Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Desember 2023

Napak Tilas Perziarahan di Kota Istanbul

 




14 Jumadil Ula 1445 H

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatullah Sobat Wayfarer!
Negara Turki terkenal akan sejarah dan pencapaian historisnya mengenai eksistensi keberadaan peradaban nya mulai kekaisaran Romawi, Byzantium hingga kerajaan Turki Utsmani (Ottoman Empire) yang telah membawa peradaban islam sebagai peradaban emas dan maju di dunia. Namun bila kita tarik jauh sebelum futuh atau runtuhnya Konstantinopel, ternyata sudah ada dari golongan sahabat, tabiin dan generasi-generasi setelahnya yang berusaha mencoba menduduki benteng terkuat kekaisaran Romawi Timur ini. Tepatnya di kota Istanbul (dahulu Konstantinopel) terdapat bukti sejarah akan banyaknya makam ataupun nisan para sahabat-sahabat Nabi .

Dalam sumber sejarah Islam, bahwa rombongan para pasukan muslim dimasa Umayyah telah berusaha menaklukan Konstantinopel untuk pertama kalinya, terdapat sedikitnya 63 orang dari sahabat Nabi. Hal tersebut tidak lain karena motivasi sahabat akan ramalan dari hadis Nabi yang mengisyaratkan bahwa pada suatu saat kelak Konstantinopel akan runtuh ditangan pemimpin muslimin. Hadis tersebut menarik perhatian para sahabat yang menjadikan nya sebagai awal mula gerakan untuk menaklukan Konstantinopel. Adapun bunyi hadisnya ialah demikian:

"لتفتحن القسطنطينية، فلنعم الأمير أميرها، ولنعم الجيش ذلك الجيش."
“Sesungguhnya akan terbuka kan Kota Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).

Tak hanya Konstantinopel, Rasulullah pun sebenarnya pernah memberikan banyak nubuwwah akan tertaklukkan nya beberapa kota dan negara lain, namun berbeda dengan Konstantinopel. Saat meramalkan Konstantinopel, Nabi menggambarkan pemimpin nya sebagai “ni‘ma l-amīr” yang bermakna pemimpin yang hebat/luar biasa. Prof. Ali Yardım mengatakan “mustahil untuk tidak mendengar suara meriam yang mengguncangkan tembok kota Byzantium, dalam intonasi kata “latuftahanna ” (memiliki arti “sungguh/pasti”, suatu hari nanti akan terbukakan atau ditaklukkan) yang menunjukkan keselarasan ekspresi yang singkat, pasti, penuh tekad dan penuh harapan dalam redaksi hadis ini". Hadis ini telah membawa sahabat hingga berada disana, menganugerahkan dan menurunkan keturunan-keturunan terbaik pada generasi setelahnya yang membentuk prajurit yang tangguh hingga pada akhirnya terwujudnya peradaban baru hingga sampai saat ini yang keseluruhan nya terkandung dalam makna hadis ini.

Oleh karena hadis tersebut, para kaum muslimin pasca wafatnya Nabi secara bergelombang datang ke Konstantinopel setidaknya sebanyak kurang lebih lima kali. Yang pertama kali ialah saat masa kepemimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan (r.a.) di masa Umayyah pada tahun 669 M, kemudian pada tahun 673 M, 713 M, dan seterusnya. Secara bergelombang para Sahabat, Tabiin dan generasi-generasi berikutnya banyak yang ikut bergabung pada arus penaklukan tersebut dan diantara dari merekapun banyak yang kalah dan harus meninggal secara syahid dalam medan perang. Orang-orang yang datang bersama para sahabat dan juga meninggal selama perperangan, meskipun bukan termasuk sebagai Sahabat Nabi, mereka tetap dianggap oleh warga Istanbul sebagai sahabat dan makam mereka pun juga dipandang sebagai “makam sahabat”. Hinggalah akhirnya pada tahun 857 H atau tepatnya 29 Mei 1453 M Konstantinopel pada akhirnya berhasil diruntuhkan dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad II Al-Fatih.

