Minggu, 14 Februari 2021

Tiga Tahun Waktu Tertunda Untuk Kuliah Di Jerman

2 Rajab 1442 H

Guten Morgen, Liebe Freunde!

Hey, kali ini saya mau menceritakan dan menggambarkan sedikit insight perjalanan awal mula kedatanganku di Jerman sampai berkuliah saat ini.

Sebenernya sudah lama sekali saya ingin bercerita mengenai hal ini, namun karena dulu masih berfikir pengalaman saya masih kurang dan jauh untuk diceritakan sehingga saya agak kurang pede untuk show off. Namun berjalan waktu ke waktu di Jerman membuat saya lebih siap untuk muncul dan menuliskan keluh kisah dan pengalaman saya ke teman-teman, terutama ketika saya sudah menginjakkan kaki di tahap perkuliahan.

OK langsung saja berikut uraian perjalanan saya kuliah S1 di Jerman melalui kondisi pembagian waktu dibawah ini:

Kamis, 11 Februari 2021

Mentadabburi Sebuah Jembatan Peradaban dari Kacamata Barat


29 Jumadil Akhir 1442 H

Sebelum berbicara sejarah negara lain, marilah kita sedikit berbicara dan flashback sejenak mengenai sejarah di negeri kita tercinta. Di Indonesia ada suatu hal yang mungkin tidak kita sadari dan masih banyak pula orang melupakan tentang terputusnya riwayat keilmuwan di zaman dahulu yang tidak kita pelajari kembali di saat ini.

Mengapa Menulis Blog Ini? | Perkenalan Singkat Penulis




29 Jumadil Akhir 1442 H

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu llah!

Hey perkenalan saya Iqro, seorang mahasiswa Indonesia yang berasal dari Bogor, yang mana saat ini masih berjuang menyelesaikan studi Magister nya di salah satu kota di Jerman, yaitu Osnabrück, Niedersachsen.

Saya saat ini berkuliah magister di Osnabrück University dengan jurusan Islamic Theology di fakultas Institute of Islamic Theology (IIT). Dari hidup dan berkuliah di Jerman banyak hal baru dan yang menarik bagi saya saat mempelajari keilmuwan islam dan menenggelami nya lebih dalam di Eropa. Maka dari itu saya berinisiatif membuat wadah blog dengan coretan tangan saya ini untuk saya gunakan sebagai sarana murojaah ilmu, transfer knowledge dan tempat menyimpan curahan pikiran dan pengalaman saya akan belajar, hidup, bersosial dan beragama di Eropa yang mana harapan besar saya juga semoga bisa memberikan insight dan sudut pandang baru yang bermanfaat bagi pembacanya. 

Mengapa tidak menulis di Instagram? tentunya sebuah postingan di instagram memiliki keterbatasan teks pada caption yang tidak bisa menulis sebanyak dibanding di blog. Disisi lain Instagram lebih menyuguhkan kisah atau cerita dalam bentuk visual dan dengan orientasi entertainment, jadi platform tersebut dirasa kurang tepat untuk tulisan-tulisan panjang seperti ini, terlebih bila juga mencakup sisi akademis dan teologis.
 
Disisi lain status saya saat ini masih bisa dikatakan jauh dari kata sukses dan berhasil, karena di titik ini saya masih berproses atau melangkah. Namun setelah berfikir lagi, mungkin alangkah lebih baiknya, bila proses-proses yang sudah berjalan ini saya curahkan dalam bentuk tulisan dan catatan agar menjadi pembelajaran dan murajaah buat saya pribadi atas ilmu yang sudah saya dapatkan dan juga sebagai sharing pengetahuan dari pengalaman seorang mahasiswa santri yang sedang menjalani pendidikan dan kehidupan perantauan nya di belahan bumi bagian barat ini yang indah ragam sudut pandang dan pemikiran nya, agar semakin terbuka mata pikiran dan hati kita akan khazanah keberagaman dunia luar yang juga masih bagian dari ciptaan sang Khaliq.

Dan dari saya pribadi juga memohon doa dukungan nya agar bisa selalu terjaga keistiqomahan menulis, baik dalam bentuk tulisan bebas, akademisi, ataupun dalam gugahan kisah pengalaman serta pemikiran-pemikiran yang bisa saya ambil disini dengan harapan nya semoga dengan ini menjadi langkah awal saya membangun literasi dan tulisan ilmiah dalam kehidupan saya agar kelak nantinya bisa tercipta suatu buku maupun karya-karya tulis berikutnya yang bermanfaat bagi ummat kedepan. Amīn Allahumma amīn.

Akhir kata, semoga sedikit dari perkenalan singkat ini bisa mengenalkan diri saya lebih dekat dengan kalian. Sampai bertemu di next chapter dan enjoy membaca!

Bersama novelis Ust. Habiburrahman El-Shirazy, Lc. Pg.D dalam perjalanan kereta menuju Leipzig, November 2019


Teriring salam jauh dari Osnabrück,

Muhammad Iqro Sugiarto