Selasa, 20 Mei 2025

Mengapa Perlu Beragama? Relevansi Keilmuan Teologi Islam dalam Menanggapi Problematika Ketidakbertuhanan


   

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Pertanyaan “Mengapa kita perlu beragama?” merupakan pertanyaan mendasar yang mungkin terasa kurang relevan di Indonesia, namun justru menjadi topik hangat di Eropa. Di tengah kehidupan modern yang kian kehilangan nilai-nilai moral dan etika— dimana manusia zaman ini sering kali tersibukkan oleh hal-hal yang tidak penting dan kurang membawa manfaat dalam kehidupan nya, membuat nilai agama saat ini semakin kian jauh dari ajaran asalnya.

Banyak nya manusia zaman ini baik yang beriman maupun yang tidak beriman, lebih memilih mencari jawaban atas pertanyaan hidup melalui media sosial. Termasuk ketika menyangkut persoalan keagamaan. Akibatnya, esensi spiritualitas agama mulai memudar, karena semakin berkurangnya pembelajar dan pencari ilmu yang berguru secara langsung dan justru lebih memilih belajar dan mencari pengetahuan secara otodidak sendiri. Inilah kenyataan yang tak dapat disangkal di era modern ini.

Kondisi ini makin terpuruk ketika orang-orang tidak lagi menjalankan praktik keagamaan dan perlahan mulai melepaskan agama nya. Saya ambil contoh di Jerman, di negara saya merantau. Setiap tahun nya jumlah penduduk negara Jerman yang meninggalkan agama terus bertambah. Jumlah ini meningkat drastis pada tahun 2023 menjadi 46% dari total keseluruhan populasi negara Jerman, yang berarti hampir separuh penduduk negara Jerman adalah atheis atau agnostis. Mereka keluar dari agama asal mereka yaitu Katholik/Protestan dan memilih untuk tidak beragama sama sekali. 

Presentase Populasi Penduduk Jerman yang Beragama (Katholik/Protestan, bewarna Merah) dan yang Tidak Beragama (Biru) sampai tahun 2023.
Sumber: https://hpd.de/artikel/n-deutschland-gibt-es-ebenso-viele-konfessionsfreie-katholiken-und-protestanten-22435



"Distribusi Populasi Agama Berdasarkan Persentase Penduduk Jerman tahun 2024: Tidak beragama (47%),  Katholik (24%), Protestan (21%), Islam (4%), Agama lain (4%)
Sumber: https://de.wikipedia.org/wiki/Religionen_in_Deutschland


Diskursus mengenai tema keagamaan dan ketuhanan terus menjadi topik yang relevan dan dinamis di Eropa, tak terkecuali di Jerman. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti "Mengapa perlu beragama?", "Apakah agama masih penting?", atau "Apakah Tuhan itu ada dan bagaimana pembuktiannya secara rasional atau ilmiah?" senantiasa muncul dalam wacana sosial, intelektual, dan akademik masyarakat Eropa kontemporer.

Di sinilah peran ilmu teologi menjadi signifikan dalam merespons problematika keimanan dan keagamaan secara sistematis, argumentatif, dan rasional. Meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sederhana, pada kenyataannya tidak semua individu mampu menjawabnya secara normatif. Kurangnya pemahaman mendalam mengenai agama sering kali menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya keraguan terhadap institusi agama dan keberadaan Tuhan. Terlepas bahwa Jerman, seperti juga banyak negara Eropa Barat, mengalami sistem sekularisasi yaitu sebuah proses di mana agama kehilangan pengaruh dalam kehidupan publik dan pribadi. Sehingga nilai-nilai modern seperti individualisme, kebebasan berpikir, dan rasionalisme ilmiah lebih dominan dalam sistem pendidikan dan budaya umum. Juga pengaruh adanya perubahan pola pikir masyarakat terhadap makna dan fungsi agama dalam kehidupan sehari-hari seperti kecenderungan akan merasa bisa “mengatur hidup sendiri” tanpa perlu bergantung pada Tuhan atau pada suatu kepercayaan yang berasal dari agama.

Dalam menjawab pertanyaan thema ini dari sudut pandang theologis Islam, bahwa agama memiliki fungsi salah satunya untuk membimbing manusia kepada jalan yang lurus dengan Tuhan sebagai sumber kebenaran yang memberikan wahyu-Nya kepada manusia. Dalam agama islam, Allah menyampaikan wahyu nya termasuk informasi-informasi metafisik dan spiritual yang tidak dapat diakses melalui akal semata, seperti keberadaan makhluk gaib (jin dan malaikat), kehidupan setelah kematian, serta norma moral yang berasal dari kehendak Tuhan, bukan bersumber atas konstruksi manusia semata. 

Tentunya semua informasi ini harus datang dari zat yang bukan termasuk dari mahkluk, karena mahkluk contoh halnya manusia memiliki keterbatasan dalam berfikir sebagai sumber pengetahuan nya. Sebagaimana manusia secara ontologis yang terlahir kedunia ini diawali dari ketidakpengetahuan (QS. An-Nahl: 78) lalu menjadi tahu karena terus belajar dan berkembang kedewasaan akalnya seiring usia. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang eksistensi dan moralitas, diperlukan referensi transenden yang tidak tunduk pada relativitas sosial, yakni wahyu Tuhan.

Dalam tradisi teologi Islam klasik, Imam Abu Hasan al-Ash‘ari, salah satu pendiri mazhab teologi Ahlussunnah wal Jama'ah, menjelaskan dalam karyanya Maqālāt al-Islāmiyyīn, bahwa manusia tidak dapat menetapkan nilai moral secara independen melalui akal semata. Ia menyatakan bahwa suatu perbuatan dinilai baik atau buruk bukan karena pertimbangan akal dan rasional manusia, melainkan karena wahyu yang ditentukan oleh perintah dan larangan Tuhan. Sebagaimana kutipannya Imam Asyari:

"Manusia tidak dapat membuat penilaian moral terhadap sesuatu tindakan, karena tindakan itu sendiri tidak dapat dinilai secara moral. Manusia melakukan sesuatu karena Allah memerintahkannya, dan meninggalkan sesuatu karena Allah melarangnya.”  (Dalam Mujarrad Maqalat Al-Ash'ari)

Dengan demikian, baik dan buruk dalam perspektifnya Imam Asyari bersifat teonomik, yaitu berdasarkan pada kehendak Tuhan, bukan otonomik (berbasis akal manusia). Artinya, suatu tindakan dinilai baik bukan karena akal rasionalitas manusia menganggapnya demikian, tetapi karena Tuhan memerintahkannya; dan sebaliknya, sesuatu dianggap buruk karena Tuhan melarangnya. 

Misalnya dalam contoh kehidupan, praktik homoseksualitas dalam Islam dinilai sebagai sesuatu yang tercela karena bertentangan dengan wahyu, walaupun sebagian masyarakat modern menganggapnya sah atas dasar hak individu dan kebebasan berekspresi. Demikian pula tindakan pembunuhan: bagi orang beriman, membunuh tanpa hak adalah dosa besar dan perbuatan yang buruk, Akan tetapi, dalam kenyataan sosial, terdapat individu atau kelompok yang mungkin menganggap tindakan tersebut dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu—seperti para pelaku kriminal yang mudah mengambil nyawa seseorang atau terjadinya perperangan yang kita lihat didunia saat ini. 

Atau contoh lain ntuk memperjelas relativitas penilaian moral bila dilepaskan dari wahyu, bayangkan sebuah eksperimen ilustrasi: seorang anak manusia dibesarkan di hutan secara terisolasi, tanpa akses terhadap pendidikan, budaya, atau agama. Ia tetap memiliki fitrah (naluri dasar) dan akal sebagai bagian dari kodrat manusia. Namun, ketika ia pertama kali bertemu manusia asing dan merasa terancam, respons yang mungkin muncul secara naluriah adalah tindakan membunuh sebagai bentuk pertahanan diri. Padahal, dalam konteks masyarakat beradab, tindakan tersebut bisa dipandang sebagai perbuatan yang salah atau melanggar moral.