Kehidupan dan kematian yang saling terkait dan silih berganti sangat bisa dirasakan melalui keberadaan makam-makam di wilayah Istanbul yang mengingatkan kita akan dekatnya kematian. Dan kehadiran makam-makam ini dianggap oleh sebagai pusat spiritual suci bagi masyarakat di setiap distrik tertentu dan di kota secara keseluruhan. Makam-makam sahabat di Istanbul sering dikunjungi dan dijaga tidak hanya oleh warga biasa, namun juga mendapat perhatian dan kunjungan nya dari sultan dan pejabat pemerintah kerajaan. Para sultan dan pemerintah kerajaan dari waktu ke waktu membangun komplek makam bahkan menjadikan masjid disekitar makam agar mudah dikenali, dipelihara oleh masyarakat dan juga sebagai bentuk kehormatan serta kenangan atas jasa perjuangan mereka.

Hampir kurang lebih terdapat 28 makam sahabat di Istanbul yang sebagian mereka merupakan pasukan yang membersamai Abu Ayyub (r.a.) dan sebagian nya datang mengkuti gelombang setelahnya. Tujuh diantaranya terdapat di daerah Eyüp dan sekitarnya, 18 diantaranya berada di dalam batas benteng kota Istanbul, dan 3 diantaranya berada di daerah Beyoğlu. Namun secara pasti berapa jumlah makam para sahabat masih belum jelas. Di daerah Edirnekapı, tepatnya di Atik Ali Paşa Mahallesi, ditemukan makam Sahabat Abu Said al-Khudri yang diketahui juga bahwa beliau dimakamkan di Jannatul Baqi di Mekkah. Begitu juga para Sahabat Nabi yang disinyalir bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Istanbul, akan tetapi makam mereka dapat ditemukan di Istanbul, seperti Muhammad al-Anshari, Abdullah al-Khudri, Ka’ab bin Malik, Syu’bah, Hamdullah al-Anshari, Wahab bin Husayrah dan beberapa Sahabat lain yang makamnya masih dalam perdebatan.

Beberapa tempat yang terkenal dengan “Makam Sahabat” di Istanbul, akan tetapi mungkin beberapa tempat tersebut bisa jadi bukan merupakan makam dimana jasad para sahabat tersebut disemayamkan sebenarnya, akan tetapi bisa saja makam tersebut bermakna “Nisan Sahabat” yang dibangun dalam kerangka kecintaan untuk memberikan penghormatan bagi para sahabat Nabi tersebut. Sehingga tak heran jika dari seorang Sahabat bisa saja kita temukan makamnya di lebih dari satu tempat. Berdoa dan mendoakan mendiang almarhum seseorang memang dapat dilakukan dari mana saja, dan tidak harus didepan makam tersebut, akan tetapi dengan kita berziarah maka kedekatan hati dan ketulusan perasaan seseorang akan lebih mudah untuk menghadirkan pelajaran dan ibrah bagi kehidupan nyatanya dan akhiratnya.

Untuk mengetahui lebih lengkapnya siapa saja tokoh-tokoh muslim pendahulu yang diyakini pernah hadir dan memperjuangkan Konstantinopel pada sejarahnya, berikut dibawah ini telah saya rangkum beberapa tempat perziarahan dan makam-makam sahabat, tabiin, beserta makam para sultan, alwiya juga ulama-ulama sufi yang berada di kawasan sekitar Istanbul:

Makam Nabi Yusha bin Nun (a.s) یوشع بن نون
Lokasi: Yusa Tepesi (Joshuas Hill) - https://maps.app.goo.gl/vFKqLzMxzuV3KwBM7

Didepan pintu masuk makam Nabi Yusha bin Nun A.S

Tak banyak mengetahui ternyata terdapat makam seorang Nabi di kota Istanbul. Tak lain ialah Nabi Yusha bin Nun (a.s). Beliau merupakan cicit dari Nabi Yusuf (a.s) sekaligus murid dan juga sepupu jauh dari Nabi Musa AS. Dalam agama kristen dan yahudi mereka lebih mengenal nabi Yusha (a.s) dengan nama Joshua. Diyakini diantara tahun 1082 SM sampai tahun 972 SM beliau pernah tinggal dan mengakhiri masa hidupnya disuatu bukit diwilayah utara Jerusalem yang berada diatas persimpangan pertemuan dua laut: yaitu laut hitam (Black Sea) dan laut marmara. Yang mana bukit tersebut saat ini berada di wilayah Istanbul yang diberi nama oleh penduduk lokal dengan nama "Yusa Tepesi"

Nama Nabi Yusha sendiri tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran, namun para ahli tafsir meyakini, Nabi Yusha disebut secara tersirat di QS. Al-Kahfi: 60-65 sebagai “asisten” atau seseorang yang mendampingi Nabi Musa A.S saat mencari Nabi Khidir di persimpangan dua lautan (Majma’ul Bahrain) sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran:

"وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا ".
Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) hingga sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan (terus) berjalan sampai bertahun-tahun". (Al-Kahfi: 60)

Bukit Yusa Tepesi merupakan bukit terdekat dan tertinggi di selat Bosphorus dan juga bukit yang tertinggi kedua di kota Istanbul, setelah Bukit Camlica. Berada diketinggian 200 meter di atas permukaan laut, bukit Yusa Tepesi ini jadi salah satu lokasi terbaik untuk menikmati keindahan Kota Istanbul dan Selat Bosphorus yang menghubungkan antara dua laut, yaitu laut hitam dengan laut marmara.


Makam Nabi Yusha bin Nun A.S

Ukuran makam sangatlah besar. Panjangnya ialah 17 meter dengan lebarnya 2 meter. Orang-orang Eropa menyebutnya sebagai “makam raksasa”. Fakta mengapa makam nya dibuat besar demikian ialah bisa diklassifikasian dengan beberapa point dibawah ini:
1. Status beliau sebagai Nabi, maka atas dasar cinta dan hormat terhadapnya, dibuatlah makam dengan ukuran besar dan panjang seperti demikian.
2. Dikarenakan tempat makam ini diidentifikasi dan ditemukan melalui petunjuk spiritual, maka untuk menghindari kesalahan petak terhadap makamnya, dibuatlah makam nya besar dan panjang sedemikian.
3. Para pendahulu nenek moyang meyakini bahwa raksasa pernah mendiami puncak bukit ini dan mungkin dengan demikian mereka pun membuat makam ini sama raksasanya. Tak heran bukit ini pun secara historis memiliki nama lain sebagai "The Giant Mountain" (Gunung Raksasa). Sesuai dalam kisah sejarahnya bahwa Nabi Yusha pernah menelusuri selat Bosphorus bersama Nabi Musa A.S, dan diyakini ia meninggal terlebih dahulu disana dan dimakamkan di bukit ini. Dalam kisahnya yang lain bahwa nama "Yeshu" memiliki arti penyelamat dalam bahasa kuno Fenisia atau Kanaan yang mana diberi namakan oleh orang-orang pesisir Mediterania untuk bukit ini yang dapat terlihat oleh pandangan mereka yang berada dari laut hitam (Black Sea).

Selama masa kekerajaan Turki Usmani bukit ini telah menjadi situs religi yang banyak diziarahi oleh para penziarah. Bukit Yusa Tepesi merupakan saksi peradaban berbagai zaman dan kekuasaan. Mulai dari kekaisaran Romawi, Byzantium hingga Turki Utsmani. Bukit ini juga dianggap kawasan suci oleh warga lokal dan berbagai penganut agama disana. Nabi Yusha (a.s) wafat diusianya 110 tahun pada tahun sekitar 1209 SM.

Makam Sahabat-Sahabat Nabi di Istanbul:

1. Makam Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari (r.a.) أبو أيوب الأنصاري
Lokasi: Eyyüp Sultan Mosque - https://maps.app.goo.gl/FiircA6WmpX5qt5b6


Nampak pekarangan luar makam Sahabat Abu Ayyub al-Anshari (r.a.)
Diantara para sahabat yang terkenal diketahui dikebumikan di Konstantinopel atau saat ini di Istanbul ialah sahabat Khalid bin Zaid al-Anshari an-Najjari (r.a.) atau lebih terkenal dengan sebutan nya "Abu Ayyub al-Anshari" atau “Sultan Ayyub” bagi warga turki. Beliau merupakan kaum Anshar dari keturunan dari kabilah Hazraj. Abu Ayyub (r.a.) termasuk Sahabat Nabi yang banyak berperan dalam menjaga al-Qur’an setelah wafatnya Nabi ﷺ. Beliau juga merupakan salah seorang sahabat anshar dan tuan rumah yang membukakan pintu rumahnya dan menjadikan nya sebagai rumah sementara Nabi saat beliau dan rombongannya berhijrah ke Madinah. Setidaknya ada 7 bulan Nabi pernah tinggal dirumah Abu Ayyub saat pertama kali hijrah di Madinah.
Abu Ayyub (r.a.) datang ke Konstantinopel dengan usia yang sudah cukup tua pada gelombang pertama pasukan muslim yang mencapai kota tersebut untuk pertama kalinya, namun dikarenakan sakit beliau sudah meninggal lebih dulu di luar temboknya. Legenda menceritakan bahwa kuburannya telah hilang selama berabad-abad dan kemudian ditemukan kembali selama penakluklan melalui Ottoman pada tahun 1453. Saat makam sahabat Abu Ayyub (r.a.) ditemukan, Sultan Al-Fatih belumlah benar-benar membangun kerajaan di Konstantinopel. Maka saat itu salah satu pembangunan kerajaan yang pertama adalah dengan membangun makam Sahabat Abu Ayyub (r.a.) ini. Beliau disemayamkan di daerah Istanbul yang diberi nama beliau sendiri yaitu daerah Eyüp (Ayyub) disamping masjid Eyyüp Sultan Camii yang dibangun oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih beserta juga makamnya. Daerah Eyüp saat ini menjadi salah satu landmark paling penting di Istanbul dimana tempat ribuan orang dan peziarah melakukan zirayah setiap hari.

