Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Mei 2025

Nilai Tengah dalam Keberagaman: Mendefinisikan Term Wasathiyyah Sebagai Konsep Islami akan Moderasi Keberagaman Beragama

  

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah


Negara kita Indonesia begitu kaya akan perbedaan dan keberagaman, tentunya merupakan bagian dari kehendak-Nya untuk menjadikan keberagaman di dunia ini sebagai upaya bentuk pengenalan manusia terhadap satu sama lain nya (li-yataʿarrafū, QS. 49:13). Oleh karena itu, penyetaraan semua identitas dan perbedaan manusia memerlukan jalan tengah yang didasarkan pada nilai toleransi dan moderasi. 

Moderasi saat ini menjadi thema yang sangat hangat ditengah berbagai bentuk konflik dunia, utamanya pada bagian konflik keagamaan. Maka diperlukan nya pada setiap individu pemahaman mengenai nilai moderasi beragama yang mana dalam konteks ini bukan hanya merupakan sikap teologis, tetapi juga sebagai strategi kultural yang sangat penting untuk menjaga persatuan nasional dan keberagaman masyarakat dalam konteks kedamaian dan kebersamaan dalam keberagaman agama.

Dalam ilmu tasawuf, syariat tidak dipahami sebagai tujuan akhir yang harus diikuti secara dogmatis, melainkan sebagai bentuk  jalan seseorang menuju Tuhan yang Maha Esa. Bagi para sufi orang-orang yang menempuh jalan keagamaan atau spiritual yang berbeda secara cara dan praktiknya tidak dipandang sebagai musuh atau penyimpang, melainkan sebagai sesama pejalan dan pengembara di jalan menuju Tuhan. Kesadaran akan tujuan transendental yang sama ini menumbuhkan pemahaman bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam praktik atau keyakinan agama, hal tersebut tidak boleh mengaburkan kesamaan yang mendasar di antara semua sebagai para pencari Tuhan. 

Konsep ini juga tercerminkan pada konsep klasik pluralisme Indonesia yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 Masehi yang berbunyi: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang secara maknawi berarti: “Bahwa agama-agama, meskipun tampak berbeda dalam bentuk atau praktiknya, pada dasarnya adalah satu atau menuju pada satu tujuan ilahi".

Pluralitas atau keberagaman agama merupakan bentuk sunnatullah dan bagian dari tatanan ilahi. Hal ini terlihat dalam surat al-Maidah ayat 48 berikut:

Untuk masing-masing dari kalian, Kami telah tetapkan arah dan jalan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat saja. Tetapi Dia (Allah) hendak menguji kalian terhadap apa yang telah Dia berikan kepada kalian. Maka berlombalah dalam kebaikan.” 

Ayat ini dapat dipahami sebagai pernyataan yang bersifat kontrafaktual, yang menunjukkan bahwa umat manusia tidak hidup sebagai satu komunitas (agama) yang seragam karena Allah secara sadar tidak menghendaki demikian. Maka, perbedaan dan keberagaman agama dan keyakinan tidak dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai realitas yang justru dikehendaki oleh Tuhan.

Salah satu aspek teologis yang penting dalam mendorong thema keberagaman atau yang disebut pluralisme adalah pemahamannya terhadap konsep Islam Wasathiyyah (Islam moderat). Konsep ini tentunya semakin diangkat ketika masa kepemimpinan seorang presiden Indonesia sekaligus ulama besar NU bernama Abdurrahman Wahid (wafat 2009) atau juga yang biasa disapa Gusdur. Sosok Gusdur menaruh perhatian besar terhadap nilai nilai inklusivisme dan pemikirannya mengarah pada sikap pluralis yang mengupayakan hidup berdampingan secara damai di antara berbagai komunitas agama tanpa memandang rendah suatu kelompok yang menjadi minoritas di Indonesia.

Konsep moderasi islam ini secara perkembangan juga dapat dipahami dalam konteks kegelisahan dunia Islam atas munculnya dua pola arus atau gerakan yang saling bertentangan yang mengatasnamakan Islam. Ulama Islam modern menyadari bahaya dari pertemuan dua arus pemikiran yang ekstrem yaitu di satu sisi mereka yang berkelompok kanan ekstrem (tafrīṭ), dan di sisi lain mereka yang berkelompok kiri ekstrem (ifrāṭ). Polarisasi ini menjadi ancaman serius bagi peradaban Islam serta kehidupan umat Muslim. Di antara dua kutub ekstrem tersebut terdapat posisi tengah (tawassuṭ), yang mewakili sikap seimbang—berada di antara dua pandangan atau praktik yang saling berlawanan tanpa jatuh ke dalam ekstremisme.

