Selasa, 21 Februari 2023

Ibrah Terhadap Adanya Musibah Bencana Alam

  

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Ibrah Terhadap Adanya Musibah Bencana Alam 

Tepat pada akhir-akhir ini (Februari 2023) kita mendapati berita duka mendalam mengenai bencana alam yaitu gempa yang menimpa kepada saudara sesama muslim kita di Turki dan Suriah. Disebut juga sebagai gempa terbesar yang dialami Turki dari puluhan tahun terakhir sejak 1950 dengan kekuatan 7.8 skala richter yang banyak menewaskan ribuan nyawa manusia. 

Adanya gempa ini tentunya menaruh banyak perhatian dari kalangan muslim dan non-muslim diseluruh dunia dan salah satunya Jerman yang memiliki hubungan relasi dan kedekatan yang kuat diantara dua negara ini, melihat banyak nya penduduk dan keturunan Turki yang hidup dan tinggal menetap di Jerman. Sehingga banyak ditemukan di Jerman berbagai aksi solidaritas dari lembaga-lembaga islam dan masjid-masjid untuk menyumbangkan donasi baik dalam bentuk finansial maupun kebutuhan berupa barang-barang seperti makanan, obat-obatan, pakaian dsb.

Dalam konteks ini lalu bagaimanakah sikap seorang muslim yang baik dalam menanggapi musibah berupa bencana alam yang diberikan Allah ini

Syekh Mahmud Kellner menyampaikan setidaknya terdapat 3 point hikmah yang dapat kita petik sebagai ibrah atau pelajaran akan terjadinya musibah bencana alam:

1. Seorang muslim yang tidak terdampak bencana secara langsung, sebenarnya pun juga ikut terdampak secara tidak langsung, karena betapa pentingnya jiwa kemanusiaan, sehingga menuntun dan mengharuskan nya mereka untuk saling menolong dan membantu sesama saudara muslim yang membutuhkan pertolongan kita. Bantuan tentunya tidak harus terjun menjadi sukarelawan disana, dengan menyedekahkan sebagian dari rezeki kita kepada mereka itu sudah bagian dari pertolongan kita yang dengan nya menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas kita kepada mereka yang ditimpa musibah dan bencana.

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا 

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kegembiraan kepada seorang mukmin, menghilangkan salah satu kesusahannya, membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan.” (HR. at-Thabrani) 

2. Point yang kedua ialah bahwa Allah ingin menunjukkan kebesaran serta tanda tanda -Nya melalui bentuk takhwif (ancaman atau membuat ketakutan). Adanya musibah yang terjadi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa suatu musibah yang terjadi itu karena perilaku buruk manusia yang tedampak atau karena hukuman yang diperuntukkan kepada mereka. Namun adanya musibah ini menjadikan nya sebagai ujian kepada kita untuk tidak menjadikan dunia yang kita singgahi ini bukan sebagai mata pencaharian kita, juga bukan sebagai tujuan akhir kita. 

Bagi seorang muslim yang sejati hendaknya menaruh dunia ini pada genggaman tangan nya, bukan pada lubuk hatinya. Baik orang yang dalam kondisi ekonomi diatas maupun yang dibawah, mereka memiliki kesamaan dalam menghadapi ujian, namun berdasarkan dengan kondisi nya yang berbeda. Yang berada diatas dengan diberikan nya rezeki dan nikmat yang berlebih, hendaknya untuk bersyukur dan menggunakan kelebihan nya itu untuk membantu yang dibawah dan jangan sampai menjadikan nikmat yang didapatnya menjadikan nya takabbur. 

Yang berada dibawah pun sama hendaknya untuk tetap bersyukur, bersyukur dengan segala kondisi yang didapatinya dan juga jangan sampai kondisi yang baginya kurang ini malah menumbuhkan penyakit hati seperti dengki, iri hati sehingga menuntun nya untuk berbuat berbagai hal buruk demi bisa merubah kondisinya menjadi lebih baik.

3. Hikmah yang ketiga ialah dengan adanya musibah bencana ini membuat kita tersadar bahwa begitu cepatnya dunia ini berubah, dapat begitu cepatnya Allah merubah dunia ini. Dalam hitungan detik suatu bangunan yang kokoh bisa hancur dan roboh seketika atas kehendak-Nya. Kota yang begitu asri nan hijau begitu cepat menjadi berantakkan porak-poranda dengan tumpukkan keping-kepingan gedung dan rumah yang hancur dari gempa. Kita harus sadar bahwa Kuasa Allah dapat merubah apapun yang dimiliki-Nya atas kehendak-Nya.

Muslim yang baik akan selalu menyiapkan dirinya akan kematian nya disetiap waktu, karena ia sadar dan merasakan bahwa dirinya dapat dipanggil oleh Sang Kuasa kapan pun dan dimanapun ia berada.

Dalam menyikapi bergerak cepat nya zaman atau waktu, maka kita perlu merefleksikan diri dan melek keadaan dalam menghadapi pergerakkan waktu di dunia ini yang begitu cepat. 