Makam Sahabat Abu Ayyub R.A yang dibatasi oleh pintu untuk ke makamnya
Saat Abu Ayyub (r.a.) mendengar bahwa suatu hari Konstantinople akan ditaklukkan Islam, beliau bergabung dengan para tentara untuk datang ke Konstantinopel, dan karena sakit akhirnya beliau wafat disana.

Oleh karenanya, setelah penaklukan Istanbul (Konstantinopel), masjid yang pertama kali dibangun diberi nama bukanlah nama Sultan Fatih akan tetapi diberi nama “Eyyüp Sultan Camii”, yang merupakan tertuju kepada Sahabat Nabi ini yang pernah berjasa dan berperan menjadi panglima dalam perang pertama kaum muslim menakluklan Konstantinopel. Tak heran terdapat nasihat warga lokal agamis untuk menyarankan bagi siapa yang mengunjungi kota Istanbul alangkah baik dan adabnya untuk menyempati dan mengunjungi makam Abu Ayyub (r.a.) terlebih dahulu.
Bagi sebagian orang yang datang dari luar kota, keberadaan makam Eyüp Sultan menjadi alasan tersendiri untuk mengunjungi Konstantinopel. Kehadiran sahabi ini di Istanbul tidak hanya penting pada masa Ottoman tetapi juga menjadikan Istanbul tempat penting di antara tempat ziarah saat ini. Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari wafat pada tahun 669-674 M atau sekitar 50 H.

2. Makam Sahabat Abu Sa’id al-Khudri (r.a.)

Depan Makam Sahabat Abu Said Al-Khudri R.A

Berada di daerah Fatih, yaitu di Jalan Sultan Çeşmesi tepatnya disamping Masjid Kariye Camii yang dahulunya adalah gereja orthodoks yunani yang bernama Biara Khora yang telah cukup tua dibangun pada tahu 413 M, terdapat makam seorang sahabat yang terkenal dalam periwayatan hadis. Yang tak lain bernama Abu Said Al-Khudri (r.a.) Nama asli beliau adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri, beliau lahir di Madinah dan merupakan keturunan dari kabilah Khazraj. Ketika masih kecil, beliau telah ikut terlibat untuk membantu pembangunan Masjid Nabawi.

3. Tiga Makam Sahabat di Masjid Bawah Tanah: Amr bin Ash, Wahab bin Husayrah dan Sufyan bin Uyaynah (r.a.)
Lokasi: Masjid Yeralti Camii - https://maps.app.goo.gl/HRcUdt5BEhmhEa6F9