Istilah wasathiyyah secara etimologis berasal dari kata Arab wusthā dan wasātha, yang merujuk pada arti "keadilan", "pilihan terbaik", atau "posisi tengah". Landasan teologis pada istilah ini terdapat juga dalam Al-Qur'an (Al-Baqarah ayat 143): "Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat pertengahan (ummatan wasaṭan)." 

Imam al-Qurṭubī (wafat 1273) dalam kitabnya Jami li-Ahkamil Quran menafsirkan istilah ummatan wasaṭan kedalam dua makna. Pertama, ia membandingkan posisi umat Islam dengan posisi geografis Ka'bah, yang dianggap sebagai pusat bumi. Kedua, ia memandang umat Islam sebagai komunitas yang menempati posisi tengah antara para nabi dan umat-umat lain — lebih rendah daripada para nabi, namun lebih tinggi dari umat lainnya. Selain itu, posisi tengah ini juga dapat dimaknai dalam pengertian teologis dan etis. 

Imam al-Qurṭubī juga menafsirkan kata wasāṭan sebagai keadilan (ʿadl), karena memiliki makna “segala sesuatu yang terbaik berada di tengah”, layaknya ketika seorang bingung dengan dua pilihan yang meyulitkan, maka seseorang akan mengatakan: "kita ambil jalan tengahnya!" yang berarti jalan yang terbaik dari kedua pilihan tersebut. 

Imam Muḥammad ʿAbd ar-Raḥman As-Saḫāwī (wafat 1497) juga memaknai makna “tengah” dalam karyanya al-Maqāṣid al-Ḥasana sebagai berikut: 

"Segala sesuatu memiliki dua ujung dan satu titik tengah. Jika kamu memegang salah satu ujungnya, maka ujung yang lain akan kehilangan keseimbangan. Namun jika kamu memegang bagian tengahnya, kedua ujung akan tetap seimbang. Maka, berpeganglah pada bagian tengah dari segala sesuatu."

Dalam konteks yang sama, Imām al-Ghazālī (wafat 1111) dalam karyanya Iḥyāʾ ʿulūmid-dīn menjelaskan konsep wasathiyyah melalui perilaku para sahabat Nabi. Ia mengatakan:

"Para sahabat tidak bertindak dalam urusan dunia untuk kepentingan diri sendiri, melainkan demi agama. Mereka tidak sepenuhnya menerima dunia, tetapi juga tidak sepenuhnya menolaknya. Dengan demikian, mereka tidak ekstrem dalam penolakan maupun penerimaan mereka, melainkan mengambil jalan tengah yang seimbang — suatu sikap yang mencerminkan keadilan dan berada di antara dua ekstrem. Dan inilah sikap yang paling dicintai oleh Allah." ( Al-Ġazālī, dalam kitab Iḥyāʾ ʿUlūmiddīn)

Saat ini, konsep waṣaṭiyya dalam pengembangannya yang modern seringkali disetarakan dengan istilah “moderat.” Istilah ini secara etimologis berasal dari bahasa Inggris moderation, yang berarti pengendalian diri dan menghindari perilaku berlebihan atau ekstrem. Dengan demikian, konsep ini menekankan karakteristik umum dari Islam: menghindari segala bentuk ekstremisme, seperti ġuluww (berlebihan secara umum), tanatthuʿ (berlebihan dalam beragama), dan tasydīd (kekakuan atau ketegasan yang berlebihan). Dalam konteks ini pula, istilah moderator dalam bahasa Inggris sering digunakan untuk merujuk pada peran sebagai penengah atau pendamai yang menyeimbangkan diantara posisi-posisi yang berbeda.

Hubungan antara Islam moderat dan pluralisme (keberagaman) adalah sebuah konsep yang dikembangkan untuk mendorong rasa toleransi dan harmoni dalam masyarakat. Pengakuan terhadap keberagaman dan perbedaan dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap toleran dalam diri manusia sekaligus memperdalam rasa hormat terhadap keragaman dalam masyarakat. Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society (MMS) Indonesia, mendefinisikan Islam moderat melalui beberapa ciri utama:

  • Umat Islam yang moderat tetap berpegang teguh pada keilmuwan tradisi klasik Islam, namun juga bersikap terbuka dan kritis terhadap perkembangan zaman modern.