Dalam konteks ini Syekh Mahmud Kellner menjelaskan ada dua jalan bagaimana seseorang dalam menyikapi pergerakkan waktu, yaitu

1. Secara Subjektif:  yaitu seseorang yang tahu akan eksistensi waktu, namun secara tidak sadar tidak merasakan waktu yang berjalan. Ia terkesan lebih suka menunda-nunda waktunya, menggunakan nya dengan hal yang tidak baik dan juga yang tidak bermanfaat baginya, dan cenderung ia akan mendapati penyesalan di akhir karena ia telah melewatkan waktu nya dengan sia-sia. 

Ciri-ciri orang yang memandang waktu secara subjektif ialah mereka yang sering mengatakan "gue ga punya waktu", "maaf ga ada waktu" dsb. Hakikatnya setiap manusia itu memiliki waktu, tidak ada satupun yang tidak memiliki waktu. Pernyataan yang benar ialah "apa yang kalian gunakan dalam waktu kalian? untuk apa waktu kalian digunakan?" karena nyatanya kekurangan pada waktu kalian, kalian justru pakai untuk hal-hal lain seperti rebahan, main game, main hp, tidur dll.

2. Secara Objektif: ialah orang yang melek dan sadar akan eksistensi dan berjalan nya waktu. Ia sadar bahwa waktu bergerak begitu cepat dan kehidupan nya bisa saja meninggalkan nya kapan saja atas kehendak-Nya. Maka ia akan menjaga waktu nya untuk terus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi nya dan tidak menyia-nyiakan segala bentuk kesempatan dan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya sampai detik ini. Maka marilah kita tersadar untuk bisa menghargai waktu atas pemberian-Nya kepada kita. 

Sebagai penutup saya ingin mengutip satu qaul yang memiliki makna tersirat dari Imam Syafii melalui pernyataan singkat nya mengenai waktu:

الوقت كالسيف ان لم تقطعه قطعك
"Waktu itu ibaratkan pedang, jika kamu tidak bisa memotong nya, maka ia yang akan memotongmu"

Wa minaAllahi tawfiq.

Osnabrück, 01 Syaʿban 1444H

Senin, 13 Februari 2023

Memahami Konsep Ta‘alluq dalam Sifat Wajib Allah


  

As-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llah

Untuk mendekatkan diri kita kepada Sang Khaliq, maka alangkah baik nya bagi seorang mukallaf tak hanya beribadah secara amaliyah, namun juga beribadah secara fikriyah melalui bertambahnya ilmu dengan belajar dan mengenal Allah. Salah satu langkah awal mengenal-Nya ialah dengan mengenali sifat sifat-Nya yang terhimpun dalam aqaid seket atau akidah yang 50 yang terbagi menjadi sifat wajib, mustahil dan jaiz nya Allah, sebagaimana yang terhimpun dalam akidah ahlussunnah wal-jamaah yang disusun oleh Imam Abu Hasan Al-Asyʿari (837-936) dan Imam Abū Mansūr al-Māturīdī (853-944)

Dalam meyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz nya Allah maka perlu adanya pembuktikan yang nyata atas eksistensi keadaan sifat tersebut, meskipun terdapat dalil naqli (Al-Qur’an dan hadits) yang merupakan salah satu sumber primer berakidah, namun kita sebagai manusia tetap membutuhkan penalaran akal sehat, karena bagi orang yang sama sekali belum percaya terhadap eksistensi Allah sebagai Tuhan, ia akan bertanya-tanya bagaimana mungkin ia bisa menyakini kebenaran Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil eksistensi nya Allah, sedangkan ia saja bahkan belum meyakini adanya eksistensi Allah sebagai Tuhan. Tentu ia pun tidak akan menerima Al-Qur’an dan hadits cuma-cuma sebagai dalil pembuktiannya. 

Nah penalaran akal sehat di dalam konteks akidah dikenal dengan "hukum ‘aqli" yang ada tiga, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz. 

  • Wajib: ialah segala hal yang menurut akal wajib atau pasti adanya dan tidak mungkin dapat diterima ketiadaannya. 
  • Mustahil: adalah segala hal yang menurut akal pasti tidak ada atau tidak diterima adanya.
  • Jaiz atau Mumkināt: adalah segala hal yang menurut akal bisa saja ada maupun tidak ada, atau dapat diterima ada maupun ketiadaan nya. Adalah hal-hal yang bersifatnya mungkin.

Mengenai korelasi sifat wajib Allah dengan hukum 'aqli, tahukah kalian bahwa di dalam sifat wajib Allah terdapat konsep yang menghubungkan suatu sifat dengan hasil keadaan sifat tersebut yang menunjukkan pengaruh pada sesuatu yang disifatinya, yang konsep ini dinamakan Ta‘alluq.

Taalluq nantinya akan dibagi lagi dalam pembagian nya berdasarkan pada 3 hukum 'aqli diatas. Namun karena konsep ini berkaitan dengan sifat Ma‘ani nya Allah, maka alangkah baiknya kita memahami dan memurajaah kembali pengertian dari 13 sifat wajib Allah yang terdiri dari sifat Nafsiyah, Salbiyah serta Mani sebelum masuk ke konsep Ta‘alluq yang berlanjut dan bertransformasi kepada 7 sifat Ma‘nawiyah.