Tampak foto depan masjid Yeralti Camii

3.1. Makam Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah (r.a.) عمرو بن العاص و وهب بن هثيرة

Didepan makam Sahabat Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah R.A
Sahabat Amr bin Ash (r.a.) terlahir di Mekkah dengan nama Amr bin al-Ash bin Wa’il as-Sahmi al-Quraisyi, merupakan salah seorang tokoh dari kabilah Quraisy. Beliau disamping seorang prajurit juga seorang politisi yang cerdas. Sebelum beliau memeluk Islam, beliau adalah seorang panglima dari Kabilah Quraisy dalam memerangi kaum muslim, akan tetapi setelah memeluk Islam beliau sangat menyesali perbuatannya. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar (r.a.), beliau bergabung dalam penaklukan Palestina, bersama tentara kecil yang memperoleh kemenangan besar hingga pada masa Khilafah Sayyidina Umar (r.a.), Palestina sepenuhnya memeluk Islam. Beliau juga dikenal sebagai pembawa risalah islam dan penakluk Mesir dari kekuasaan Byzantium. Pada perang Shiffin beliau juga memegang kendali dan menjadi panglima Pasukan Kavaleri Syam. Saat terjadinya pembunuhan pada peristiwa orang-orang Khawarij beliau pun selamat, dan tiga tahun setelah peristiwa tersebut beliau wafat pada sekitar tahun 663-664 M diusia 90 tahun. Disini terdapat ikhtilaf dikarenakan tahun wafatnya beliau lebih awal daripada tahun dimulainya penaklukan Konstantinopel pertama kali di tahun 669 M. Dr. Adem Apak, seorang peneliti dari Uludağ Üniversitesi, berkata demikian bahwa ”Amr bin Ash menjadi seorang gubernur di Mesir, dan pada tahun penaklukan Istanbul pertama kali, beliau 6 tahun sebelumnya telah lebih dulu wafat, dan di Mesir daerah Fustat terdapat juga makam beserta masjid dengan nama beliau juga, maka ini tidak ada hubungan sama sekali dengan Istanbul”.

Makam mereka dapat ditemukan di daerah Karaköy tepatnya di dalam Masjid Yeraltı Camii. "Yerati" dalam bahasa turki memiliki arti bawah tanah. Karena dahulunya sebelum masjid ini dibangun, tempat tersebut merupakan sel penjara bawah tanah yang dikisahkan bahwa ketiga sahabat nabi ini dimakamkan disana dimana mereka dipenjarakan oleh musuh (Byzantium) sampai akhir hayatnya di dalam penjara tersebut. Barulah saat Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani, tempat tersebut lalu dibangunkan makam beserta masjid untuk menghormati keberadaan sahabat nabi yang ditemukan disana.

Masjid Yeralti Camii merupakan salah satu hidden gem bagi para pengunjung kota Istanbul, karena keberadaan nya tak banyak diketahui serta tak tampak terlihat walau keberadaan nya berada di dalam pusat kota.

Makam dua Sahabat Nabi: Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah (r.a.)

4.2 Makam Sufyan bin Uyaynah (r.a.) سفيان بن عيينة

Makam Sahabat Sufyan bin Uyaynah (r.a.) tampak didalam

Makam Sahabat Sufyan bin Uyaynah (r.a.) tampak dari luar

Masih berada didalam masjid Yeralti Camii terdapat sahabat Nabi Sufyan bin Uyaynah R.A. Beliau merupakan seorang sahabat yang mempunyai kecerdasan tajam, mempunyai penalaran dan pemikiran yang kuat dan lurus, sehingga beliau juga dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan setidaknya tujuh ribu hadis. Makam beliau berada di daerah Karaköy tepatnya di dalam Yeraltı Camii.

4. Abu Darda/Abu Derdag Al-Anshari (r.a.) أبو درداء الأنصاری

Pintu depan masuk kedalam makam Sahabat Abu Darda (r.a.)
Terletak tidak jauh dari kawasan Eyüp dan masjid nya Eyyüp Sultan Mosque, terdapat makam seorang sahabat Nabi yang memiliki nama kunyah Abu Darda atau juga Abu Derdag (r.a.). Beliau merupakan Sahabat Nabi yang pernah menjadi Qodhi (Hakim) muslim pertama di Syam. Nama asli beliau adalah Uwaymir bin Zayd bin Ka’is dan setelah perang badar beliau memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam Abu Darda’ (r.a.) memutuskan untuk berhenti berdagang agar dapat menghabiskan banyak waktunya bersama Nabi . Beliau termasuk para Sahabat yang hafal Qur’an dengan 4 Qiraat (Bacaan). Abu Darda wafat pada tahun 652 M diusia 72 tahun. Tentu terdapat ikhtilaf pendapat mengenai authentitas keberadaan makam sahabat ini, karena didapati adanya perbedaan tempat makam beliau yang ditemukan berada di Damaskus dan juga di Alexandria.

Makam Sahabat Abu Darda’ (r.a.), di Istanbul yang terletak di daerah Eyüp dan di Karacaahmet terdapat dua makam beliau. Diketahui bahwa beliau wafat pada tahun 652 H, artinya 17 tahun sebelum tahun penyerangan Istanbul (Konstantinopel) pertama kali yaitu tahun 669 H.