Kondisi ini menunjukkan bahwa akal dan naluri manusia memiliki keterbatasan dalam menilai moralitas, dan sekalipun manusia menggunakan akal yang sama sebagai instrumen pengetahuan, hasil penilaiannya dapat sangat bervariasi jika tidak dikaitkan dengan referensi moral yang satu oleh Tuhan. Oleh karena itu, agama—melalui wahyu—berperan sebagai otoritas moral yang menyatukan panduan hidup dan memastikan keadilan serta kesetaraan dan keseimbangan dalam kehidupan sosial yang memiliki keberagaman pemikiran, identitas dan latar belakangnya. Teologi Islam menegaskan bahwa sumber kebenaran moral yang paling otoritatif dan stabil adalah wahyu Tuhan, bukan konstruksi rasional manusia yang besifat relatif dan dinamis yang bisa berubah-ubah sesuai konteks dan zaman.

Dalam konteks masyarakat sekuler seperti Jerman, peran teologi tetap krusial sebagai penjaga nilai-nilai spiritual dan moral di tengah krisis makna yang ditimbulkan oleh rasionalisme ekstrem dan relativisme moral. Agama, dalam hal ini Islam, menawarkan kerangka berpikir yang menyeluruh—bukan hanya menyangkut hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antarsesama manusia. Oleh karena itu, mendialogkan agama dan rasionalitas secara kritis dan terbuka menjadi tugas penting di era modern agar makna spiritualitas tidak sepenuhnya terpinggirkan dalam peradaban kontemporer.


Wa minaAllahi tawfiq.

 Osnabrück, 22 Dzulqoʿdah 1446H





Sabtu, 10 Mei 2025

Nilai Tengah dalam Keberagaman: Mendefinisikan Term Wasathiyyah Sebagai Konsep Islami akan Moderasi Keberagaman Beragama

  

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah


Negara kita Indonesia begitu kaya akan perbedaan dan keberagaman, tentunya merupakan bagian dari kehendak-Nya untuk menjadikan keberagaman di dunia ini sebagai upaya bentuk pengenalan manusia terhadap satu sama lain nya (li-yataʿarrafū, QS. 49:13). Oleh karena itu, penyetaraan semua identitas dan perbedaan manusia memerlukan jalan tengah yang didasarkan pada nilai toleransi dan moderasi. 

Moderasi saat ini menjadi thema yang sangat hangat ditengah berbagai bentuk konflik dunia, utamanya pada bagian konflik keagamaan. Maka diperlukan nya pada setiap individu pemahaman mengenai nilai moderasi beragama yang mana dalam konteks ini bukan hanya merupakan sikap teologis, tetapi juga sebagai strategi kultural yang sangat penting untuk menjaga persatuan nasional dan keberagaman masyarakat dalam konteks kedamaian dan kebersamaan dalam keberagaman agama.

Dalam ilmu tasawuf, syariat tidak dipahami sebagai tujuan akhir yang harus diikuti secara dogmatis, melainkan sebagai bentuk  jalan seseorang menuju Tuhan yang Maha Esa. Bagi para sufi orang-orang yang menempuh jalan keagamaan atau spiritual yang berbeda secara cara dan praktiknya tidak dipandang sebagai musuh atau penyimpang, melainkan sebagai sesama pejalan dan pengembara di jalan menuju Tuhan. Kesadaran akan tujuan transendental yang sama ini menumbuhkan pemahaman bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam praktik atau keyakinan agama, hal tersebut tidak boleh mengaburkan kesamaan yang mendasar di antara semua sebagai para pencari Tuhan. 

Konsep ini juga tercerminkan pada konsep klasik pluralisme Indonesia yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 Masehi yang berbunyi: “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”, yang secara maknawi berarti: “Bahwa agama-agama, meskipun tampak berbeda dalam bentuk atau praktiknya, pada dasarnya adalah satu atau menuju pada satu tujuan ilahi".

Pluralitas atau keberagaman agama merupakan bentuk sunnatullah dan bagian dari tatanan ilahi. Hal ini terlihat dalam surat al-Maidah ayat 48 berikut:

Untuk masing-masing dari kalian, Kami telah tetapkan arah dan jalan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat saja. Tetapi Dia (Allah) hendak menguji kalian terhadap apa yang telah Dia berikan kepada kalian. Maka berlombalah dalam kebaikan.” 

Ayat ini dapat dipahami sebagai pernyataan yang bersifat kontrafaktual, yang menunjukkan bahwa umat manusia tidak hidup sebagai satu komunitas (agama) yang seragam karena Allah secara sadar tidak menghendaki demikian. Maka, perbedaan dan keberagaman agama dan keyakinan tidak dipandang sebagai penyimpangan, melainkan sebagai realitas yang justru dikehendaki oleh Tuhan.

Salah satu aspek teologis yang penting dalam mendorong thema keberagaman atau yang disebut pluralisme adalah pemahamannya terhadap konsep Islam Wasathiyyah (Islam moderat). Konsep ini tentunya semakin diangkat ketika masa kepemimpinan seorang presiden Indonesia sekaligus ulama besar NU bernama Abdurrahman Wahid (wafat 2009) atau juga yang biasa disapa Gusdur. Sosok Gusdur menaruh perhatian besar terhadap nilai nilai inklusivisme dan pemikirannya mengarah pada sikap pluralis yang mengupayakan hidup berdampingan secara damai di antara berbagai komunitas agama tanpa memandang rendah suatu kelompok yang menjadi minoritas di Indonesia.

Konsep moderasi islam ini secara perkembangan juga dapat dipahami dalam konteks kegelisahan dunia Islam atas munculnya dua pola arus atau gerakan yang saling bertentangan yang mengatasnamakan Islam. Ulama Islam modern menyadari bahaya dari pertemuan dua arus pemikiran yang ekstrem yaitu di satu sisi mereka yang berkelompok kanan ekstrem (tafrīṭ), dan di sisi lain mereka yang berkelompok kiri ekstrem (ifrāṭ). Polarisasi ini menjadi ancaman serius bagi peradaban Islam serta kehidupan umat Muslim. Di antara dua kutub ekstrem tersebut terdapat posisi tengah (tawassuṭ), yang mewakili sikap seimbang—berada di antara dua pandangan atau praktik yang saling berlawanan tanpa jatuh ke dalam ekstremisme.

Istilah wasathiyyah secara etimologis berasal dari kata Arab wusthā dan wasātha, yang merujuk pada arti "keadilan", "pilihan terbaik", atau "posisi tengah". Landasan teologis pada istilah ini terdapat juga dalam Al-Qur'an (Al-Baqarah ayat 143): "Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat pertengahan (ummatan wasaṭan)." 

Imam al-Qurṭubī (wafat 1273) dalam kitabnya Jami li-Ahkamil Quran menafsirkan istilah ummatan wasaṭan kedalam dua makna. Pertama, ia membandingkan posisi umat Islam dengan posisi geografis Ka'bah, yang dianggap sebagai pusat bumi. Kedua, ia memandang umat Islam sebagai komunitas yang menempati posisi tengah antara para nabi dan umat-umat lain — lebih rendah daripada para nabi, namun lebih tinggi dari umat lainnya. Selain itu, posisi tengah ini juga dapat dimaknai dalam pengertian teologis dan etis. 

Imam al-Qurṭubī juga menafsirkan kata wasāṭan sebagai keadilan (ʿadl), karena memiliki makna “segala sesuatu yang terbaik berada di tengah”, layaknya ketika seorang bingung dengan dua pilihan yang meyulitkan, maka seseorang akan mengatakan: "kita ambil jalan tengahnya!" yang berarti jalan yang terbaik dari kedua pilihan tersebut. 

