Senin, 23 Januari 2023

Catatan Safā, Majelis Ilmu di kota Osnabrück



1 Rajab 1444 H

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Bagaimana kabar teman-teman pembaca disana? semoga Allah senantiasa memberikan keadaan sehat wa l-afiat dan kemudahan atas urusan-urusan yang sedang kalian jalani Allāhumma amīn. 

Disini izinkan saya menuliskan kembali ilmu yang saya dapatkan dari pembelajaran oleh salah satu ulama sunni di Jerman yang banyak menempuh perjalanan spritualnya ke berbagai negara di timur tengah dan juga telah mendapatkan berbagai ijazah dari para habaib hingga sampai saat ini beliau berkegiatan aktif mengajar sebagai dosen di fakultas Islamic Theology di Universitas Osnabrück sembari berdakwah dan mensyiarkan cahaya islam di Eropa wa bil-khusus utamanya di Jerman, beliau bernamakan Syekh Mahmud Kellner raḥmatu-llahu ʿalayhi sebagaimana yang sudah saya terangkan dalam rubrik khusus biography beliau sebelumnya yang bisa dibaca disini. Beliau memiliki projek pendidikan akademik diluar perkuliahan dalam bentuk program kepesantrenan nya di Osnabrück yang bernamakan Safā.

Pengenalan tentang Safā

Safā merupakan salah satu dari tingkatan 3 program kepesantrenan nya beliau yang baru berdiri sejak tahun 2017 di Jerman, dan juga menjadi perintis satu-satunya kursus keagamaan bermanhaj kan ahlus-sunna wa l-jamāʿa di Jerman melalui metode dan pondasi nya mirip dengan layaknya pesantren yang mana para pelajar yang berasal dari berbagai penjuru dalam dan luar Jerman akan belajar agama secara intensiv seharian dimulai dari pagi sampai menjelang malam yang terdiri dari disiplin ilmu keislaman seperti aqidah, fiqh, sirah sampai ilmu kalam di tempat lembaga sekaligus tuan rumah yang beliau dirikan, yaitu Madrasah e.V selama setahun lama nya yang dibagi selama 10 kali pertemuan. Setelah menyelesaikan program Safā, para pelajar atau santri akan mendapatkan ijazah serta dapat memilih untuk melanjutkan ke tingkatan berikutnya yaitu Marwa dan Muzdalifa.





Info lebih lengkap nya bisa dilihat melalui link dibawah ini:


Catatan Safā - Mengenali Daya dan Kehendak-Nya dalam Keseharian Kita

Pada tulisan Safā episode kali ini saya berusaha merangkum hikmah dari apa yang Syekh Mahmud Kellner terangkan mengenai konteks aqidah dalam memahami kehendak, kekuatan dan pengaruh Allah dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia melalui lafadz  

"لا حول ولا قوة إلا بالله"

Tentunya kalimat hawqala ini tidaklah asing kita dengar dan saya yakin banyak pula yang mengerti arti dari penggalan kalimat tersebut. Namun apakah banyak pula yang memahami kalimat tersebut dalam berakidah? Maka mari kita simak dan perhatikan jawaban dari pertanyaan tersebut yang beliau sampaikan dibawah ini..

Dalam aqidah, kita mengetahui dalam artian kalimat hawqala bahwa "Tiada daya maupun kekuatan kecuali dengan/atas izin Allah", namun disisi lain kita mengetahui pula bahwa di dunia ini terdapat daya maupun kekuatan yang kita temukan diantara ciptaan-Nya. Seperti adanya api yang mampu membakar kertas, adanya obat yang mampu menyembuhkan penyakit atau sebaliknya adanya virus yang mampu membuat orang sehat menjadi sakit.

Lalu pertanyaan teologis hadir membuat kita berpikir lebih dalam "bagaimana bisa terdapat adanya daya, pengaruh maupun kekuatan yang eksis dan kita lihat secara empiris di dunia ini namun berlawanan dengan ucapan hawqala yang kita yakini bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang memiliki daya, kehendak serta kekuatan?"

Dalam menjawab pertanyaan problematik ini, disini beliau memaparkan 3 jawaban atau posisi yang dikutip melalui kitab "al-kḫarīdatu l-bahīyah" karangan ImamʾAḥmad ad-Dardīr. Melalui jawaban dibawah ini pun beliau tak lupa mengajak kita semua untuk bersama-sama merefleksikan dan memakna arti dari lafadz 
"لا حول ولا قوة إلا بالله"



1. Teori Alam (alamiah)

"ومن يقل بالطبع أو بالعلة - فذاك كفر عند أهل الملة"
“Barang siapa yang mengatakan (dan meyakini bahwa pengaruh atau dampak bisa di timbulkan) oleh tabiat (yaitu secara alami) atau (adanya) penyebab, Maka hal itu akan menjadikan nya kufr menurut agama yang sesungguhnya (Islam)”

Teori pertama ini menjawab adanya kekuatan yang eksis di dunia ini berasal natural nya dari alam atau bisa kita sebut juga sebagai hukum alam, yang mana mekanisme alam nya berkaitan dengan hubungan sebab-akibat (causality). Seperti api yang membakar kertas, dimana api secara sifat alami nya yang akan selalu membakar benda disekitarnya. Atau manusia yang secara alami nya mencari makan ketika terasa perut keroncongan dan kelaparan, karena nya makanan dapat menyembuhkan rasa kelaparan tersebut. Atau dibuatnya obat sebagai penawar adanya suatu penyakit. Dan masih banyak lagi contoh-contoh teori alamiah yang lain nya yang kita temukan dalam sehari-hari. 