  • Umat Islam yang moderat menerima aspek-aspek positif dari perkembangan dunia modern selama masih sejalan dan selaras dengan nilai-nilai tradisional Islam.

  • Islam moderat juga ditandai dengan tingkat toleransi yang tinggi dan seimbang terhadap agama-agama lain maupun terhadap aliran-aliran dalam Islam sendiri, yang mendorong terwujudnya dialog antar agama dan antar aliran.

Secara keseluruhan, penjelasan Misrawi menunjukkan bahwa Islam moderat berusaha membangun hubungan yang harmonis antara praktik keagamaan tradisional dan tantangan dunia modern. Umat Islam yang moderat juga aktif terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung kesetaraan sosial dan kemaslahatan umum. Melalui keterbukaan, toleransi, dan keterlibatan sosial, berkembanglah pemahaman Islam yang tidak hanya menjaga akar spiritualnya, tetapi juga berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan damai. 

Dengan demikian, bentuk islam moderat memberikan kontribusi penting dalam membangun kehidupan bersama yang pluralis dan inklusif di dunia yang semakin mengglobal dan dinamis ini.

Wa minaAllahi tawfiq.

 Osnabrück, 13 Dzulqoʿdah 1446H

Minggu, 09 April 2023

Mengenal Ulama Sunni di Jerman, Syaikh Mahmud Kellner

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah


Ditengah hangatnya permasalahan aktual di Jerman mengenai pluralisme, radikalisme, islamofobia yang membuat banyaknya generasi muslim milenial yang keluar dari nilai-nilai keislaman. Terlebih sulitnya mencari ulama ahlus sunnah wal jamaah yang bersanad dan mempunyai kedalaman ilmu serta mampu berdakwah kepada masyarakat dengan sistem pendidikan yang mampu berintegrasi dengan Jerman. 

Pada rubrik kali ini izinkan saya mengenalkan kehadiran salah seorang yang menjawab berbagai tantangan yang disebutkan melalui hadirnya seorang promotor, teolog, guru dan ulama yang masyhur di Jerman yang bernamakan Syekh Mahmud Kellner atau dengan nama lengkapnya Dr. Martin Mahmud Kellner. Beliau merupakan salah satu sosok ulama sunni di Jerman yang terlihat sederhana namun memiliki kemampuan berfikir yang cerdas dan kritis serta wawasan keilmuwan islam nya yang sangatlah luas dan bersanad mutthasil dengan para guru masyayihknya dari timur tengah.

Beliau yang lahir pada tahun 1971 di Bad Ischl, Austria, ini berkegiatan aktif mengajar sebagai profesor di fakultas Institute of Islamic Theology (IIT) di Osnabrück University. Ulama yang biasa disapa Syaikh Mahmud ini terlahir sebagai non-muslim dengan beragama kan kristen yang dibawa oleh kedua orang tuanya. Hidayah pun datang kala beliau dalam masa pencaharian nya akan Islam saat menjadi mahasiswa di Universitas Vienna. Tepat pada musim gugur tahun 1994 beliau mengikrarkan dua kalimat syahadat. Selang beberapa tahun setelahnya beliau menikahi seorang muslimah berdarah asalkan Tunisia yang bernama Ustadzah Mariem Dhouib. Bersama istrinya beliau memulai perjalanan menyelami samudera keilmuwan islam dengan memulai meninggalkan kota kelahiran nya di Austria untuk pergi hijrah ke Damaskus, Suriah.

Selasa, 21 Februari 2023

Ibrah Terhadap Adanya Musibah Bencana Alam

  

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Ibrah Terhadap Adanya Musibah Bencana Alam 

Tepat pada akhir-akhir ini (Februari 2023) kita mendapati berita duka mendalam mengenai bencana alam yaitu gempa yang menimpa kepada saudara sesama muslim kita di Turki dan Suriah. Disebut juga sebagai gempa terbesar yang dialami Turki dari puluhan tahun terakhir sejak 1950 dengan kekuatan 7.8 skala richter yang banyak menewaskan ribuan nyawa manusia. 

Adanya gempa ini tentunya menaruh banyak perhatian dari kalangan muslim dan non-muslim diseluruh dunia dan salah satunya Jerman yang memiliki hubungan relasi dan kedekatan yang kuat diantara dua negara ini, melihat banyak nya penduduk dan keturunan Turki yang hidup dan tinggal menetap di Jerman. Sehingga banyak ditemukan di Jerman berbagai aksi solidaritas dari lembaga-lembaga islam dan masjid-masjid untuk menyumbangkan donasi baik dalam bentuk finansial maupun kebutuhan berupa barang-barang seperti makanan, obat-obatan, pakaian dsb.