Imam Muḥammad ʿAbd ar-Raḥman As-Saḫāwī (wafat 1497) juga memaknai makna “tengah” dalam karyanya al-Maqāṣid al-Ḥasana sebagai berikut: 

"Segala sesuatu memiliki dua ujung dan satu titik tengah. Jika kamu memegang salah satu ujungnya, maka ujung yang lain akan kehilangan keseimbangan. Namun jika kamu memegang bagian tengahnya, kedua ujung akan tetap seimbang. Maka, berpeganglah pada bagian tengah dari segala sesuatu."

Dalam konteks yang sama, Imām al-Ghazālī (wafat 1111) dalam karyanya Iḥyāʾ ʿulūmid-dīn menjelaskan konsep wasathiyyah melalui perilaku para sahabat Nabi. Ia mengatakan:

"Para sahabat tidak bertindak dalam urusan dunia untuk kepentingan diri sendiri, melainkan demi agama. Mereka tidak sepenuhnya menerima dunia, tetapi juga tidak sepenuhnya menolaknya. Dengan demikian, mereka tidak ekstrem dalam penolakan maupun penerimaan mereka, melainkan mengambil jalan tengah yang seimbang — suatu sikap yang mencerminkan keadilan dan berada di antara dua ekstrem. Dan inilah sikap yang paling dicintai oleh Allah." ( Al-Ġazālī, dalam kitab Iḥyāʾ ʿUlūmiddīn)

Saat ini, konsep waṣaṭiyya dalam pengembangannya yang modern seringkali disetarakan dengan istilah “moderat.” Istilah ini secara etimologis berasal dari bahasa Inggris moderation, yang berarti pengendalian diri dan menghindari perilaku berlebihan atau ekstrem. Dengan demikian, konsep ini menekankan karakteristik umum dari Islam: menghindari segala bentuk ekstremisme, seperti ġuluww (berlebihan secara umum), tanatthuʿ (berlebihan dalam beragama), dan tasydīd (kekakuan atau ketegasan yang berlebihan). Dalam konteks ini pula, istilah moderator dalam bahasa Inggris sering digunakan untuk merujuk pada peran sebagai penengah atau pendamai yang menyeimbangkan diantara posisi-posisi yang berbeda.

Hubungan antara Islam moderat dan pluralisme (keberagaman) adalah sebuah konsep yang dikembangkan untuk mendorong rasa toleransi dan harmoni dalam masyarakat. Pengakuan terhadap keberagaman dan perbedaan dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap toleran dalam diri manusia sekaligus memperdalam rasa hormat terhadap keragaman dalam masyarakat. Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society (MMS) Indonesia, mendefinisikan Islam moderat melalui beberapa ciri utama:

  • Umat Islam yang moderat tetap berpegang teguh pada keilmuwan tradisi klasik Islam, namun juga bersikap terbuka dan kritis terhadap perkembangan zaman modern.

  • Umat Islam yang moderat menerima aspek-aspek positif dari perkembangan dunia modern selama masih sejalan dan selaras dengan nilai-nilai tradisional Islam.

  • Islam moderat juga ditandai dengan tingkat toleransi yang tinggi dan seimbang terhadap agama-agama lain maupun terhadap aliran-aliran dalam Islam sendiri, yang mendorong terwujudnya dialog antar agama dan antar aliran.

Secara keseluruhan, penjelasan Misrawi menunjukkan bahwa Islam moderat berusaha membangun hubungan yang harmonis antara praktik keagamaan tradisional dan tantangan dunia modern. Umat Islam yang moderat juga aktif terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung kesetaraan sosial dan kemaslahatan umum. Melalui keterbukaan, toleransi, dan keterlibatan sosial, berkembanglah pemahaman Islam yang tidak hanya menjaga akar spiritualnya, tetapi juga berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan damai. 

Dengan demikian, bentuk islam moderat memberikan kontribusi penting dalam membangun kehidupan bersama yang pluralis dan inklusif di dunia yang semakin mengglobal dan dinamis ini.

Wa minaAllahi tawfiq.

 Osnabrück, 13 Dzulqoʿdah 1446H

Kamis, 08 Mei 2025

Kalām Kosmologis Argumen: Pembuktian Ilmiah Eksistensi Tuhan



As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah


Hidup di lingkungan sosial yang menjunjung tinggi aspek akal dan rasionalitas dalam memahami serta mengembangkan ilmu pengetahuan mendorong terbukanya ruang dialog antara aspek teologis agama dan pendekatan ilmiah. Hal ini membuka peluang untuk membuktikan dasar-dasar kepercayaan yang selama ini sering dipandang secara dogmatis oleh kalangan barat melalui pendekatannya yang logis dan rasional. Disisi lain akal merupakan bentuk anugerah Tuhan kepada manusia sebagai alat pembenaran nash-nash agama agar manusia mampu berfikir dan membenarkan terhadap wahyu yang Tuhan berikan. Maka jauh sebelum seseorang meyakini kebenaran suatu agama, ia perlu meyakini keberadaan eksistensi Tuhan. Karena bagaimana contohnya seorang atheis meyakini kebenaran Al-Quran jika pada aspek substansinya saja mengenai keberadaan Tuhan ia tidak meyakininya. Maka muncullah pertanyaan mendasar dalam intelektual Islam untuk menjawab bagaimana membuktikan eksistensi Tuhan secara ilmiah dan rasional? 

Tak dapat dimungkiri, di Eropa—di mana aliran atheisme berkembang pesat—pertanyaan tentang eksistensi Tuhan terus menjadi perdebatan yang tak pernah usai. Diskursus ini menjadi bagian penting dalam ranah teologis dan filosofis, yang berupaya menggali esensi dan substansi asal dari seluruh kehidupan di alam ini secara rasional. Dalam tradisi intelektualitas Islam, para cendekiawan ilmu Kalam telah lama merumuskan jawaban atas persoalan ini melalui pendekatan argumentatif yang dikenal sebagai Kalam Kosmologis Argumen—sebuah upaya rasional untuk meneguhkan keberadaan Tuhan melalui pemikiran kosmologis. Konsep ini merupakan sebuah argumen filosofis dan teologis yang berupaya membuktikan keberadaan Tuhan berdasarkan awal mula alam semesta. Argumen ini berasal dari perkembangan pemikiran filosofis Islam pada abad pertengahan, khususnya dari para pemikir seperti Ibn SinaAl-Kindi dan Al-Ghazali, dan kemudian dipopulerkan lebih luas di dunia Barat oleh filsuf modern William Lane Craig dalam bukunya The Kalām Cosmological Argument yang diterbitkan pada tahun 1979.

Pada strukturnya dasar argumen Kalam ini dibangun dari 3 premis utama yaitu: 

1. "Segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti memiliki sebab".

2. "Alam semesta memiliki permulaan". 

3. "Maka demikian, alam semesta memiliki sebab".

Pada premis yang pertama mayoritas ilmuwan sepakat bahwa segala sesuatu didunia ini yang memiliki permulaan pastilah memiliki penyebab. Seperti halnya adanya kita terlahir didunia karena tentu adanya orangtua kita yang melahirkan dan tidak mungkin seorang manusia terlahir tanpa ada yang melahirkan, atau adanya benda-benda disekitar kita karena pasti ada awal dimana pabrik yang membuat dan memproduksinya dan tidak mungkin benda itu ada dan terbuat dengan sendirinya. Maka argumentasi pertama ini tidak memiliki sanggahan dan bantahan secara ilmiah karena mengacu pada hukum kausalitas (sebab-akibat), yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang memiliki awal tidak mungkin muncul begitu saja tanpa ada penyebab.