6. Makam Sahabat Abu Shaybah al-Khudri (r.a.)


Abu Shayba al-Khudri al-Ansari (r.a.), yang merupakan saudara angkat Nabi Muhammad SAW dan berusia sekitar 85-90 tahun selama kampanye, adalah salah satu sahabat yang gugur sebagai syahid di dalam tembok kota selama pengepungan. Dilaporkan dalam sumber bahwa makamnya, yang dibangun pada masa Mehmed II, era Penakluk setelah penaklukan kota di Pemakaman Tokludede di dalam tembok kota di lingkungan Ayvansaray, telah menjadi salah satu situs kunjungan yang sangat diminati oleh warga Istanbul.
Beliau adalah termasuk para Sahabat yang datang di masa-masa peaklukan Istanbul, dan makamnya dibangun oleh Fatih Sultan Mehmed, yang dapat ditemukan di Ayvansaray Istanbul.

7. Makam Sahabat Jabir bin Abdullah al-Anshari (r.a.)


Beliau merupakan keturunan Bani Hazraj, dan lahir di Madinah. Beliau bertemu Nabi ketika Perjanjian Aqobah yang kedua, dan beliau terhitung 19 kali ikut berperang bersama Nabi. Sebanyak 1540 Hadis diriwayatkan oleh beliau, sehingga beliau termasuk 5 orang Sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan Hadis. Dan setelah Nabi wafat, beliau menjabat sebagai Penasehat pada keempat Kekhalifahan setelahnya. Pada penaklukan Istanbul, diceritakan bahwa beliau ikut sebagai tentara pembawa bendera. Makam beliau berada di Ayvansaray, di dalam Masjid Atik Mustafa Paşa Camii.

Di daerah Ayvansaray di dalam Masjid Koca Mustafa Paşa terdapat makam Sahabat Jabir bin Abdullah, yang diketahui beliau wafat di Madinah pada tahun 698 H, dan menurut beberapa sumber berbeda, beliau di Makamkan di Jannatulbaki Makkah.

8. Makam Sahabat Abu Dzar al-Ghifari (r.a.)




Beliau termasuk keturunan Kabilah Ghifar yang waktu itu sering melakukan penjarahan, merampok di jalan dan menyembah berhala, akan tetapi setelah beliau memeluk Islam, di Madinah Munawwaroh beliau mendakwahkan Islam kepada saudara dan kerabat dekatnya di Ghifar. Pada perang Badar, Uhud, Hondak serta penaklukan Siprus, beliau turut bergabung. Dan karena penyakit yang diderita, beliau lama tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Makam beliau di Istanbul terletak di Ayvansaray, tepatnya di Karabaş Mahallesi, di samping Masjid Çınarlı Çeşme Mescidi.

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari diyakini ditemukan makamnya di Konstantinopel, padahal diketahui beliau wafat 19 tahun sebelum tahun penaklukan Istanbul yang pertama kali. Dari sumber yang dapat diterima beliau wafat di Madinah.

9. Makam Sahabat Kaab bin Malik (r.a.)





10. Makam Sahabat Muhammad al-Anshari (r.a.)

Beliau bersama Abu Ayyub al-Anshari bergabung dalam penaklukan Istanbul. Makamnya terletak di Ayvansaray tepatnya di Karabaş Mahallesi.

11. Makam Sahabat Hamdullah al-Anshari Ahmad al-Anshari (r.a.)






12. Makam Sahabat Abdurrahman Asy-Syami (r.a.)



13. Muslim bin Abdul Malik (r.a.)



Makam Sultan - Sultan, Syaikh dan Awliya di Istanbul:

1. Sultan Muhammad II Al-Fatih
Lokasi: Fatih Sultan Camii - https://maps.app.goo.gl/nQzoDSLGX8dkv3xq8




2. Sultan Mahmud II, Sultan  Abdul Hamid dan Sultan Sultan Abdul Aziz


3. Sultan Sulayman Al-Qanuni (The Magnificent)


4. Sultan Abdul Wadud



5. Syaikh Aziz Mahmud Hudayi 



6. Syaikh Yahya Effendi



Demikianlah sedikit informasi tentang makam para Sahabat Nabi yang berada di Istanbul, terlepas dari khilafiyah atau perbedaan pendapat tentang kebenaran dimakamkannya jasad para Sahabat Nabi pada kuburan tersebut, benarkah makam tersebut merupakan makam kubur, ataukah sekedar makam nisan untuk menghormati dan mengenang para Sahabat Nabi tersebut. Ziarah kubur diniatkan untuk dapat lebih menguatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allah, mengingatkan kita akan kematian yang senantisa membayangi kita.