Dalam konteks ini lalu bagaimanakah sikap seorang muslim yang baik dalam menanggapi musibah berupa bencana alam yang diberikan Allah ini

Syekh Mahmud Kellner menyampaikan setidaknya terdapat 3 point hikmah yang dapat kita petik sebagai ibrah atau pelajaran akan terjadinya musibah bencana alam:

1. Seorang muslim yang tidak terdampak bencana secara langsung, sebenarnya pun juga ikut terdampak secara tidak langsung, karena betapa pentingnya jiwa kemanusiaan, sehingga menuntun dan mengharuskan nya mereka untuk saling menolong dan membantu sesama saudara muslim yang membutuhkan pertolongan kita. Bantuan tentunya tidak harus terjun menjadi sukarelawan disana, dengan menyedekahkan sebagian dari rezeki kita kepada mereka itu sudah bagian dari pertolongan kita yang dengan nya menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas kita kepada mereka yang ditimpa musibah dan bencana.

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا 

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan kepada seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR. at-Thabrani) 

2. Point yang kedua ialah bahwa Allah ingin menunjukkan kebesaran serta tanda tanda -Nya melalui bentuk takhwif (ancaman atau membuat ketakutan). Adanya musibah yang terjadi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa suatu musibah yang terjadi itu karena perilaku buruk manusia yang tedampak atau karena hukuman yang diperuntukkan kepada mereka. Namun adanya musibah ini menjadikan nya sebagai ujian kepada kita untuk tidak menjadikan dunia yang kita singgahi ini bukan sebagai mata pencaharian kita, juga bukan sebagai tujuan akhir kita. 

Bagi seorang muslim yang sejati hendaknya menaruh dunia ini pada genggaman tangan nya, bukan pada lubuk hatinya. Baik orang yang dalam kondisi ekonomi diatas maupun yang dibawah, mereka memiliki kesamaan dalam menghadapi ujian, namun berdasarkan dengan kondisi nya yang berbeda. Yang berada diatas dengan diberikan nya rezeki dan nikmat yang berlebih, hendaknya untuk bersyukur dan menggunakan kelebihan nya itu untuk membantu yang dibawah dan jangan sampai menjadikan nikmat yang didapatnya menjadikan nya takabbur. 

Yang berada dibawah pun sama hendaknya untuk tetap bersyukur, bersyukur dengan segala kondisi yang didapatinya dan juga jangan sampai kondisi yang baginya kurang ini malah menumbuhkan penyakit hati seperti dengki, iri hati sehingga menuntun nya untuk berbuat berbagai hal buruk demi bisa merubah kondisinya menjadi lebih baik.

3. Hikmah yang ketiga ialah dengan adanya musibah bencana ini membuat kita tersadar bahwa begitu cepatnya dunia ini berubah, dapat begitu cepatnya Allah merubah dunia ini. Dalam hitungan detik suatu bangunan yang kokoh bisa hancur dan roboh seketika atas kehendak-Nya. Kota yang begitu asri nan hijau begitu cepat menjadi berantakkan porak-poranda dengan tumpukkan keping-kepingan gedung dan rumah yang hancur dari gempa. Kita harus sadar bahwa Kuasa Allah dapat merubah apapun yang dimiliki-Nya atas kehendak-Nya.

Muslim yang baik akan selalu menyiapkan dirinya akan kematian nya disetiap waktu, karena ia sadar dan merasakan bahwa dirinya dapat dipanggil oleh Sang Kuasa kapan pun dan dimanapun ia berada.

Dalam menyikapi bergerak cepat nya zaman atau waktu, maka kita perlu merefleksikan diri dan melek keadaan dalam menghadapi pergerakkan waktu di dunia ini yang begitu cepat. 

Dalam konteks ini Syekh Mahmud Kellner menjelaskan ada dua jalan bagaimana seseorang dalam menyikapi pergerakkan waktu, yaitu

1. Secara Subjektif:  yaitu seseorang yang tahu akan eksistensi waktu, namun secara tidak sadar tidak merasakan waktu yang berjalan. Ia terkesan lebih suka menunda-nunda waktunya, menggunakan nya dengan hal yang tidak baik dan juga yang tidak bermanfaat baginya, dan cenderung ia akan mendapati penyesalan di akhir karena ia telah melewatkan waktu nya dengan sia-sia. 

Ciri-ciri orang yang memandang waktu secara subjektif ialah mereka yang sering mengatakan "gue ga punya waktu", "maaf ga ada waktu" dsb. Hakikatnya setiap manusia itu memiliki waktu, tidak ada satupun yang tidak memiliki waktu. Pernyataan yang benar ialah "apa yang kalian gunakan dalam waktu kalian? untuk apa waktu kalian digunakan?" karena nyatanya kekurangan pada waktu kalian, kalian justru pakai untuk hal-hal lain seperti rebahan, main game, main hp, tidur dll.

2. Secara Objektif: ialah orang yang melek dan sadar akan eksistensi dan berjalan nya waktu. Ia sadar bahwa waktu bergerak begitu cepat dan kehidupan nya bisa saja meninggalkan nya kapan saja atas kehendak-Nya. Maka ia akan menjaga waktu nya untuk terus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi nya dan tidak menyia-nyiakan segala bentuk kesempatan dan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sampai detik ini. Maka marilah kita tersadar untuk bisa menghargai waktu atas pemberian-Nya kepada kita. 

Sebagai penutup saya ingin mengutip satu qaul yang memiliki makna tersirat dari Imam Syafii melalui pernyataan singkat nya mengenai waktu:

الوقت كالسيف ان لم تقطعه قطعك
"Waktu itu ibaratkan pedang, jika kamu tidak bisa memotong nya, maka ia yang akan memotongmu"

Wa minaAllahi tawfiq.

Osnabrück, 01 Syaʿban 1444H

Rabu, 11 Januari 2023

Does Islam belong to Europe? Refleksi Terhadap Perkembangan Islam di Barat




18 Jumadil Akhir 1444 H

Kondisi Politik dan Sosial Masyarakat Muslim di Eropa

Berbicara Eropa, tentu kita mengenal perserikatan 27 negara di Eropa yang dikenal dengan nama UE (Uni Eropa). Dalam peraturan nya saat ini tidak disebutkan mengenai bagaimana hubungan antara negara dengan agama, tetapi lebih penetapan mengenai kebebasan beragama di suatu negara. Di negara-negara Eropa seperti Inggris Raya dan Yunani diterapkan sistem penetapan agama resmi. Disisi lain islam telah diakui sebagai suatu agama resmi di Austria yang tertuang pada keputusan yang didasarkan dalam konstitusi pada tahun 1912. 

Ada sebuah sistem di Eropa dimana suatu negara terpisahkan dari urusan agama, yang disebut secularism (sekulerisme). Ada juga sistem yang lebih ekstrem lagi yaitu laicsm (laisisme), yang contohnya digunakan oleh negara Prancis. Laisisme adalah bentuk sistem pemisahan yang sangat ketat antara negara dengan agama, dimana agama disini tidak boleh terlihat dan tidak memiliki tempat sekalipun di ruang publik.

Membahas tingkah laku Eropa dengan Islam yang sudah terbentuk melalui konflik berkepanjangan dengan kebencian akan Islam mulai dari abad pertengahan (middle ages) tentunya membuat wajah muslim di Eropa saat ini digambarkan sebagai masyarakat sosial yang negatif. 


https://www.trtworld.com/europe/european-muslims-seek-protective-laws-in-the-face-of-rising-hate-crimes-25488


Dari sini muncul lah pertanyaan, “Bagaimana sebenarnya mendefiniskan identitas seseorang muslim? harus seperti apa kah seorang muslim di Eropa itu? orientasi ke islam nya atau ke Eropa nya?” Tentunya seseorang tidaklah harus melepas identitas keislaman nya di Eropa. Karena terlepas dari perbedaan budaya, agama maupun ras nya manusia bisa saling terus belajar dan saling menghargai satu sama lain.

Lalu pertanyaan berikutnya, “Bagaimana seseorang bisa di definisikan identitasnya sebagai seorang warga Eropa?” Apakah karena hal nya kristen dan yahudi yang terlalu Eropa sehingga membuat islam menjadi asing?
Padahal baik kristen maupun yahudi keduanya memiliki asal serta lahir dari luar wilayah Eropa. Oleh karena itu, pertanyaan apakah islam termasuk dalam Eropa masih menjadi perdebatan yang memiliki kaitan populis disini.

