﷽
As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah
Hidup di lingkungan sosial yang menjunjung tinggi aspek akal dan rasionalitas dalam memahami serta mengembangkan ilmu pengetahuan mendorong terbukanya ruang dialog antara aspek teologis agama dan pendekatan ilmiah. Hal ini membuka peluang untuk membuktikan dasar-dasar kepercayaan yang selama ini sering dipandang secara dogmatis oleh kalangan barat melalui pendekatannya yang logis dan rasional. Disisi lain akal merupakan bentuk anugerah Tuhan kepada manusia sebagai alat pembenaran nash-nash agama agar manusia mampu berfikir dan membenarkan terhadap wahyu yang Tuhan berikan. Maka jauh sebelum seseorang meyakini kebenaran suatu agama, ia perlu meyakini keberadaan eksistensi Tuhan. Karena bagaimana contohnya seorang atheis meyakini kebenaran Al-Quran jika pada aspek substansinya saja mengenai keberadaan Tuhan ia tidak meyakininya. Maka muncullah pertanyaan mendasar dalam intelektual Islam untuk menjawab bagaimana membuktikan eksistensi Tuhan secara ilmiah dan rasional?
Tak dapat dimungkiri, di Eropa—di mana aliran atheisme berkembang pesat—pertanyaan tentang eksistensi Tuhan terus menjadi perdebatan yang tak pernah usai. Diskursus ini menjadi bagian penting dalam ranah teologis dan filosofis, yang berupaya menggali esensi dan substansi asal dari seluruh kehidupan di alam ini secara rasional. Dalam tradisi intelektualitas Islam, para cendekiawan ilmu Kalam telah lama merumuskan jawaban atas persoalan ini melalui pendekatan argumentatif yang dikenal sebagai Kalam Kosmologis Argumen—sebuah upaya rasional untuk meneguhkan keberadaan Tuhan melalui pemikiran kosmologis. Konsep ini merupakan sebuah argumen filosofis dan teologis yang berupaya membuktikan keberadaan Tuhan berdasarkan awal mula alam semesta. Argumen ini berasal dari perkembangan pemikiran filosofis Islam pada abad pertengahan, khususnya dari para pemikir seperti Ibn Sina, Al-Kindi dan Al-Ghazali, dan kemudian dipopulerkan lebih luas di dunia Barat oleh filsuf modern William Lane Craig dalam bukunya The Kalām Cosmological Argument yang diterbitkan pada tahun 1979.
Pada strukturnya dasar argumen Kalam ini dibangun dari 3 premis utama yaitu:
1. "Segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti memiliki sebab".
2. "Alam semesta memiliki permulaan".
3. "Maka demikian, alam semesta memiliki sebab".
Pada premis yang pertama mayoritas ilmuwan sepakat bahwa segala sesuatu didunia ini yang memiliki permulaan pastilah memiliki penyebab. Seperti halnya adanya kita terlahir didunia karena tentu adanya orangtua kita yang melahirkan dan tidak mungkin seorang manusia terlahir tanpa ada yang melahirkan, atau adanya benda-benda disekitar kita karena pasti ada awal dimana pabrik yang membuat dan memproduksinya dan tidak mungkin benda itu ada dan terbuat dengan sendirinya. Maka argumentasi pertama ini tidak memiliki sanggahan dan bantahan secara ilmiah karena mengacu pada hukum kausalitas (sebab-akibat), yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang memiliki awal tidak mungkin muncul begitu saja tanpa ada penyebab.
Lalu premis yang kedua "alam semesta memiliki permulaan" ini menjadi perdebatan utama bagi kalangan ilmuwan modern, apakah dunia atau alam semesta ini memiliki permulaan? atau semesta ini mungkin sudah ada dengan sendirinya? Tentu banyak -terutama orang barat- yang beranggapan bahwa "dunia atau alam semesta ini bisa saja ada dengan sendirinya ada dan abadi tanpa sebab?", sehingga mereka pada suatu kesimpulan bahwa Tuhan tidaklah mungkin ada karena dunia ini sudah ada dengan sendirinya tanpa memerlukan penyebab. Lalu bagaimana menjawabnya problematika ini?