إنِّي نهَيْتُكم عن زيارةِ القُبورِ فزوروها؛ فإنَّ فيها عِبرةً

Dari Abu Sa’id al-Hudlri, dari Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku (dulu) telah melarang kalian untuk mengunjungi kuburan, maka ziarah lah (sekarang). Sesungguhnya terdapat pelajaran di dalamnya”. (H.R Ahmad, warijaluhu rijalussahih - Dalam kitab Hafidz al-Haitsimi, Mujma’ Zawa’id wa Manba’ Fawa’id, Juz 3, Hal 84)

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat Rahmat, Ibrah dan InayahNya..Amin allahumma amin.


Rabu, 11 Januari 2023

Does Islam belong to Europe? Refleksi Terhadap Perkembangan Islam di Barat




18 Jumadil Akhir 1444 H

Kondisi Politik dan Sosial Masyarakat Muslim di Eropa

Berbicara Eropa, tentu kita mengenal perserikatan 27 negara di Eropa yang dikenal dengan nama UE (Uni Eropa). Dalam peraturan nya saat ini tidak disebutkan mengenai bagaimana hubungan antara negara dengan agama, tetapi lebih penetapan mengenai kebebasan beragama di suatu negara. Di negara-negara Eropa seperti Inggris Raya dan Yunani diterapkan sistem penetapan agama resmi. Disisi lain islam telah diakui sebagai suatu agama resmi di Austria yang tertuang pada keputusan yang didasarkan dalam konstitusi pada tahun 1912. 

Ada sebuah sistem di Eropa dimana suatu negara terpisahkan dari urusan agama, yang disebut secularism (sekulerisme). Ada juga sistem yang lebih ekstrem lagi yaitu laicsm (laisisme), yang contohnya digunakan oleh negara Prancis. Laisisme adalah bentuk sistem pemisahan yang sangat ketat antara negara dengan agama, dimana agama disini tidak boleh terlihat dan tidak memiliki tempat sekalipun di ruang publik.

Membahas tingkah laku Eropa dengan Islam yang sudah terbentuk melalui konflik berkepanjangan dengan kebencian akan Islam mulai dari abad pertengahan (middle ages) tentunya membuat wajah muslim di Eropa saat ini digambarkan sebagai masyarakat sosial yang negatif. 


https://www.trtworld.com/europe/european-muslims-seek-protective-laws-in-the-face-of-rising-hate-crimes-25488


Dari sini muncul lah pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya mendefiniskan identitas seseorang muslim? harus seperti apa kah seorang muslim di Eropa itu? orientasi ke islam nya atau ke Eropa nya?” Tentunya seseorang tidaklah harus melepas identitas keislaman nya di Eropa. Karena terlepas dari perbedaan budaya, agama maupun ras nya manusia bisa saling terus belajar dan saling menghargai satu sama lain.

Lalu pertanyaan berikutnya, “Bagaimana seseorang bisa di definisikan identitasnya sebagai seorang warga Eropa?” Apakah karena hal nya kristen dan yahudi yang terlalu Eropa sehingga membuat islam menjadi asing?
Padahal baik kristen maupun yahudi keduanya memiliki asal serta lahir dari luar wilayah Eropa. Oleh karena itu, pertanyaan apakah islam termasuk dalam Eropa masih menjadi perdebatan yang memiliki kaitan populis disini.

Pertemuan antara islam dengan Eropa tentunya tidak harus kita lihat hanya dari pertikaian perang nya saja, namun juga melalui pengaruh positiv dari muslim di Eropa terdahulu. Seperti di bidang pengetahuan keilmuwan, kesehatan hingga politik yang banyak membantu Eropa dari sejarahnya.

Istilah yang terkenal di Jerman seperti integration (integrasi) juga tidak memiliki definisi yang pasti. Di Jerman, integrasi umumnya disamakan dengan istilah asimilasi. Idealnya bagaimanapun itu integrasi harus didefinisikan dalam bentuk upaya manusia mempertahankan budaya, agama, dsb. tetapi tetap memberikan kontribusi kepada masyarakat serta berpartisipasi aktiv dalam politik dan sosial.

Di sisi lain umat muslim di Jerman kekurangan akan representative yang baik karena kurangnya otoritas keagamaan dalam negeri. Oleh karena itu, seorang muslim perlu juga terlibat dalam hal politik seperti mendirikan lembaga sosial dan pendidikan, mengikuti kegiatan akademik dan politis dll. Di tingkatan sosial juga masih terdapat kekurangan akan lembaga maupun pelayanan sosial seperti halnya penyelenggaraan kurban, zakat, aqiqah, penguburan jenazah dsb. 

Juga karena kurangnya ilmuwan muslim dan alim ulama di Jerman, umat muslim di Jerman seringkali pula harus merujuk terkait masalah hukum agama kepada ulama-ulama dari luar negara. Yang menjadi masalahnya di sini ialah para alim ulama dari negara luar tidak dapat menempatkan diri nya di Jerman, karena mereka tidak begitu akrab dan sulit untuk beradaptasi dengan sistem liberal dan kehidupan barat seperti di Jerman. Oleh karena itu, diperlukan nya para cendekiawan dan ilmuwan muslim yang lahir dan besar terintegrasikan secara baik di Jerman maupun Eropa.

Pandangan Masa Depan untuk Muslim di Eropa

Salah satu hal penting bagi masa depan umat muslim di Eropa ialah dengan bagaimana mengamalkan afirmasi positif sebagai warga Eropa. Umat ​​muslim harus mengenal budaya dan sejarah Eropa, serta tradisi keagamaan lainnya. Itulah sebabnya partisipasi umat islam dalam kehidupan sosial dan politik negara-negara Eropa sangatlah diperlukan. Muslim harus menyampaikan dengan yakin bahwa islam merupakan bagian dari Eropa baik secara historis di masa lalu, saat ini dan di masa yang akan mendatang.

Perlu juga ditekankan bahwasanya tidak ada satu pun agama yang berasal Eropa. Sehingga mayoritas muslim yang lahir dan juga besar di Eropa, bukanlah seorang imigran. Oleh karena itu, muslim dan islam adalah suatu bagian dari integral Eropa. Yang menjadi tantangan besar yang dihadapi oleh muslim di Eropa ialah berkembangnya diskriminasi dan islamofobia yang tersebar di berbagai penjuru Eropa, yang merupakan konsekuensi dari berkembangnya diskurs narasi politik.

Seorang jurnalis swiss yang berdarah asalkan mesir, Tariq Ramadan menyatakan bahwa kehidupan muslim di Eropa setidaknya memerlukan 7C, yang tak lain ialah:
  1. Confidence: Seorang muslim harus percaya diri sehingga bisa merepresentativkan Islam secara baik.
  2. Consistency: Seorang muslim harus konsisten dalam setiap bidang yang ia tekuni.
  3. Critical mind: Berfikir kritis terutama dengan diri nya sendiri
  4. Communication: Seorang muslim bisa berkomunikasi baik dengan sesama tanpa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.
  5. Contribution: Ikut aktif mengikuti kegiatan dan kelembagaan baik itu ditingkat politik maupun sosial.
  6. Citizenship: Memliki identitas kewarganegaraan yang jelas.
  7. Creativity: Penting nya memiliki kreativitas untuk mewujudkan visi serta inspirasi baru di dalam ragam perbedaan di masyarakat.

Seiring waktu bahwa diskurs tentang narasi negativ mengenai islam perlahan demi perlahan berubah dan saat ini alhamdulillah telah terdapati beragam sudut padang dan perspektiv yang baik terhadap islam di Jerman dan Eropa, dan insyaAllah harapan nya di waktu yang mendatang akan terus berkembang dan bertambahnya cahaya islam menyinari seantreo bumi Eropa melalui pengwujudan karakter muslim yang membawa perubahan dan pembaharuan disertai dengan akhlak baik sebagai cerminan agama Islam yang raḥmatan li l-ʿalamīn. Amīn Allahumma amīn.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Salam, 
Iqro

Kamis, 11 Februari 2021

Mentadabburi Sebuah Jembatan Peradaban dari Kacamata Barat


29 Jumadil Akhir 1442 H

Sebelum berbicara sejarah negara lain, marilah kita sedikit berbicara dan flashback sejenak mengenai sejarah di negeri kita tercinta. Di Indonesia ada suatu hal yang mungkin tidak kita sadari dan masih banyak pula orang melupakan tentang terputusnya riwayat keilmuwan di zaman dahulu yang tidak kita pelajari kembali di saat ini.