Pertemuan antara islam dengan Eropa tentunya tidak harus kita lihat hanya dari pertikaian perang nya saja, namun juga melalui pengaruh positiv dari muslim di Eropa terdahulu. Seperti di bidang pengetahuan keilmuwan, kesehatan hingga politik yang banyak membantu Eropa dari sejarahnya.

Istilah yang terkenal di Jerman seperti integration (integrasi) juga tidak memiliki definisi yang pasti. Di Jerman, integrasi umumnya disamakan dengan istilah asimilasi. Idealnya bagaimanapun itu integrasi harus didefinisikan dalam bentuk upaya manusia mempertahankan budaya, agama, dsb. tetapi tetap memberikan kontribusi kepada masyarakat serta berpartisipasi aktiv dalam politik dan sosial.

Di sisi lain umat muslim di Jerman kekurangan akan representative yang baik karena kurangnya otoritas keagamaan dalam negeri. Oleh karena itu, seorang muslim perlu juga terlibat dalam hal politik seperti mendirikan lembaga sosial dan pendidikan, mengikuti kegiatan akademik dan politis dll. Di tingkatan sosial juga masih terdapat kekurangan akan lembaga maupun pelayanan sosial seperti halnya penyelenggaraan kurban, zakat, aqiqah, penguburan jenazah dsb. 

Juga karena kurangnya ilmuwan muslim dan alim ulama di Jerman, umat muslim di Jerman seringkali pula harus merujuk terkait masalah hukum agama kepada ulama-ulama dari luar negara. Yang menjadi masalahnya di sini ialah para alim ulama dari negara luar tidak dapat menempatkan diri nya di Jerman, karena mereka tidak begitu akrab dan sulit untuk beradaptasi dengan sistem liberal dan kehidupan barat seperti di Jerman. Oleh karena itu, diperlukan nya para cendekiawan dan ilmuwan muslim yang lahir dan besar terintegrasikan secara baik di Jerman maupun Eropa.

Pandangan Masa Depan untuk Muslim di Eropa

Salah satu hal penting bagi masa depan umat muslim di Eropa ialah dengan bagaimana mengamalkan afirmasi positif sebagai warga Eropa. Umat ​​muslim harus mengenal budaya dan sejarah Eropa, serta tradisi keagamaan lainnya. Itulah sebabnya partisipasi umat islam dalam kehidupan sosial dan politik negara-negara Eropa sangatlah diperlukan. Muslim harus menyampaikan dengan yakin bahwa islam merupakan bagian dari Eropa baik secara historis di masa lalu, saat ini dan di masa yang akan mendatang.

Perlu juga ditekankan bahwasanya tidak ada satu pun agama yang berasal Eropa. Sehingga mayoritas muslim yang lahir dan juga besar di Eropa, bukanlah seorang imigran. Oleh karena itu, muslim dan islam adalah suatu bagian dari integral Eropa. Yang menjadi tantangan besar yang dihadapi oleh muslim di Eropa ialah berkembangnya diskriminasi dan islamofobia yang tersebar di berbagai penjuru Eropa, yang merupakan konsekuensi dari berkembangnya diskurs narasi politik.

Seorang jurnalis swiss yang berdarah asalkan mesir, Tariq Ramadan menyatakan bahwa kehidupan muslim di Eropa setidaknya memerlukan 7C, yang tak lain ialah:
  1. Confidence: Seorang muslim harus percaya diri sehingga bisa merepresentativkan Islam secara baik.
  2. Consistency: Seorang muslim harus konsisten dalam setiap bidang yang ia tekuni.
  3. Critical mind: Berfikir kritis terutama dengan diri nya sendiri
  4. Communication: Seorang muslim bisa berkomunikasi baik dengan sesama tanpa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.
  5. Contribution: Ikut aktif mengikuti kegiatan dan kelembagaan baik itu ditingkat politik maupun sosial.
  6. Citizenship: Memliki identitas kewarganegaraan yang jelas.
  7. Creativity: Penting nya memiliki kreativitas untuk mewujudkan visi serta inspirasi baru di dalam ragam perbedaan di masyarakat.

