﷽
Bagi orang Indonesia tentu nama seperti Iqro merupakan hal yang mudah
untuk diucapkan dan diingat, tapi tidak bagi kebanyakan orang Jerman. Nama
ini asing didengar dan sulit untuk dilafalkan bagi mulut orang Jerman
kebanyakan. Maka tak banyak dari mereka yang lebih nyaman untuk memanggil
dengan nama depanku yaitu "Muhammad". Tentu nama ini sangatlah awam dan
banyak didapati oleh nama seseorang yang identik dengan muslim dan agama
Islam.
Meskipun begitu alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ku mengalami
bentuk rasisme ataupun diskriminasi, justru sebaliknya aku mendapatkan keistimewaan, kehangatan dan sambutan baik bagi sesama muslim
baik itu yang berasal dari Arab, Turki, Mesir dll yang baru ku kenal di
Jerman. Pengalaman itu akan ku ceritakan melalui kisah bekerjaku di suatu perusahaan mobil ternama di
bawah ini:
Ich bin Muhammad!
Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang cerah menyambut hari pertamaku untuk memulai bekerja di perusahaan industri mobil yang sama sekali
tidak pernah terpikirkan untuk bisa bekerja di perusahaan ini
sebelumnya.
Hari senin itu aku melihat jadwal shift yang kudapat ialah shift siang yang
mana karena pekerjaanku fulltime, menandakan bahwa kerja harianku akan tuntas
sampe malam hari yaitu jam 10 malam. Lantas apa yang ada dikepalaku pertama
kali ialah,
"Bagaimana aku harus solat? sedangkan untuk menjamak saja di waktu
ku berangkat jam 12 itu belum masuk waktu dzuhur, gimana untuk sholat ashar,
maghrib hingga isya?"
Masa iya aku harus mengqadha sholat diakhir dan
melaksanakan 4 kali sholat di satu waktu. Karena pikirku ketika sudah berada
di perusahaan tsb pasti sibuk kerja bongkar pasang produksi mobil dan pasti
sulit untuk menemukan tempat untuk sholat. Tapi aku tetap berpositif thinking
nantinya bisa curi-curi waktu buat sholat selagi istirahat ditempat yang sepi.
|
|
Seragam kerja beserta ID card yang diberikan untuk bekerja saat
itu.
|
Pukul 12 lebih 15 aku mulai beranjak berangkat keluar dari kediaman rumah
menuju ke pabrik mobil tersebut. Beruntung karena rumah yang kutinggali sementara ini terletak tidak terlalu jauh dari tempat kerja, sehingga akhirnya
aku memutuskan untuk berjalan kaki saja yang memakan waktu 20 menitan.
Sampai pada di perusahaan Daimler yang berluaskan seperti kompleks
perumahan elit dengan gedung-gedung panjang seperti pabrik produksi pada
umumnya.
Berjalan aku menyusuri ujung2 gedung untuk mengikuti arahan dari Google Maps
ke tempat lokasi Treffpunkt (Meeting Point) bersama para pekerja lainnya yang
baru memulai kerja nya dihari tersebut sama sepertiku.
Setelah sampai di Treffpunkt yang berlokasikan di depan salah satu kompleks gedung Daimler, terlihat sudah ada
beberapa pekerja yang juga sudah menunggu hingga seiring berjalan waktu terus
bertambah banyak datang selagi menunggu informasi atau kabar berkaitan
pembagian atau penempatan kerja dihari pertama ini.
Hingga beberapa lama menunggu, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak dengan
secarik kertas dibawanya.
"Ist da jemand hier mit dem Vornamen Muhammad?" (apakah disini ada yang
bernama depankan Muhammad?) Sontak suara bapak-bapak yang datang menghampiri
kerumunan para pekerja baru disitu termasuk aku.
"Ja das bin ich, Muhammad" ("Ya, itu aku, Muhammad") jawabku selagi
mengancungkan tangan menjawab pertanyaannya. Aku berpikir melihat
temen-temen pekerja disini yang berwajahkan bule-bule, adapun berwajahkan
asing itupun dari negara jauh lain seperti afrika. Jadi dengan percaya diri
aku yakin Muhammad yang dimaksud itu tertuju untukku.
"Komm doch bitte mal kurz" (Tolong kesini bentar) jawabnya,
Sambil menunjukkan identitas diri ku ia menanyakan apakah benar bahwa yang
dimaksud adalah Muhammad yang dituju, dan benar semua sesuai data
diriku.
