﷽
As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah
Hidup berada di akhir zaman melihat maraknya kerusakan, kedhaliman dan fitnah yang tersebar dipenjuru dunia menggugah tulisan ini muncul untuk sekedar menjadi pengingat satu sama lain betapa dekatnya kita dengan waktu. Sebagaimana yang tertulis didalam al-quran اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ (54:1) (berdekatnya waktu/kiamat) dan juga dalam hadis: لا تقوم السَّاعة حتَّى يتقارَب الزَّمان (Tidak akan terjadi kiamat sampai saling berdekatnya waktu. Sunan Tirmidzi: 2332).
Namun apakah yang dimaksud dengan saling berdekatnya waktu itu?
Disini izinkan saya mengutip kalamnya Syaikh Mahmud Kellner, salah seorang ulama sunni di Jerman, bahwa yang dimaksud يتقارَب الزَّمان ialah ketika waktu saling bertemu dan datang terasa menyempit yaitu ketika orang-orang merasa bahwa hidupnya terasa panjang sehingga ia melakukan perbuatan buruk dan sibuk dengan dunianya sepanjang waktu sehingga apa yang terjadi ialah waktu terasa berjalan cepat dan apa yang ia dapati begitu-begitu saja dan dari tanda-tanda ini berkurangnya perbuatan baik dan maraknya perbuatan buruk.
Disisi lain Rasulullah SAW pun memberikan isyarah yang relevan mengenai tanda tersebut dalam hadits:
بَلِ ائْتَمِرُوا
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا
وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْىٍ بِرَأْيِهِ
وَرَأَيْتَ أَمْرًا لاَ يَدَانِ لَكَ بِهِ فَعَلَيْكَ خُوَيْصَّةَ نَفْسِكَ وَدَعْ
أَمْرَ الْعَوَامِّ
“Salinglah mengajak kepada perbuatan baik dan berpaling dari perbuatan buruk sampai ketika engkau akan melihat sifat kikir dan hawa nafsu di ikuti, kehidupan dunia lebih di prioritaskan dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau jaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah perkara awam (umum)” (Sunan Abu Daud no.4341)
Lalu bagaimana gambaran muslim di akhir zaman ini? Rasulullah menggambarkan gambaran kaum muslimin di akhir zaman ini pun dengan penggambaran periode gutsaiyyah yaitu masa banyaknya jumlah muslimin, namun mereka seperti buih di genangan air. Gutsaiyyah merupakan asal kata dari غُثَاءٌ yang dipakai dari hadits tersebut dibawah ini:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى
قَصْعَتِهَا . فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ
بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ
السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ
مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا
رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ
الْمَوْتِ
"Akan tiba suatu masa nanti dimana kalian (umat islam) akan diperebutkan seperti makanan yang berada di meja makan“ seorang sahabat yang mendengar menjadi kaget dan bertanya "ya Rasulullah apakah nanti kita merupakan umat yang sedikit?" (sampai-sampai diperebutkan seperti itu) Kemudian Rasulullah mengatakan "justru kalian nanti jumlah nya sangatlah banyak, namun kalian itu gutsaun ka gutsais-sayli (seperti halnya umpama buih di genangan laut). Allah akan cabut dari hati musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan di dalam hati kalian terdapat Wahn" kemudian sahabat bertanya apakah Wahn itu? Rasulullah berkata "Wahn adalah cinta terhadap kehidupan dunia dan takut akan kematian". (Sunan Abi Dawud 4297)
Berhubung mengenai itu Imam Fudhail bin Iyadh (w. 187 H/803 M), seorang wali dan ulama besar yang juga merupakan gurunya Imam Syafii pernah berpesan mengenai akhir zaman ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin:
إنما هذا زمان احفظ لسانك واخف مكانك وعالج قلبك وخذ ما تعرف ودع ما تنكر
"Sekarang adalah zaman nya; jagalah lisanmu, sembunyikanlah tempatmu (jangan buat dirimu terkenal/ jangan tunjukkan siapa dirimu), obati atau urusi hatimu dan ambillah apa yang baik kamu ketahui dan tinggalkan keburukan yang kamu kerjakan".
Dan pesan terakhir oleh Syekh Mahmud Kellner dengan menjelaskan pada akhirnya ada dua bentuk bagaimana seseorang dalam menyikapi pergerakkan waktu di akhir zaman ini, yaitu
1. Secara Subjektif: yaitu seseorang yang tahu akan eksistensi waktu, namun secara tidak sadar tidak merasakan waktu yang berjalan. Ia terkesan lebih suka menunda-nunda waktunya, menggunakan nya dengan hal yang tidak baik dan juga yang tidak bermanfaat baginya, dan cenderung ia akan mendapati penyesalan di akhir karena ia telah melewatkan waktu nya dengan sia-sia.
Ciri-ciri orang yang memandang waktu secara subjektif ialah mereka yang sering mengatakan "gue ga punya waktu", "maaf ga ada waktu" dsb. Hakikatnya setiap manusia itu memiliki waktu, tidak ada satupun yang tidak memiliki waktu. Pernyataan yang benar ialah "apa yang kalian gunakan dalam waktu kalian? untuk apa waktu kalian digunakan?" karena nyatanya kekurangan pada waktu kalian, kalian justru pakai untuk hal-hal lain seperti rebahan, main game, main hp, tidur dll.
2. Secara Objektif: ialah orang yang melek dan sadar akan eksistensi dan berjalan nya waktu. Ia sadar bahwa waktu bergerak begitu cepat dan kehidupan nya bisa saja meninggalkan nya kapan saja atas kehendak-Nya. Maka ia akan menjaga waktu nya untuk terus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi nya dan tidak menyia-nyiakan segala bentuk kesempatan dan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sampai detik ini.
Maka marilah kita tersadar untuk bisa menghargai waktu dan tidak menyia nyiakannya apalagi memandang waktu suatu hal yang sepele. Padahal waktu merupakan anugerah dan nikmat Tuhan yang Ia berikan kepada manusia untuk bisa memanfaatkan nya selama di dunia. Sebagaimana hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah:
قال الله عز وجل : يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار
"Anak Adam menyakiti-Ku; (karena) ia mencaci waktu, padahal Aku lah sang (pemilik) waktu. Di Tangan Akulah yang menjadikan malam dan siang hari silih berganti." (HR. Sahih Bukhari No. 7491)
Wa minaAllahi tawfiq
Osnabrück, 19 Muharram 1445H