Seiring waktu bahwa diskurs tentang narasi negativ mengenai islam perlahan demi perlahan berubah dan saat ini alhamdulillah telah terdapati beragam sudut padang dan perspektiv yang baik terhadap islam di Jerman dan Eropa, dan insyaAllah harapan nya di waktu yang mendatang akan terus berkembang dan bertambahnya cahaya islam menyinari seantreo bumi Eropa melalui pengwujudan karakter muslim yang membawa perubahan dan pembaharuan disertai dengan akhlak baik sebagai cerminan agama Islam yang raḥmatan li l-ʿalamīn. Amīn Allahumma amīn.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Salam, 
Iqro

Sabtu, 05 November 2022

Secercah Cahaya Islam di Perusahaan Besar Automobile Jerman


10 Rabiul Akhir 1443 H

Bagi orang Indonesia tentu nama seperti Iqro merupakan hal yang mudah untuk diucapkan dan diingat, tapi tidak bagi kebanyakan orang Jerman. Nama ini asing didengar dan sulit untuk dilafalkan bagi mulut orang Jerman kebanyakan. Maka tak banyak dari mereka yang lebih nyaman untuk memanggil dengan nama depanku yaitu "Muhammad". Tentu nama ini sangatlah awam dan banyak didapati oleh nama seseorang yang identik dengan muslim dan agama Islam. 

Meskipun begitu alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ku mengalami bentuk rasisme ataupun diskriminasi, justru sebaliknya aku mendapatkan keistimewaan, kehangatan dan sambutan baik bagi sesama muslim baik itu yang berasal dari Arab, Turki, Mesir dll yang baru ku kenal di Jerman. Pengalaman itu akan ku ceritakan melalui kisah bekerjaku di suatu perusahaan mobil ternama di bawah ini: 

Ich bin Muhammad!

Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang cerah menyambut hari pertamaku untuk memulai bekerja di perusahaan industri mobil yang sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk bisa bekerja di perusahaan ini sebelumnya. 

Hari senin itu aku melihat jadwal shift yang kudapat ialah shift siang yang mana karena pekerjaanku fulltime, menandakan bahwa kerja harianku akan tuntas sampe malam hari yaitu jam 10 malam. Lantas apa yang ada dikepalaku pertama kali ialah, 

"Bagaimana aku harus solat? sedangkan untuk menjamak saja di waktu ku berangkat jam 12 itu belum masuk waktu dzuhur, gimana untuk sholat ashar, maghrib hingga isya?" 

Masa iya aku harus mengqadha sholat diakhir dan melaksanakan 4 kali sholat di satu waktu. Karena pikirku ketika sudah berada di perusahaan tsb pasti sibuk kerja bongkar pasang produksi mobil dan pasti sulit untuk menemukan tempat untuk sholat. Tapi aku tetap berpositif thinking nantinya bisa curi-curi waktu buat sholat selagi istirahat ditempat yang sepi.

Seragam kerja beserta ID card yang diberikan untuk bekerja saat itu.

Pukul 12 lebih 15 aku mulai beranjak berangkat keluar dari kediaman rumah menuju ke pabrik mobil tersebut. Beruntung karena rumah yang kutinggali sementara ini terletak tidak terlalu jauh dari tempat kerja, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki saja yang memakan waktu 20 menitan.

Sampai pada di perusahaan Daimler yang berluaskan seperti kompleks perumahan elit dengan gedung-gedung panjang seperti pabrik produksi pada umumnya.

Berjalan aku menyusuri ujung2 gedung untuk mengikuti arahan dari Google Maps ke tempat lokasi Treffpunkt (Meeting Point) bersama para pekerja lainnya yang baru memulai kerja nya dihari tersebut sama sepertiku.

Setelah sampai di Treffpunkt yang berlokasikan di depan salah satu kompleks gedung Daimler, terlihat sudah ada beberapa pekerja yang juga sudah menunggu hingga seiring berjalan waktu terus bertambah banyak datang selagi menunggu informasi atau kabar berkaitan pembagian atau penempatan kerja dihari pertama ini.

Hingga beberapa lama menunggu, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak dengan secarik kertas dibawanya.

"Ist da jemand hier mit dem Vornamen Muhammad?" (apakah disini ada yang bernama depankan Muhammad?) Sontak suara bapak-bapak yang datang menghampiri kerumunan para pekerja baru disitu termasuk aku.

"Ja das bin ich, Muhammad" ("Ya, itu aku, Muhammad") jawabku selagi mengancungkan tangan menjawab pertanyaannya. Aku berpikir melihat temen-temen pekerja disini yang berwajahkan bule-bule, adapun berwajahkan asing itupun dari negara jauh lain seperti afrika. Jadi dengan percaya diri aku yakin Muhammad yang dimaksud itu tertuju untukku.

"Komm doch bitte mal kurz" (Tolong kesini bentar) jawabnya,
Sambil menunjukkan identitas diri ku ia menanyakan apakah benar bahwa yang dimaksud adalah Muhammad yang dituju, dan benar semua sesuai data diriku. 