Lalu premis yang kedua "alam semesta memiliki permulaan" ini menjadi perdebatan utama bagi kalangan ilmuwan modern, apakah dunia atau alam semesta ini memiliki permulaan? atau semesta ini mungkin sudah ada dengan sendirinya? Tentu banyak -terutama orang barat- yang beranggapan bahwa "dunia atau alam semesta ini bisa saja ada dengan sendirinya ada dan abadi tanpa sebab?", sehingga mereka pada suatu kesimpulan bahwa Tuhan tidaklah mungkin ada karena dunia ini sudah ada dengan sendirinya tanpa memerlukan penyebab. Lalu bagaimana menjawabnya problematika ini?

Untuk menjawab perdebatan ini terdapat teori ilmiah dalam fisika mengenai hukum Termodinamika yang bisa digunakan sebagai sanggahan terhadap pandangan bahwa alam semesta itu ada dengan sendirinya. Teori hukum ini menyatakan bahwa dalam sistem atau ruang tertutup, entropi (tingkat ketidakteraturan) akan semakin kacau dan terus tidak teratur seiring waktu. Energi yang ada di dalamnya akan menyebar dan makin sulit dimanfaatkan. Pada akhirnya, semuanya akan sampai pada titik di mana tidak ada lagi energi yang bisa digunakan untuk melakukan apa pun. Contoh analogis mudahnya dari hukum ini ialah seperti halnya secangkir kopi panas yang dibiarkan di ruangan yang akan lama-lama menjadi dingin — panasnya menyebar ke udara, dan kita tidak bisa "mengumpulkan kembali" panas itu untuk menghangatkannya lagi, atau contoh lain bila rumah dibiarkan tanpa dirawat, ia akan makin berantakan dan berdebu, bukan sebaliknya makin rapi dengan sendirinya.

Jika alam semesta telah ada sejak kekekalan waktu (tidak memiliki permulaan), maka semestinya entropi sudah mencapai titik maksimum saat ini. Artinya, energi yang berguna seharusnya telah habis, tidak ada lagi proses termal yang berjalan, dan alam semesta akan berada dalam kondisi ‘kematian panas’ (heat death). Namun kenyataannya, kita masih menyaksikan adanya energi yang tersedia, seperti energi matahari, panas bumi, serta sumber daya lainnya—meskipun memang terus mengalami penurunan seperti pada cadangan minyak bumi dan gas.

Fakta bahwa alam semesta belum mencapai keadaan entropi maksimum mengindikasikan bahwa ia tidak mungkin telah ada sejak kekekalan waktu. Oleh karena itu, secara logis, alam semesta memiliki awal mula, karena jika premis ini salah, maka kita akan hidup dalam semesta yang sudah “mati” secara termal — dan itu bertentangan pada realitas yang kita alami saat ini. Hukum ini memperkuat dasar dari premis kedua Kalam Kosmologis Argumen.

Jika perdebatan sebelumnya telah disanggah secara logis dan ilmiah, maka kita sampai pada kesimpulan yang tak terelakkan: alam semesta memiliki sebab. Kesimpulan ini didasarkan pada dua premis utama—bahwa segala sesuatu yang memiliki permulaan pasti memiliki sebab, dan alam semesta memiliki permulaan. Maka, secara logis, keberadaan alam semesta memerlukan suatu sebab eksternal yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, yang bersifat tak terbatas dan kekal. 

Bila semesta ini memiliki sebab yang sama halnya terbatas dan juga memiliki penyebab sebelumnya, maka hal ini akan menimbulkan masalah baru yaitu tasalsul atau dalam isitlah saintisnya infinite regress (runtutan sebab yang tak berujung). Jika setiap sebab memiliki sebab sebelumnya tanpa akhir, maka tidak akan pernah ada titik awal yang nyata—dan akibatnya, tidak akan ada alam semesta seperti yang kita lihat sekarang. 

Contoh analogisnya adalah bayangkan jika kamu diperintahkan untuk menembah sebuah senapan. Tetapi sebelum kamu bisa melepaskan tembakan nya, kamu harus meminta izin dari atasanmu—dan atasanmu itu juga harus meminta izin dari atasan nya sebelumnya, dan begitu seterusnya, tanpa akhirJika setiap orang hanya bisa bertindak setelah mendapat izin dari orang sebelumnya, dan tidak ada orang pertama yang memberi izin tanpa perlu izin dari siapa pun: Hasilnya? Senapan itu tidak akan pernah terlepas tembakan nya, karena sang pemberi izin pertama nya tidak pernah ada.

Maka, eksistensi alam semeseta ini harus dengan adanya sebab pertama yang tidak disebabkan oleh apa pun—suatu sebab yang niscaya, kekal, dan mandiri tanpa memiliki sebab keberadaan nya dan tidak bergantung pada sesuatu yang lain. Dalam perspektif teologis, sebab yang transenden ini dapat diidentifikasikan bahwa penyebab dari adanya keberadaan alam semesta ini ialah Tuhan, yakni Allah, sebagai al-Khaliq (Pencipta) dan Musabbibal asbāb (Penyebab dari berbagai sebab) yang bersifat qidam (terdahulu dan yang tidak memiliki awal) serta keberadaan-Nya tidak bergantung pada sesuatu yang lain (qiyamuhu binafsihi).

Wa minaAllahi tawfiq.

 Osnabrück, 11 Dzulqoʿdah 1446H

Kamis, 25 Juli 2024

Saling Berdekatnya Waktu dan Tanda Akhir Zaman: Sebuah Refleksi Diri


As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Hidup berada di akhir zaman melihat maraknya kerusakan, kedhaliman dan fitnah yang tersebar dipenjuru dunia menggugah tulisan ini muncul untuk sekedar menjadi pengingat satu sama lain betapa dekatnya kita dengan waktu. Sebagaimana yang tertulis didalam al-quran اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ (54:1) (berdekatnya waktu/kiamat) dan juga dalam hadis: لا تقوم السَّاعة حتَّى يتقارَب الزَّمان (Tidak akan terjadi kiamat sampai saling berdekatnya waktu. Sunan Tirmidzi: 2332). 

Namun apakah yang dimaksud dengan saling berdekatnya waktu itu?

Disini izinkan saya mengutip kalamnya Syaikh Mahmud Kellner, salah seorang ulama sunni di Jerman, bahwa yang dimaksud يتقارَب الزَّمان ialah ketika waktu saling bertemu dan datang terasa menyempit yaitu ketika orang-orang merasa bahwa hidupnya terasa panjang sehingga ia melakukan perbuatan buruk dan sibuk dengan dunianya sepanjang waktu sehingga apa yang terjadi ialah waktu terasa berjalan cepat dan apa yang ia dapati begitu-begitu saja dan dari tanda-tanda ini berkurangnya perbuatan baik dan maraknya perbuatan buruk.

Disisi lain Rasulullah SAW pun memberikan isyarah yang relevan mengenai tanda tersebut dalam hadits: 

 بَلِ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْىٍ بِرَأْيِهِ وَرَأَيْتَ أَمْرًا لاَ يَدَانِ لَكَ بِهِ فَعَلَيْكَ خُوَيْصَّةَ نَفْسِكَ وَدَعْ أَمْرَ الْعَوَامِّ

Salinglah mengajak kepada perbuatan baik dan berpaling dari perbuatan buruk sampai ketika engkau akan melihat sifat kikir dan hawa nafsu di ikuti, kehidupan dunia lebih di prioritaskan dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka hendaklah engkau jaga dirimu sendiri dan tinggalkanlah perkara awam (umum)” (Sunan Abu Daud no.4341)

Lalu bagaimana gambaran muslim di akhir zaman ini? Rasulullah menggambarkan gambaran kaum muslimin di akhir zaman ini pun dengan penggambaran periode gutsaiyyah yaitu masa banyaknya jumlah muslimin, namun mereka seperti buih di genangan air. Gutsaiyyah merupakan asal kata dari غُثَاءٌ yang dipakai dari hadits tersebut dibawah ini: 