"Ja, das sind alle hier richtig!" ( ya, semua datanya benar) jawabku,
"OK dann kommst du jetzt bei mir mit" (Oke, kalau gitu kamu ikut aku!) kata bapak
tersebut,
Dengan perasaan heran dan bingung "kenapa aku sendiri yang dipanggilnya?",
akhirnya akupun terpisah dengan rombongan para pekerja baru lainnya dan aku
pun mulai bertanya-tanya.
"Warum nimmst du nur mich und lassen die andere da noch warten?" (kenapa
kamu hanya mengambil aku dan meninggalkan pekerja baru yang lain menunggu
disana?) tanyaku kepada sang bapak.
"Weil nur du einfach ausgewählt wurdest" (karena hanya kamu sendiri yang
terpilih)
Heran dan sedikit bingung tapi aku berusaha untuk tidak banyak bertanya
dahulu dan tetap mengikuti proses awal untuk memulai bekerja disini.
Bapak itu sedikit menjelaskan jalan masuk kedalam departemen tempat dimana
aku akan bekerja dan mengenalkan tempat-tempat disekitar.
"Hier ist der Pausenraum, da sollst du jetzt einfach nur warten bis der Leiter zu dir kommt. Das kann vielleicht bis halbe Stunde dauern. Geh doch mal drin
und warte" (Disini ialah ruang istirahatnya, kamu sekarang tunggu didalam
sampai bos nanti datengin kamu, kurang lebih sampai setengah
jam lagi)
Singkat kata dari sang bapak menyuruhku untuk menunggu diruang istirahat
tersebut hingga tibalah bos setempat datang.
"Du muss Muhammad sein, oder?" (Kamu pasti Muhammad kan?) tanya dia,
"Ja richtig, Ich bin´s" (Ja betul itu aku)
Disaat itu terjadi lah dialog kecil diriku dengan bos. Bosku yang tampak
dari wajahnya seperti blasteran arab dan eropa kala itu memegang kontrak
kerjaku yang akan ku tanda tangani beserta form dan CV. Dalam dialog itu pun beliau mengatakan bahwasanya beliau tertarik dengan negara Indonesia dan tak diduga beliau melemparkan satu pertanyaan yang
membuatku harus bercerita panjang. Ya, beliau bertanya:
"Wie hatte sich der Islam in deinem Heimatland Indonesien verbreitet?"
(Bagaimana agama Islam bisa tersebar di negara asalmu Indonesia?).
Dari
pertanyaan ini serentak tersadar dari hati kecilku bahwa beliau ternyata
seorang muslim. Beliau pun mulai perlahan mengenalkan dirinya yang biasa
disapa Ismail. Beliau mengatakan bahwa dibawah kepemimpinan dan jabatan nya
saat itu, beliau menarik banyak muslim yang telah mendaftar kerja di Daimler
untuk masuk di departemen nya. Yang mana kebetulan disitu aku termasuk
menjadi pilihan nya beliau. Beliau menjelaskan dari ratusan applicant yang
terqualifikasi masuk, beliau sesekali memperhatikan nama-nama yang identik
dengan muslim, sehingga karenanya Muhammad ada dalam namaku, beliau
akhirnya mengambil aku masuk ke departemen nya sebagai jawaban kenapa hanya
aku yang terpanggil ke departemen nya sendiri.
"Wah alhamdulillah" ucapan rasa syukur dan beruntung dalam kecil hatiku kala mendengar apa yang beliau sampaikan. Di hari pertama kerja beliau
mengajak aku berkeliling, dan saat itu pula beliau menunjukkan suatu tempat
yang mana tidak untuk diperlihatkan oleh pekerja umumnya, yaitu Musholla.
Iya, ruang beribadah untuk muslim agar tentunya bisa melaksanakan shalat.
Aku pun terkagum kagum dan sangat terasa mind-blowing sekali mendapat apa
yang aku temukan di hari pertama aku kerja disini.
Sungguh bagi aku suatu pengalaman pertama bekerja ditempat yang mayoritas
kolleganya ialah non muslim di perusahaan besar Jerman seperti Mercedes Benz.
Namun walaupun begitu tampak cahaya islam menyinari dan menerangi para
pekerja muslim disana, sehingga diberikan nya kemudahan mereka menjalankan
ibadah tanpa harus meninggalkan kesibukkan dan pekerjaan yang menjadi
kewajiban lainnya. Subhānā-llāh…