"Ja, das sind alle hier richtig!" ( ya, semua datanya benar) jawabku,

"OK dann kommst du jetzt bei mir mit" (Oke, kalau gitu kamu ikut aku!) kata bapak tersebut,
Dengan perasaan heran dan bingung "kenapa aku sendiri yang dipanggilnya?", akhirnya akupun terpisah dengan rombongan para pekerja baru lainnya dan aku pun mulai bertanya-tanya.

"Warum nimmst du nur mich und lassen die andere da noch warten?" (kenapa kamu hanya mengambil aku dan meninggalkan pekerja baru yang lain menunggu disana?) tanyaku kepada sang bapak.

"Weil nur du einfach ausgewählt wurdest" (karena hanya kamu sendiri yang terpilih)
Heran dan sedikit bingung tapi aku berusaha untuk tidak banyak bertanya dahulu dan tetap mengikuti proses awal untuk memulai bekerja disini.

Bapak itu sedikit menjelaskan jalan masuk kedalam departemen tempat dimana aku akan bekerja dan mengenalkan tempat-tempat disekitar.

"Hier ist der Pausenraum, da sollst du jetzt einfach nur warten bis der Leiter zu dir kommt. Das kann vielleicht bis halbe Stunde dauern. Geh doch mal drin und warte" (Disini ialah ruang istirahatnya, kamu sekarang tunggu didalam sampai bos nanti datengin kamu, kurang lebih sampai setengah jam lagi) 

Singkat kata dari sang bapak menyuruhku untuk menunggu diruang istirahat tersebut hingga tibalah bos setempat datang.

"Du muss Muhammad sein, oder?" (Kamu pasti Muhammad kan?) tanya dia,

"Ja richtig, Ich bin´s" (Ja betul itu aku)

Disaat itu terjadi lah dialog kecil diriku dengan bos. Bosku yang tampak dari wajahnya seperti blasteran arab dan eropa kala itu memegang kontrak kerjaku yang akan ku tanda tangani beserta form dan CV. Dalam dialog itu pun beliau mengatakan bahwasanya beliau tertarik dengan negara Indonesia dan tak diduga beliau melemparkan satu pertanyaan yang membuatku harus bercerita panjang. Ya, beliau bertanya:

"Wie hatte sich der Islam in deinem Heimatland Indonesien verbreitet?" (Bagaimana agama Islam bisa tersebar di negara asalmu Indonesia?). 
Dari pertanyaan ini serentak tersadar dari hati kecilku bahwa beliau ternyata seorang muslim. Beliau pun mulai perlahan mengenalkan dirinya yang biasa disapa Ismail. Beliau mengatakan bahwa dibawah kepemimpinan dan jabatan nya saat itu, beliau menarik banyak muslim yang telah mendaftar kerja di Daimler untuk masuk di departemen nya. Yang mana kebetulan disitu aku termasuk menjadi pilihan nya beliau. Beliau menjelaskan dari ratusan applicant yang terqualifikasi masuk, beliau sesekali memperhatikan nama-nama yang identik dengan muslim, sehingga karenanya Muhammad ada dalam namaku, beliau akhirnya mengambil aku masuk ke departemen nya sebagai jawaban kenapa hanya aku yang terpanggil ke departemen nya sendiri. 

"Wah alhamdulillah" ucapan rasa syukur dan beruntung dalam kecil hatiku kala mendengar apa yang beliau sampaikan. Di hari pertama kerja beliau mengajak aku berkeliling, dan saat itu pula beliau menunjukkan suatu tempat yang mana tidak untuk diperlihatkan oleh pekerja umumnya, yaitu Musholla. Iya, ruang beribadah untuk muslim agar tentunya bisa melaksanakan shalat. Aku pun terkagum kagum dan sangat terasa mind-blowing sekali mendapat apa yang aku temukan di hari pertama aku kerja disini. 

Sungguh bagi aku suatu pengalaman pertama bekerja ditempat yang mayoritas kolleganya ialah non muslim di perusahaan besar Jerman seperti Mercedes Benz. Namun walaupun begitu tampak cahaya islam menyinari dan menerangi para pekerja muslim disana, sehingga diberikan nya kemudahan mereka menjalankan ibadah tanpa harus meninggalkan kesibukkan dan pekerjaan yang menjadi kewajiban lainnya. Subhānā-llāh


Salam
Iqro