‏‏ يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا‏ ‏.‏ فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ ‏‏ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ‏ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

"Akan tiba suatu masa nanti dimana kalian (umat islam) akan diperebutkan seperti makanan yang berada di meja makan“ seorang sahabat yang mendengar menjadi kaget dan bertanya "ya Rasulullah apakah nanti kita merupakan umat yang sedikit?" (sampai-sampai diperebutkan seperti itu) Kemudian Rasulullah mengatakan "justru kalian nanti jumlah nya sangatlah banyak, namun kalian itu gutsaun ka gutsais-sayli (seperti halnya umpama buih di genangan laut). Allah akan cabut dari hati musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian, dan di dalam hati kalian terdapat Wahn" kemudian sahabat bertanya apakah Wahn itu? Rasulullah berkata "Wahn adalah cinta terhadap kehidupan dunia dan takut akan kematian". ‏(Sunan Abi Dawud 4297)

Berhubung mengenai itu Imam Fudhail bin Iyadh (w. 187 H/803 M), seorang wali dan ulama besar yang juga merupakan gurunya Imam Syafii pernah berpesan mengenai akhir zaman ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin:

إنما هذا زمان احفظ لسانك واخف مكانك وعالج قلبك وخذ ما تعرف ودع ما تنكر

"Sekarang adalah zaman nya; jagalah lisanmu, sembunyikanlah tempatmu (jangan buat dirimu terkenal/ jangan tunjukkan siapa dirimu), obati atau urusi hatimu dan ambillah apa yang baik kamu ketahui dan tinggalkan keburukan yang kamu kerjakan".

Dan pesan terakhir oleh Syekh Mahmud Kellner dengan menjelaskan pada akhirnya ada dua bentuk bagaimana seseorang dalam menyikapi pergerakkan waktu di akhir zaman ini, yaitu

1. Secara Subjektif:  yaitu seseorang yang tahu akan eksistensi waktu, namun secara tidak sadar tidak merasakan waktu yang berjalan. Ia terkesan lebih suka menunda-nunda waktunya, menggunakan nya dengan hal yang tidak baik dan juga yang tidak bermanfaat baginya, dan cenderung ia akan mendapati penyesalan di akhir karena ia telah melewatkan waktu nya dengan sia-sia. 

Ciri-ciri orang yang memandang waktu secara subjektif ialah mereka yang sering mengatakan "gue ga punya waktu", "maaf ga ada waktu" dsb. Hakikatnya setiap manusia itu memiliki waktu, tidak ada satupun yang tidak memiliki waktu. Pernyataan yang benar ialah "apa yang kalian gunakan dalam waktu kalian? untuk apa waktu kalian digunakan?" karena nyatanya kekurangan pada waktu kalian, kalian justru pakai untuk hal-hal lain seperti rebahan, main game, main hp, tidur dll.

2. Secara Objektif: ialah orang yang melek dan sadar akan eksistensi dan berjalan nya waktu. Ia sadar bahwa waktu bergerak begitu cepat dan kehidupan nya bisa saja meninggalkan nya kapan saja atas kehendak-Nya. Maka ia akan menjaga waktu nya untuk terus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi nya dan tidak menyia-nyiakan segala bentuk kesempatan dan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sampai detik ini. 

Maka marilah kita tersadar untuk bisa menghargai waktu dan tidak menyia nyiakannya apalagi memandang waktu suatu hal yang sepele. Padahal waktu merupakan anugerah dan nikmat Tuhan yang Ia berikan kepada manusia untuk bisa memanfaatkan nya selama di dunia. Sebagaimana hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah:  

قال الله عز وجل : يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي الأمر أقلب الليل والنهار
"Anak Adam menyakiti-Ku; (karena) ia mencaci waktu, padahal Aku lah sang (pemilik) waktu. Di Tangan Akulah yang menjadikan malam dan siang hari silih berganti." (HR. Sahih Bukhari No. 7491)

Wa minaAllahi tawfiq

Osnabrück, 19 Muharram 1445H


Sabtu, 02 Desember 2023

Napak Tilas Perziarahan di Kota Istanbul

 




14 Jumadil Ula 1445 H

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatullah Sobat Wayfarer!
Negara Turki terkenal akan sejarah dan pencapaian historisnya mengenai eksistensi keberadaan peradaban nya mulai kekaisaran Romawi, Byzantium hingga kerajaan Turki Utsmani (Ottoman Empire) yang telah membawa peradaban islam sebagai peradaban emas dan maju di dunia. Namun bila kita tarik jauh sebelum futuh atau runtuhnya Konstantinopel, ternyata sudah ada dari golongan sahabat, tabiin dan generasi-generasi setelahnya yang berusaha mencoba menduduki benteng terkuat kekaisaran Romawi Timur ini. Tepatnya di kota Istanbul (dahulu Konstantinopel) terdapat bukti sejarah akan banyaknya makam ataupun nisan para sahabat-sahabat Nabi .

Dalam sumber sejarah Islam, bahwa rombongan para pasukan muslim dimasa Umayyah telah berusaha menaklukan Konstantinopel untuk pertama kalinya, terdapat sedikitnya 63 orang dari sahabat Nabi. Hal tersebut tidak lain karena motivasi sahabat akan ramalan dari hadis Nabi yang mengisyaratkan bahwa pada suatu saat kelak Konstantinopel akan runtuh ditangan pemimpin muslimin. Hadis tersebut menarik perhatian para sahabat yang menjadikan nya sebagai awal mula gerakan untuk menaklukan Konstantinopel. Adapun bunyi hadisnya ialah demikian:

"لتفتحن القسطنطينية، فلنعم الأمير أميرها، ولنعم الجيش ذلك الجيش."
“Sesungguhnya akan terbuka kan Kota Konstantinopel, sebaik-baiknya pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad 4/235, Bukhori 139).

Tak hanya Konstantinopel, Rasulullah pun sebenarnya pernah memberikan banyak nubuwwah akan tertaklukkan nya beberapa kota dan negara lain, namun berbeda dengan Konstantinopel. Saat meramalkan Konstantinopel, Nabi menggambarkan pemimpin nya sebagai “ni‘ma l-amīr” yang bermakna pemimpin yang hebat/luar biasa. Prof. Ali Yardım mengatakan “mustahil untuk tidak mendengar suara meriam yang mengguncangkan tembok kota Byzantium, dalam intonasi kata “latuftahanna ” (memiliki arti “sungguh/pasti”, suatu hari nanti akan terbukakan atau ditaklukkan) yang menunjukkan keselarasan ekspresi yang singkat, pasti, penuh tekad dan penuh harapan dalam redaksi hadis ini". Hadis ini telah membawa sahabat hingga berada disana, menganugerahkan dan menurunkan keturunan-keturunan terbaik pada generasi setelahnya yang membentuk prajurit yang tangguh hingga pada akhirnya terwujudnya peradaban baru hingga sampai saat ini yang keseluruhan nya terkandung dalam makna hadis ini.

Oleh karena hadis tersebut, para kaum muslimin pasca wafatnya Nabi secara bergelombang datang ke Konstantinopel setidaknya sebanyak kurang lebih lima kali. Yang pertama kali ialah saat masa kepemimpinan Mu’awiyah bin Abu Sufyan (r.a.) di masa Umayyah pada tahun 669 M, kemudian pada tahun 673 M, 713 M, dan seterusnya. Secara bergelombang para Sahabat, Tabiin dan generasi-generasi berikutnya banyak yang ikut bergabung pada arus penaklukan tersebut dan diantara dari merekapun banyak yang kalah dan harus meninggal secara syahid dalam medan perang. Orang-orang yang datang bersama para sahabat dan juga meninggal selama perperangan, meskipun bukan termasuk sebagai Sahabat Nabi, mereka tetap dianggap oleh warga Istanbul sebagai sahabat dan makam mereka pun juga dipandang sebagai “makam sahabat”. Hinggalah akhirnya pada tahun 857 H atau tepatnya 29 Mei 1453 M Konstantinopel pada akhirnya berhasil diruntuhkan dibawah kepemimpinan Sultan Muhammad II Al-Fatih.

Kehidupan dan kematian yang saling terkait dan silih berganti sangat bisa dirasakan melalui keberadaan makam-makam di wilayah Istanbul yang mengingatkan kita akan dekatnya kematian. Dan kehadiran makam-makam ini dianggap oleh sebagai pusat spiritual suci bagi masyarakat di setiap distrik tertentu dan di kota secara keseluruhan. Makam-makam sahabat di Istanbul sering dikunjungi dan dijaga tidak hanya oleh warga biasa, namun juga mendapat perhatian dan kunjungan nya dari sultan dan pejabat pemerintah kerajaan. Para sultan dan pemerintah kerajaan dari waktu ke waktu membangun komplek makam bahkan menjadikan masjid disekitar makam agar mudah dikenali, dipelihara oleh masyarakat dan juga sebagai bentuk kehormatan serta kenangan atas jasa perjuangan mereka.

Hampir kurang lebih terdapat 28 makam sahabat di Istanbul yang sebagian mereka merupakan pasukan yang membersamai Abu Ayyub (r.a.) dan sebagian nya datang mengkuti gelombang setelahnya. Tujuh diantaranya terdapat di daerah Eyüp dan sekitarnya, 18 diantaranya berada di dalam batas benteng kota Istanbul, dan 3 diantaranya berada di daerah Beyoğlu. Namun secara pasti berapa jumlah makam para sahabat masih belum jelas. Di daerah Edirnekapı, tepatnya di Atik Ali Paşa Mahallesi, ditemukan makam Sahabat Abu Said al-Khudri yang diketahui juga bahwa beliau dimakamkan di Jannatul Baqi di Mekkah. Begitu juga para Sahabat Nabi yang disinyalir bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Istanbul, akan tetapi makam mereka dapat ditemukan di Istanbul, seperti Muhammad al-Anshari, Abdullah al-Khudri, Ka’ab bin Malik, Syu’bah, Hamdullah al-Anshari, Wahab bin Husayrah dan beberapa Sahabat lain yang makamnya masih dalam perdebatan.

Beberapa tempat yang terkenal dengan “Makam Sahabat” di Istanbul, akan tetapi mungkin beberapa tempat tersebut bisa jadi bukan merupakan makam dimana jasad para sahabat tersebut disemayamkan sebenarnya, akan tetapi bisa saja makam tersebut bermakna “Nisan Sahabat” yang dibangun dalam kerangka kecintaan untuk memberikan penghormatan bagi para sahabat Nabi tersebut. Sehingga tak heran jika dari seorang Sahabat bisa saja kita temukan makamnya di lebih dari satu tempat. Berdoa dan mendoakan mendiang almarhum seseorang memang dapat dilakukan dari mana saja, dan tidak harus didepan makam tersebut, akan tetapi dengan kita berziarah maka kedekatan hati dan ketulusan perasaan seseorang akan lebih mudah untuk menghadirkan pelajaran dan ibrah bagi kehidupan nyatanya dan akhiratnya.

Untuk mengetahui lebih lengkapnya siapa saja tokoh-tokoh muslim pendahulu yang diyakini pernah hadir dan memperjuangkan Konstantinopel pada sejarahnya, berikut dibawah ini telah saya rangkum beberapa tempat perziarahan dan makam-makam sahabat, tabiin, beserta makam para sultan, alwiya juga ulama-ulama sufi yang berada di kawasan sekitar Istanbul:

Makam Nabi Yusha bin Nun (a.s) یوشع بن نون
Lokasi: Yusa Tepesi (Joshuas Hill) - https://maps.app.goo.gl/vFKqLzMxzuV3KwBM7

Didepan pintu masuk makam Nabi Yusha bin Nun A.S

Tak banyak mengetahui ternyata terdapat makam seorang Nabi di kota Istanbul. Tak lain ialah Nabi Yusha bin Nun (a.s). Beliau merupakan cicit dari Nabi Yusuf (a.s) sekaligus murid dan juga sepupu jauh dari Nabi Musa AS. Dalam agama kristen dan yahudi mereka lebih mengenal nabi Yusha (a.s) dengan nama Joshua. Diyakini diantara tahun 1082 SM sampai tahun 972 SM beliau pernah tinggal dan mengakhiri masa hidupnya disuatu bukit diwilayah utara Jerusalem yang berada diatas persimpangan pertemuan dua laut: yaitu laut hitam (Black Sea) dan laut marmara. Yang mana bukit tersebut saat ini berada di wilayah Istanbul yang diberi nama oleh penduduk lokal dengan nama "Yusa Tepesi"

Nama Nabi Yusha sendiri tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran, namun para ahli tafsir meyakini, Nabi Yusha disebut secara tersirat di QS. Al-Kahfi: 60-65 sebagai “asisten” atau seseorang yang mendampingi Nabi Musa A.S saat mencari Nabi Khidir di persimpangan dua lautan (Majma’ul Bahrain) sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran:

"وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا ".
Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) hingga sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan (terus) berjalan sampai bertahun-tahun". (Al-Kahfi: 60)

Bukit Yusa Tepesi merupakan bukit terdekat dan tertinggi di selat Bosphorus dan juga bukit yang tertinggi kedua di kota Istanbul, setelah Bukit Camlica. Berada diketinggian 200 meter di atas permukaan laut, bukit Yusa Tepesi ini jadi salah satu lokasi terbaik untuk menikmati keindahan Kota Istanbul dan Selat Bosphorus yang menghubungkan antara dua laut, yaitu laut hitam dengan laut marmara.


Makam Nabi Yusha bin Nun A.S

Ukuran makam sangatlah besar. Panjangnya ialah 17 meter dengan lebarnya 2 meter. Orang-orang Eropa menyebutnya sebagai “makam raksasa”. Fakta mengapa makam nya dibuat besar demikian ialah bisa diklassifikasian dengan beberapa point dibawah ini:
1. Status beliau sebagai Nabi, maka atas dasar cinta dan hormat terhadapnya, dibuatlah makam dengan ukuran besar dan panjang seperti demikian.
2. Dikarenakan tempat makam ini diidentifikasi dan ditemukan melalui petunjuk spiritual, maka untuk menghindari kesalahan petak terhadap makamnya, dibuatlah makam nya besar dan panjang sedemikian.
3. Para pendahulu nenek moyang meyakini bahwa raksasa pernah mendiami puncak bukit ini dan mungkin dengan demikian mereka pun membuat makam ini sama raksasanya. Tak heran bukit ini pun secara historis memiliki nama lain sebagai "The Giant Mountain" (Gunung Raksasa). Sesuai dalam kisah sejarahnya bahwa Nabi Yusha pernah menelusuri selat Bosphorus bersama Nabi Musa A.S, dan diyakini ia meninggal terlebih dahulu disana dan dimakamkan di bukit ini. Dalam kisahnya yang lain bahwa nama "Yeshu" memiliki arti penyelamat dalam bahasa kuno Fenisia atau Kanaan yang mana diberi namakan oleh orang-orang pesisir Mediterania untuk bukit ini yang dapat terlihat oleh pandangan mereka yang berada dari laut hitam (Black Sea).

Selama masa kekerajaan Turki Usmani bukit ini telah menjadi situs religi yang banyak diziarahi oleh para penziarah. Bukit Yusa Tepesi merupakan saksi peradaban berbagai zaman dan kekuasaan. Mulai dari kekaisaran Romawi, Byzantium hingga Turki Utsmani. Bukit ini juga dianggap kawasan suci oleh warga lokal dan berbagai penganut agama disana. Nabi Yusha (a.s) wafat diusianya 110 tahun pada tahun sekitar 1209 SM.

Makam Sahabat-Sahabat Nabi di Istanbul:

1. Makam Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari (r.a.) أبو أيوب الأنصاري
Lokasi: Eyyüp Sultan Mosque - https://maps.app.goo.gl/FiircA6WmpX5qt5b6


Nampak pekarangan luar makam Sahabat Abu Ayyub al-Anshari (r.a.)
Diantara para sahabat yang terkenal diketahui dikebumikan di Konstantinopel atau saat ini di Istanbul ialah sahabat Khalid bin Zaid al-Anshari an-Najjari (r.a.) atau lebih terkenal dengan sebutan nya "Abu Ayyub al-Anshari" atau “Sultan Ayyub” bagi warga turki. Beliau merupakan kaum Anshar dari keturunan dari kabilah Hazraj. Abu Ayyub (r.a.) termasuk Sahabat Nabi yang banyak berperan dalam menjaga al-Qur’an setelah wafatnya Nabi ﷺ. Beliau juga merupakan salah seorang sahabat anshar dan tuan rumah yang membukakan pintu rumahnya dan menjadikan nya sebagai rumah sementara Nabi saat beliau dan rombongannya berhijrah ke Madinah. Setidaknya ada 7 bulan Nabi pernah tinggal dirumah Abu Ayyub saat pertama kali hijrah di Madinah.
Abu Ayyub (r.a.) datang ke Konstantinopel dengan usia yang sudah cukup tua pada gelombang pertama pasukan muslim yang mencapai kota tersebut untuk pertama kalinya, namun dikarenakan sakit beliau sudah meninggal lebih dulu di luar temboknya. Legenda menceritakan bahwa kuburannya telah hilang selama berabad-abad dan kemudian ditemukan kembali selama penakluklan melalui Ottoman pada tahun 1453. Saat makam sahabat Abu Ayyub (r.a.) ditemukan, Sultan Al-Fatih belumlah benar-benar membangun kerajaan di Konstantinopel. Maka saat itu salah satu pembangunan kerajaan yang pertama adalah dengan membangun makam Sahabat Abu Ayyub (r.a.) ini. Beliau disemayamkan di daerah Istanbul yang diberi nama beliau sendiri yaitu daerah Eyüp (Ayyub) disamping masjid Eyyüp Sultan Camii yang dibangun oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih beserta juga makamnya. Daerah Eyüp saat ini menjadi salah satu landmark paling penting di Istanbul dimana tempat ribuan orang dan peziarah melakukan zirayah setiap hari.

Makam Sahabat Abu Ayyub R.A yang dibatasi oleh pintu untuk ke makamnya
Saat Abu Ayyub (r.a.) mendengar bahwa suatu hari Konstantinople akan ditaklukkan Islam, beliau bergabung dengan para tentara untuk datang ke Konstantinopel, dan karena sakit akhirnya beliau wafat disana.

Oleh karenanya, setelah penaklukan Istanbul (Konstantinopel), masjid yang pertama kali dibangun diberi nama bukanlah nama Sultan Fatih akan tetapi diberi nama “Eyyüp Sultan Camii”, yang merupakan tertuju kepada Sahabat Nabi ini yang pernah berjasa dan berperan menjadi panglima dalam perang pertama kaum muslim menakluklan Konstantinopel. Tak heran terdapat nasihat warga lokal agamis untuk menyarankan bagi siapa yang mengunjungi kota Istanbul alangkah baik dan adabnya untuk menyempati dan mengunjungi makam Abu Ayyub (r.a.) terlebih dahulu.
Bagi sebagian orang yang datang dari luar kota, keberadaan makam Eyüp Sultan menjadi alasan tersendiri untuk mengunjungi Konstantinopel. Kehadiran sahabi ini di Istanbul tidak hanya penting pada masa Ottoman tetapi juga menjadikan Istanbul tempat penting di antara tempat ziarah saat ini. Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari wafat pada tahun 669-674 M atau sekitar 50 H.

2. Makam Sahabat Abu Sa’id al-Khudri (r.a.)

Depan Makam Sahabat Abu Said Al-Khudri R.A

Berada di daerah Fatih, yaitu di Jalan Sultan Çeşmesi tepatnya disamping Masjid Kariye Camii yang dahulunya adalah gereja orthodoks yunani yang bernama Biara Khora yang telah cukup tua dibangun pada tahu 413 M, terdapat makam seorang sahabat yang terkenal dalam periwayatan hadis. Yang tak lain bernama Abu Said Al-Khudri (r.a.) Nama asli beliau adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri, beliau lahir di Madinah dan merupakan keturunan dari kabilah Khazraj. Ketika masih kecil, beliau telah ikut terlibat untuk membantu pembangunan Masjid Nabawi.

3. Tiga Makam Sahabat di Masjid Bawah Tanah: Amr bin Ash, Wahab bin Husayrah dan Sufyan bin Uyaynah (r.a.)
Lokasi: Masjid Yeralti Camii - https://maps.app.goo.gl/HRcUdt5BEhmhEa6F9

Tampak foto depan masjid Yeralti Camii

3.1. Makam Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah (r.a.) عمرو بن العاص و وهب بن هثيرة

Didepan makam Sahabat Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah R.A
Sahabat Amr bin Ash (r.a.) terlahir di Mekkah dengan nama Amr bin al-Ash bin Wa’il as-Sahmi al-Quraisyi, merupakan salah seorang tokoh dari kabilah Quraisy. Beliau disamping seorang prajurit juga seorang politisi yang cerdas. Sebelum beliau memeluk Islam, beliau adalah seorang panglima dari Kabilah Quraisy dalam memerangi kaum muslim, akan tetapi setelah memeluk Islam beliau sangat menyesali perbuatannya. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar (r.a.), beliau bergabung dalam penaklukan Palestina, bersama tentara kecil yang memperoleh kemenangan besar hingga pada masa Khilafah Sayyidina Umar (r.a.), Palestina sepenuhnya memeluk Islam. Beliau juga dikenal sebagai pembawa risalah islam dan penakluk Mesir dari kekuasaan Byzantium. Pada perang Shiffin beliau juga memegang kendali dan menjadi panglima Pasukan Kavaleri Syam. Saat terjadinya pembunuhan pada peristiwa orang-orang Khawarij beliau pun selamat, dan tiga tahun setelah peristiwa tersebut beliau wafat pada sekitar tahun 663-664 M diusia 90 tahun. Disini terdapat ikhtilaf dikarenakan tahun wafatnya beliau lebih awal daripada tahun dimulainya penaklukan Konstantinopel pertama kali di tahun 669 M. Dr. Adem Apak, seorang peneliti dari Uludağ Üniversitesi, berkata demikian bahwa ”Amr bin Ash menjadi seorang gubernur di Mesir, dan pada tahun penaklukan Istanbul pertama kali, beliau 6 tahun sebelumnya telah lebih dulu wafat, dan di Mesir daerah Fustat terdapat juga makam beserta masjid dengan nama beliau juga, maka ini tidak ada hubungan sama sekali dengan Istanbul”.

Makam mereka dapat ditemukan di daerah Karaköy tepatnya di dalam Masjid Yeraltı Camii. "Yerati" dalam bahasa turki memiliki arti bawah tanah. Karena dahulunya sebelum masjid ini dibangun, tempat tersebut merupakan sel penjara bawah tanah yang dikisahkan bahwa ketiga sahabat nabi ini dimakamkan disana dimana mereka dipenjarakan oleh musuh (Byzantium) sampai akhir hayatnya di dalam penjara tersebut. Barulah saat Konstantinopel dikuasai oleh Turki Usmani, tempat tersebut lalu dibangunkan makam beserta masjid untuk menghormati keberadaan sahabat nabi yang ditemukan disana.