2. Teori Muʿtazīlah

"من يقل بالقوة المودعة - فذاك بدعي فلا تلتفت"
“Barang siapa yang mengatakan (dan meyakini bahwa pengaruh dan dampak bisa di timbulkan) oleh kekuatan yang di titipkan (pada sesuatu), Maka hal ini dapat menjadikan kesesatan. Maka, janganlah engkau memandang pada pendapat ini!”.

Teori kedua ini berlandaskan dengan pemikiran dari suatu aliran atau sekte teologis yang terkenal pada abad ke-2 hijriyah yang mana aliran ini lebih merujuk pada akal manusia dalam berakidah sehingga mereka berusaha menginterpretasikan al-Qurʿan secara bebas dan bertentangan dengan paham ajaran ahlus-sunna wa l-jamāʿah. 

Dalam kaitan nya dengan problematik akidah diatas, aliran ini beranggapan bahwa Allah memberikan kekuatan kedalam material dunia ini. Dalam arti seperti pada contoh api yang membakar kertas, mereka beranggapan bahwa Allah memberikan kekuatan pada api untuk membakar sesuatu sehingga diyakini bahwa api memiliki kekuatan tersebut dari Allah dan Allah menarik kekuatan itu kembali setelahnya. Dan ini tentunya menjadi problematik terhadap akidah itu sendiri, karena nya walaupun masih dalam pengaruh Allah, namun mereka meyakini bahwa adanya pengaruh atau kekuatan lain yang berada setelah kehendak-Nya.

Begitupun juga implikasinya terhadap manusia, mereka meyakini bahwa kehendak Allah hanya berkaitan dengan perkara yang baik menurut akal manusia saja. Mereka meyakini bahwa Allah tidak menghendaki keburukan kepada makhluk-Nya karena hal tersebut bertentangan dengan sifat Maha Penyayang dan Maha Pengasih yang dimiliki Allah.

3. Teori Ahlus-sunna wa l-jamāʿah

"والفعل فالتأثير ليس إلا - للواحد القهار جل وعل"
"Dan tiada yang memiliki perbuatan (pengaruh) maupun daya, kecuali hanya milik Dzat yang Ahad, Yang Maha Perkasa. Maha Luhur dan Tinggi”.

Teori ini bersanggahkan kepada pendapat-pendapat ulama sunni yang meyakini bahwa segala kehendak, kekuatan maupun seluruh daya yang ada di dunia ini termasuk manusia pun itu datang atau atas izin Allah. Setiap detik Allah menciptakan dan memberikan pengaruh terhadap segala perbuatan dan aktivitas manusia dan makhluk-Nya. 

Dalam pengaplikasian nya seperti halnya contoh api yang membakar kertas. Bukanlah api yang memiliki kekuatan untuk membakar sesuatu, namun justru Allah lah yang membuat kertas tersebut terbakar dengan keberadaan api. Jika Allah menghendaki, bisa saja api itu tidak membuatnya terbakar. Seperti halnya kisah nabi Ibrahim yang dibakar hidup-hidup oleh tentara raja Namrud, namun atas kehendak Allah api yang membakar nabi Ibrahim justru meńjadikan nya rasa dingin dan sejuk yang malah menyelematkan nya, bukan membakarnya. Contoh lain pun bisa kita ambil ketika kita sakit, maka adanya obat kita ketahui sebagai penyembuh penyakit yang kita derita. Namun walau kita sudah minum berapa kali obat pun, bila Allah menghendaki tubuh ini tetap sakit, maka tak ada yang mustahil bagi-Nya. 

Disini bisa kita ambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan, itu semua atas izin dan kehendak Allah. Kita bernafas, itu kehendak Allah, kita pergi ke rumah teman, itu kehendak Allah, kita tertidur, itu kehendak Allahkita mengerjakan suatu ujian pun, baik nanti hasil nya lulus atau tidak nya, itu juga kuasa dan kehendak Allah. Karena segala apapun yang kita perbuat serta kerjakan, pada hasil akhirnya sesuai dengan rencana Allah atas izin dan kehendak-Nya. Hanya yang perlu kita perhatikan disini, dari semua kehendak-kehendak Allah terhadap manusia, Allah ingin kita untuk tetap selalu memperhatikan dan menimbang-nimbang hukum alam atau hubungan sebab akibat nya (causality) yang akan terjadi setelahnya

Disini Allah menegaskan kita untuk tetap menggunakal akal, yang tak lain berfikir! ya, berfikir sebelum bertindak. Manusia dianugerahkan dan diberikan kelebihan akal diantara ciptaan lain-Nya karena merupakan salah satu alasan dari jawaban ini. Banyak pula kita temukan firman Allah dalam al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berfikir serta menggunakan akalnya.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir". (QS. Az-Zumar: 42)


Maka dengan mempelajari ketiga posisi ini serta meyakini pada satu posisi yang kita pegang dalam berakidah, yaitu Ahlus-sunna wa l-jamāʿah, kita akan sedikit mengerti mengenai hakikat alam dan koneksinya dengan kehidupan disekitar kita selama ini. Tentunya melihat dari pernyataan sunni itu juga akan kita dapati bahwasanya tidak adanya problematik atau pertentangan yang terdapat dalam lafadz 
"لا حول ولا قوة إلا بالله", justru bila kita telaah dan merefleksikan diri kita lebih jauh, akan semakin mengenal dan terbuka mata hati kita akan sifat serta kedekatan Allah terhadap ciptaan-Nya melalui pengamalan lafadz yang memiliki makna sangat mendalam ini.

Wa minaAllahi tawfiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar