas tidak mengerti bahasa inggris. Bahkan dulu Chef atau atasan saya merupakan orang jerman yang terbilang masih muda namun tidak mengerti dan tidak bisa bahasa inggris. Jadi tidak bisa di generell kan bahwa semua orang Eropa itu pasti bisa fluent bahasa inggris ya!
2. Studienkolleg (Sekolah Prauniv) di tahun 2019-2020
2. Studienkolleg (Sekolah Prauniv) di tahun 2019-2020
Setelah setahun saya berhasil mengikuti program FSJ, saya lanjut ke tahap berikutnya yaitu masuk ke Studienkolleg atau Sekolah Prauniv untuk mahasiswa internasional yang berlangsung satu sampai dua semester. Studienkolleg ini wajib diikutin bagi kita sebagai pelajar Indonesia yang ingin mengambil kuliah S1 di Jerman, mengapa demikian?
Jadi karena durasi waktu pendidikan kita mulai dari SD hingga SMA itu berkisar 12 tahun dan di Jerman sendiri totalnya 13 tahun masa pendidikannya. Sehingga ijazah akhir SMA kita disini setara sama dengan rapot SMA nya orang Jerman di kelas 11 atau kelas 2 SMA. Jadi kurang setahun.
Sedikit berbicara mengenai pendidikan. Saya akan membuat perbandingan singkat durasi waktu antara pendidikan di Jerman dan di Indonesia:
- Jerman: SD-SMA (13 tahun) ⇒ S1 (3 tahun) ⇒ S2 (2 tahun)
- Indonesia : SD-SMA (12 tahun) ⇒ S1 (4 tahun) ⇒ S2 (2 tahun)
Kembali lagi mengenai Studienkolleg. Maka dari situ Studienkolleg disini berperan sebagai sekolah penyetaraan mahasiswa internasional yang ingin berkuliah Bachelor atau S1 di Jerman.
Untuk level bahasa Jerman yang diperlukan dan menjadi persyaratan masuk Studienkolleg yaitu mulai dari level B1 sampai B2, tergantung dari kebijakan masing-masing Studienkolleg.
Studienkolleg disini juga dibedakan macam kelas peminatan nya. Terdiri dari 4 kelas bidang peminatan yaitu:
- T-Kurs untuk peminatan kuliah jurusan Teknik, Ingenieur, Science dll
- W-Kurs untuk peminatan kuliah jurusan Ekonomi, Bisnis, Marketing, Akuntansi dll
- M-Kurs untuk peminatan kuliah jurusan Kedokteran, Kesehatan, Keperawatan, Farmasi dll
- G-Kurs untuk peminatan kuliah jurusan Sosial, Sastra, Bahasa, Hukum, Politik dll
Setelah lulus dari Studienkolleg, kalian akan mendapatkan ijazah yang mana kalian gunakan untuk mendaftar di Universitas atau Hochschule yang berada di seluruh Jerman.
Ok dari sini bisa terbayangkan sedikit lika-liku perjalanan saya menuju kuliah di Jerman, walau tidak saya jelaskan detailnya dari setiap event yang saya lalui, seperti bagaimana berjalan FSJ, berapa gaji yang saya dapat perbulan nya, bagaimana kerja nya, bagaimana ujian masuk di Studienkolleg, dokumen apa yang perlu disiapkan untuk daftar Uni dll. Karena itu nanti akan saya jadikan bagian-bagian nya sendiri untuk diceritakan, akan terlalu panjang uraian ini bila harus menuliskan semua detail tersebut. Disini saya hanya ingin merangkum overview perjalanan saya untuk kuliah S1 di Jerman melalui jalan mandiri.
Untuk lebih jelas nya telah saya buatkan tabel riwayat dibawah ini agar memudahkan kalian memahami kronologis perjalanan tersebut.
|
2017 |
Lulus
SMA |
|
2017-2018 |
Kursus bahasa Jerman level A1-B1 di Surabaya (± 10 Bulan) |
|
2018-2019 |
Program kerja sosial FSJ di Witten (selama 1 tahun di Jerman) |
|
2019-2020 |
Studienkolleg atau Prauniv di Köthen, Hochschule Anhalt |
|
2020-now |
Memulai jenjang pendidikan kuliah S1 di Universitas Jerman |
Berdasarkan pengalaman diatas, saya memakan waktu kurang lebih 3 tahun lamanya proses untuk bisa masuk ke universitas di Jerman. Sehingga menjadikan saya tertinggal 6 semester lebih telat dengan teman saya yang lulus SMA nya sama ditahun 2017.
Jadi memang saya akui melihat dari waktu yang terkuras, bahwa saya cukup telat sekali untuk masuk jenjang kuliah bila dibandingkan dengan teman-teman satu angkatan saya lainnya yang kuliah di Indonesia. Tapi yang saya lakuin itu berdasarkan karena faktor situasi dan kondisi finansial serta menempuh jalan hemat dan alternatif walau memakan waktu lama.
Kalian yang mungkin memiliki finansial yang mampu atau lebih, tidak perlu mengambil program FSJ untuk bisa kuliah S1 disini. Setelah lulus ujian sertifikat B1 di Indonesia, kalian bisa langsung mendaftar Studienkolleg tanpa perlu ikut FSJ seperti saya jika memang tidak bertujuan menambah pengalaman atau dalam keadaan kondisi finansial seperti saya.
Apa yang saya lakukan dengan mengikuti program FSJ bertujuan disisi lain untuk meng-improve bahasa jerman saya terdahulu sebelum saya masuk kuliah. Kedua memperbanyak pengalaman dan relasi di Jerman. Ketiga membantu kondisi finansial saya yang seadanya dan keempat menjadi jembatan saya untuk bisa terbang ke Jerman.
Jadi selalu lah ambil sisi baik dari setiap peristiwa dan keadaan yang kalian alami, jangan pernah kecewa dengan menyesal atas keputusan yang kalian ambil, tetapi bersyukurlah, apapun itu pasti ada kebaikan dan manfaat yang bisa kalian ambil dalam kehidupan tanpa kalian sadari.
Mungkin kurang lebih nya saya ingin mengucapkan terimakasih dan mohon maaf bila ada salah kata dalam penyampaian. Semoga sedikit uraian diatas bisa memberikan manfaat yang banyak bagi kalian yang membaca.
Salam,
Iqro

MasyaAllah ,barokallah Mas , izinkan untuk mengeshare ilmu ini biar berkah barokah yo Mas ilmunya.
BalasHapus