Masjid Yeralti Camii merupakan salah satu hidden gem bagi para pengunjung kota Istanbul, karena keberadaan nya tak banyak diketahui serta tak tampak terlihat walau keberadaan nya berada di dalam pusat kota.

Makam dua Sahabat Nabi: Amr bin Ash dan Wahab bin Husayrah (r.a.)

4.2 Makam Sufyan bin Uyaynah (r.a.) سفيان بن عيينة

Makam Sahabat Sufyan bin Uyaynah (r.a.) tampak didalam

Makam Sahabat Sufyan bin Uyaynah (r.a.) tampak dari luar

Masih berada didalam masjid Yeralti Camii terdapat sahabat Nabi Sufyan bin Uyaynah R.A. Beliau merupakan seorang sahabat yang mempunyai kecerdasan tajam, mempunyai penalaran dan pemikiran yang kuat dan lurus, sehingga beliau juga dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan setidaknya tujuh ribu hadis. Makam beliau berada di daerah Karaköy tepatnya di dalam Yeraltı Camii.

4. Abu Darda/Abu Derdag Al-Anshari (r.a.) أبو درداء الأنصاری

Pintu depan masuk kedalam makam Sahabat Abu Darda (r.a.)
Terletak tidak jauh dari kawasan Eyüp dan masjid nya Eyyüp Sultan Mosque, terdapat makam seorang sahabat Nabi yang memiliki nama kunyah Abu Darda atau juga Abu Derdag (r.a.). Beliau merupakan Sahabat Nabi yang pernah menjadi Qodhi (Hakim) muslim pertama di Syam. Nama asli beliau adalah Uwaymir bin Zayd bin Ka’is dan setelah perang badar beliau memeluk agama Islam. Setelah masuk Islam Abu Darda’ (r.a.) memutuskan untuk berhenti berdagang agar dapat menghabiskan banyak waktunya bersama Nabi . Beliau termasuk para Sahabat yang hafal Qur’an dengan 4 Qiraat (Bacaan). Abu Darda wafat pada tahun 652 M diusia 72 tahun. Tentu terdapat ikhtilaf pendapat mengenai authentitas keberadaan makam sahabat ini, karena didapati adanya perbedaan tempat makam beliau yang ditemukan berada di Damaskus dan juga di Alexandria.

Makam Sahabat Abu Darda’ (r.a.), di Istanbul yang terletak di daerah Eyüp dan di Karacaahmet terdapat dua makam beliau. Diketahui bahwa beliau wafat pada tahun 652 H, artinya 17 tahun sebelum tahun penyerangan Istanbul (Konstantinopel) pertama kali yaitu tahun 669 H.

6. Makam Sahabat Abu Shaybah al-Khudri (r.a.)


Abu Shayba al-Khudri al-Ansari (r.a.), yang merupakan saudara angkat Nabi Muhammad SAW dan berusia sekitar 85-90 tahun selama kampanye, adalah salah satu sahabat yang gugur sebagai syahid di dalam tembok kota selama pengepungan. Dilaporkan dalam sumber bahwa makamnya, yang dibangun pada masa Mehmed II, era Penakluk setelah penaklukan kota di Pemakaman Tokludede di dalam tembok kota di lingkungan Ayvansaray, telah menjadi salah satu situs kunjungan yang sangat diminati oleh warga Istanbul.
Beliau adalah termasuk para Sahabat yang datang di masa-masa peaklukan Istanbul, dan makamnya dibangun oleh Fatih Sultan Mehmed, yang dapat ditemukan di Ayvansaray Istanbul.

7. Makam Sahabat Jabir bin Abdullah al-Anshari (r.a.)


Beliau merupakan keturunan Bani Hazraj, dan lahir di Madinah. Beliau bertemu Nabi ketika Perjanjian Aqobah yang kedua, dan beliau terhitung 19 kali ikut berperang bersama Nabi. Sebanyak 1540 Hadis diriwayatkan oleh beliau, sehingga beliau termasuk 5 orang Sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan Hadis. Dan setelah Nabi wafat, beliau menjabat sebagai Penasehat pada keempat Kekhalifahan setelahnya. Pada penaklukan Istanbul, diceritakan bahwa beliau ikut sebagai tentara pembawa bendera. Makam beliau berada di Ayvansaray, di dalam Masjid Atik Mustafa Paşa Camii.

Di daerah Ayvansaray di dalam Masjid Koca Mustafa Paşa terdapat makam Sahabat Jabir bin Abdullah, yang diketahui beliau wafat di Madinah pada tahun 698 H, dan menurut beberapa sumber berbeda, beliau di Makamkan di Jannatulbaki Makkah.

8. Makam Sahabat Abu Dzar al-Ghifari (r.a.)




Beliau termasuk keturunan Kabilah Ghifar yang waktu itu sering melakukan penjarahan, merampok di jalan dan menyembah berhala, akan tetapi setelah beliau memeluk Islam, di Madinah Munawwaroh beliau mendakwahkan Islam kepada saudara dan kerabat dekatnya di Ghifar. Pada perang Badar, Uhud, Hondak serta penaklukan Siprus, beliau turut bergabung. Dan karena penyakit yang diderita, beliau lama tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Makam beliau di Istanbul terletak di Ayvansaray, tepatnya di Karabaş Mahallesi, di samping Masjid Çınarlı Çeşme Mescidi.

Sahabat Abu Dzar al-Ghifari diyakini ditemukan makamnya di Konstantinopel, padahal diketahui beliau wafat 19 tahun sebelum tahun penaklukan Istanbul yang pertama kali. Dari sumber yang dapat diterima beliau wafat di Madinah.

9. Makam Sahabat Kaab bin Malik (r.a.)





10. Makam Sahabat Muhammad al-Anshari (r.a.)

Beliau bersama Abu Ayyub al-Anshari bergabung dalam penaklukan Istanbul. Makamnya terletak di Ayvansaray tepatnya di Karabaş Mahallesi.

11. Makam Sahabat Hamdullah al-Anshari Ahmad al-Anshari (r.a.)






12. Makam Sahabat Abdurrahman Asy-Syami (r.a.)



13. Muslim bin Abdul Malik (r.a.)



Makam Sultan - Sultan, Syaikh dan Awliya di Istanbul:

1. Sultan Muhammad II Al-Fatih
Lokasi: Fatih Sultan Camii - https://maps.app.goo.gl/nQzoDSLGX8dkv3xq8




2. Sultan Mahmud II, Sultan  Abdul Hamid dan Sultan Sultan Abdul Aziz


3. Sultan Sulayman Al-Qanuni (The Magnificent)


4. Sultan Abdul Wadud



5. Syaikh Aziz Mahmud Hudayi 



6. Syaikh Yahya Effendi



Demikianlah sedikit informasi tentang makam para Sahabat Nabi yang berada di Istanbul, terlepas dari khilafiyah atau perbedaan pendapat tentang kebenaran dimakamkannya jasad para Sahabat Nabi pada kuburan tersebut, benarkah makam tersebut merupakan makam kubur, ataukah sekedar makam nisan untuk menghormati dan mengenang para Sahabat Nabi tersebut. Ziarah kubur diniatkan untuk dapat lebih menguatkan keimanan dan ketakwaan kita pada Allah, mengingatkan kita akan kematian yang senantisa membayangi kita.

إنِّي نهَيْتُكم عن زيارةِ القُبورِ فزوروها؛ فإنَّ فيها عِبرةً

Dari Abu Sa’id al-Hudlri, dari Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku (dulu) telah melarang kalian untuk mengunjungi kuburan, maka ziarah lah (sekarang). Sesungguhnya terdapat pelajaran di dalamnya”. (H.R Ahmad, warijaluhu rijalussahih - Dalam kitab Hafidz al-Haitsimi, Mujma’ Zawa’id wa Manba’ Fawa’id, Juz 3, Hal 84)

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat Rahmat, Ibrah dan InayahNya..Amin allahumma amin.