Jumat, 23 Desember 2022

Pengantar Wujud: Mengenal Eksistensi Allāh




Hati manusia layaknya perangkat bathin yang menjadi jalur komunikasi antara ruh dengan Sang Pencipta. Hati selalu menuntun kita berbuat baik, namun pikiran-pikiran serta nafsu manusia selalu menjadi hijab penghalang untuk menerima cahaya (nur) nya Allah. Hati umpama cermin yang menerima cahaya serta memantulkan nya dalam bentuk bias bayangan diri. Pikiran manusia layaknya kerikil, batu serta benda-benda dunia yang menghalangi pantulan cahaya terhadap cermin tersebut, sehingga yang terpantul ialah bayangan benda tersebut.

Tak banyak dari manusia di muka bumi ini pun bertanya-tanya dimana keberadaan Tuhan. bila benar manusia diciptakan, lalu dimanakah Sang Pencipta berada? Bukan kah Tuhan berada di langit? dekat dengan jantung nadi? dan sebagainya. Dari sini izinkan saya memetik jawaban indah dari sahabat Ali bin Abi Thalib R.A ketika mengenai pertanyaan dimana Allah berada.

:قَالَ سَيِّدِنا عَلِي بْن أَبِي طَالِب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

        أَيْنَ سُؤَال عَنِ المَكَان، وَكَانَ اللهُ وَلا مَكَان وَلاَ زَمَان، وَهُوَ الآن كَمَا كَانَ وقال أيضا: إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته

"Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A berkata: Kata "dimana" merupakan pertanyaan mengenai tempat. Dan Allah tidaklah bertempat dan tidak pula berada disuatu waktu (tidak terikat akan waktu). Dan Dia saat ini berada seperti dimana Dia berada". Dan ia juga berkata (dalam riwayat lain): "Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy dengan jelas sebagai (bentuk) kekuasaan-Nya, bukan sebagai suatu tempat untuk Dzat-Nya."

Hal penting disini adalah bahwa bentuk pertanyaan "dimana" akan selalu merujuk dan mengarah kaitan nya mengenai ruang maupun tempat. Sedangkan Allah sendiri tidaklah bertempat, karena eksistensi dan keberadaan-Nya sudah ada sebelum adanya tempat atau tercipta seluruh alam semesta ini. Dia tidak memiliki awal (al-qidām) dan tidaklah pula memiliki akhir (al-baqāʾ). Dzat Sang Pencipta tidaklah berkebutuhan akan waktu, ruang maupun tempat (qiyāmuhu bi-nafsihi). Tidak seperti manusia sebagai makhluk yang hakikatnya mereka hidup terikat dengan kebergantungan akan waktu, ruang dan tempat dimana mereka bereda. Sehingga setiap manusia pasti lah memiliki awal dan akhir. Begitupun sama dengan makhluk yang lain, karena segala sesuatu yang memiliki awal pastilah memiliki akhir, sebagaimana yang terterang dalam Al-Quran surat Ali-Imran: 185.

Dari sini kita akan tertuntun untuk mengenal lebih dalam sosok Sang Pencipta melalui sifat-Nya yaitu "al-wujud" (Eksistensi Allah). Maka perlu kita yakini bahwa Allah berada dimana Dia berada, dan kita sebagai ciptaan-Nya yang hidup dalam berjalan nya waktu dan zaman dengan membawa elemen-elemen serta material dunia yang menempel pada diri kita, tidak memungkinkan mampu mengetahui keberadaan-Nya sesungguhnya.

وَاِذَا سَاَلَـكَ عِبَادِىۡ عَنِّىۡ فَاِنِّىۡ قَرِيۡبٌؕ اُجِيۡبُ دَعۡوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ فَلۡيَسۡتَجِيۡبُوۡا لِىۡ وَلۡيُؤۡمِنُوۡا بِىۡ لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُوۡنَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku itu dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186) 

Allah sangatlah dekat dengan kita. Maka tak heran bila kita melihat seorang sufi dengan tingkatan serta maqamnya yang telah mencintai dan mengenal Sang Pencipta lebih jauh dari kita, akan sangatlah takut dia untuk berbohong, berdosa maupun berbuat maksiat sekecil apapun, karenanya dia mengerti bahwa keberadaan Allah berada sangatlah dekat dengan nya dan kita sebagai makhluk-Nya. Sangat dekat sampai rasionalitas kita sebagai manusia tidak mampu mencernanya. Dikutip juga dalam ayat lain mengenai keberadaan akan kedekatan Allah dengan manusia.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.." (QS. Qaf: 16) 

Sungguh Allah sangat dekat kepada manusia dari pada urat leher nya, yaitu urat yang mengalirkan darah yang terhubung kepada jantung, maka tiada yang tersembunyi bagi Allah sesuatu pun dari niat dan perbuatan manusia.

Makna kata (الوريد) yaitu pembuluh darah yang tersambung ke jantung. Yakni bahwa Allah lebih dekat kepada manusia dari pada pembuluh darahnya sendiri. Dengan nya Allah mengetahui apa yang disembunyikan dalam hati manusia. Hal ini tentunya menyerukan manusia untuk selalu muraqabah terhadap Sang Pencipta yang mengetahui isi hati dan batin manusia, sehingga manusia seharusnya merasa malu ketika Allah melihatnya melakukan perbuatan yang dilarang atau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.

Untuk mengenal Allah lebih dalam, maka janganlah hanya bersandarkan melalui akal pikiran saja, karena tentunya kita tidak akan mampu menemukan jawaban nya. Lengkapilah kekurangan pada akal kita dengan disertai dengan hati yang maʾrifat kepada-Nya. Karena nya akal merupakan perangkat bawaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk berfikir dan hati merupakan komponen ruh yang kaya akan khazanah kepercayaan, rasa dan cinta yang terkait dengan hal-hal diluar nalar yang tidak mampu menyentuh rasionalitas kita sebagai manusia, sehingga dengan nya mampu menjembatani apa yang menjadi keterbatasan pada komponen akal manusia. Baik unsur akal maupun hati kedua nya harus seimbang dan saling melengkapi dalam diri manusa sehingga akan terkoneksi suatu jalan dari dua komponen tersebut dengan komponen-komponen alam beserta mekanisme nya yang saling terhubung.

Wa minaAllahi tawfiq.
Osnabrück, 29 Jumadil awal 1444H

1 komentar:

  1. Mantap mas iqro luar biasa dah bisa buat tulisan tetap semangat lanjutkan mas iqro mudah mudahan Allah SWT selalu menjaga dan membimbing Nya Amiin ya Rabbal Alamin

    BalasHapus