Untuk menjawab perdebatan ini terdapat teori ilmiah dalam fisika mengenai hukum Termodinamika yang bisa digunakan sebagai sanggahan terhadap pandangan bahwa alam semesta itu ada dengan sendirinya. Teori hukum ini menyatakan bahwa dalam sistem atau ruang tertutup, entropi (tingkat ketidakteraturan) akan semakin kacau dan terus tidak teratur seiring waktu. Energi yang ada di dalamnya akan menyebar dan makin sulit dimanfaatkan. Pada akhirnya, semuanya akan sampai pada titik di mana tidak ada lagi energi yang bisa digunakan untuk melakukan apa pun. Contoh analogis mudahnya dari hukum ini ialah seperti halnya secangkir kopi panas yang dibiarkan di ruangan yang akan lama-lama menjadi dingin — panasnya menyebar ke udara, dan kita tidak bisa "mengumpulkan kembali" panas itu untuk menghangatkannya lagi, atau contoh lain bila rumah dibiarkan tanpa dirawat, ia akan makin berantakan dan berdebu, bukan sebaliknya makin rapi dengan sendirinya.
Jika alam semesta telah ada sejak kekekalan waktu (tidak memiliki permulaan), maka semestinya entropi sudah mencapai titik maksimum saat ini. Artinya, energi yang berguna seharusnya telah habis, tidak ada lagi proses termal yang berjalan, dan alam semesta akan berada dalam kondisi ‘kematian panas’ (heat death). Namun kenyataannya, kita masih menyaksikan adanya energi yang tersedia, seperti energi matahari, panas bumi, serta sumber daya lainnya—meskipun memang terus mengalami penurunan seperti pada cadangan minyak bumi dan gas.
Fakta bahwa alam semesta belum mencapai keadaan entropi maksimum mengindikasikan bahwa ia tidak mungkin telah ada sejak kekekalan waktu. Oleh karena itu, secara logis, alam semesta memiliki awal mula, karena jika premis ini salah, maka kita akan hidup dalam semesta yang sudah “mati” secara termal — dan itu bertentangan pada realitas yang kita alami saat ini. Hukum ini memperkuat dasar dari premis kedua Kalam Kosmologis Argumen.
Jika perdebatan sebelumnya telah disanggah secara logis dan ilmiah, maka kita sampai pada kesimpulan yang tak terelakkan: alam semesta memiliki sebab. Kesimpulan ini didasarkan pada dua premis utama—bahwa segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti memiliki sebab, dan alam semesta memiliki permulaan. Maka, secara logis, keberadaan alam semesta memerlukan suatu sebab eksternal yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, yang bersifat tak terbatas dan kekal.
Bila semesta ini memiliki sebab yang sama halnya terbatas dan juga memiliki penyebab sebelumnya, maka hal ini akan menimbulkan masalah baru yaitu tasalsul atau dalam isitlah saintisnya infinite regress (runtutan sebab yang tak berujung). Jika setiap sebab memiliki sebab sebelumnya tanpa akhir, maka tidak akan pernah ada titik awal yang nyata—dan akibatnya, tidak akan ada alam semesta seperti yang kita lihat sekarang.
Contoh analogisnya adalah bayangkan jika kamu diperintahkan untuk menembah sebuah senapan. Tetapi sebelum kamu bisa melepaskan tembakan nya, kamu harus meminta izin dari atasanmu—dan atasanmu itu juga harus meminta izin dari atasan nya sebelumnya, dan begitu seterusnya, tanpa akhir. Jika setiap orang hanya bisa bertindak setelah mendapat izin dari orang sebelumnya, dan tidak ada orang pertama yang memberi izin tanpa perlu izin dari siapa pun: Hasilnya? Senapan itu tidak akan pernah terlepas tembakan nya, karena sang pemberi izin pertama nya tidak pernah ada.
Maka, eksistensi alam semeseta ini harus dengan adanya sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun—suatu sebab yang niscaya, kekal, dan mandiri tanpa memiliki sebab keberadaan nya dan tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Dalam perspektif teologis, sebab yang transenden ini dapat diidentifikasikan bahwa penyebab dari adanya keberadaan alam semesta ini ialah Tuhan, yakni Allah, sebagai al-Khaliq (Pencipta) dan Musabbibal asbāb (Penyebab dari berbagai sebab) yang bersifat qidam (terdahulu dan yang tidak memiliki awal) serta keberadaan-Nya tidak bergantung pada sesuatu yang lain (qiyamuhu binafsihi).
Wa minaAllahi tawfiq.
Osnabrück, 11 Dzulqoʿdah 1446H