Sabtu, 12 November 2022

Menggali Khazanah Ilmu Tauhid di Bumi Eropa. Apa itu "Teologi Islam"?



17 Rabiul Akhir 1444 H

Berbicara ilmu tauhid, tentu akan muncul banyak pertanyaan serta argumentasi teologis mengenai hal-hal yang berkaitan metapyhsik seperti Dzat Allah, Jin, Malaikat maupun hal dan eksistensi lain yang tidak bisa dirasionalkan dan tak nampak pandangan nya oleh mata dan akal sehat kita sebagai manusia.

Pertanyaan akidah mendasar bagi kita seorang manusia bisa awali dengan "Apakah eksistensi Allah sebagai Tuhan itu benar adanya? lalu bagaimana pembuktian nya?". 

Maka tugas seorang teolog menjawab pertanyaan ini melalui argumen-argumen akidah yang bisa diterima oleh penalaran akal sehat dan keyakinan yang lurus yang bersandarkan Al-Quran dan Sunnah melalui metode-metode empiris secara normatif dan sistematis

Ranah keilmuwan yang abstrak nan luas khazanah pemikiran nya serta sudut pandang nya mengenai Sang Pencipta, ini termasuk menjadi suatu bagian kajian dalam disiplin ilmu Teologi Islam.

Sabtu, 05 November 2022

Secercah Cahaya Islam di Perusahaan Besar Automobile Jerman


10 Rabiul Akhir 1443 H

Bagi orang Indonesia tentu nama seperti Iqro merupakan hal yang mudah untuk diucapkan dan diingat, tapi tidak bagi kebanyakan orang Jerman. Nama ini asing didengar dan sulit untuk dilafalkan bagi mulut orang Jerman kebanyakan. Maka tak banyak dari mereka yang lebih nyaman untuk memanggil dengan nama depanku yaitu "Muhammad". Tentu nama ini sangatlah awam dan banyak didapati oleh nama seseorang yang identik dengan muslim dan agama Islam. 

Meskipun begitu alhamdulillah sampai saat ini tidak pernah ku mengalami bentuk rasisme ataupun diskriminasi, justru sebaliknya aku mendapatkan keistimewaan, kehangatan dan sambutan baik bagi sesama muslim baik itu yang berasal dari Arab, Turki, Mesir dll yang baru ku kenal di Jerman. Pengalaman itu akan ku ceritakan melalui kisah bekerjaku di suatu perusahaan mobil ternama di bawah ini: 

Ich bin Muhammad!

Pagi hari menyapa dengan sinar matahari yang cerah menyambut hari pertamaku untuk memulai bekerja di perusahaan industri mobil yang sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk bisa bekerja di perusahaan ini sebelumnya. 

Hari senin itu aku melihat jadwal shift yang kudapat ialah shift siang yang mana karena pekerjaanku fulltime, menandakan bahwa kerja harianku akan tuntas sampe malam hari yaitu jam 10 malam. Lantas apa yang ada dikepalaku pertama kali ialah, 

"Bagaimana aku harus solat? sedangkan untuk menjamak saja di waktu ku berangkat jam 12 itu belum masuk waktu dzuhur, gimana untuk sholat ashar, maghrib hingga isya?" 

Masa iya aku harus mengqadha sholat diakhir dan melaksanakan 4 kali sholat di satu waktu. Karena pikirku ketika sudah berada di perusahaan tsb pasti sibuk kerja bongkar pasang produksi mobil dan pasti sulit untuk menemukan tempat untuk sholat. Tapi aku tetap berpositif thinking nantinya bisa curi-curi waktu buat sholat selagi istirahat ditempat yang sepi.

Seragam kerja beserta ID card yang diberikan untuk bekerja saat itu.

Pukul 12 lebih 15 aku mulai beranjak berangkat keluar dari kediaman rumah menuju ke pabrik mobil tersebut. Beruntung karena rumah yang kutinggali sementara ini terletak tidak terlalu jauh dari tempat kerja, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan kaki saja yang memakan waktu 20 menitan.

Sampai pada di perusahaan Daimler yang berluaskan seperti kompleks perumahan elit dengan gedung-gedung panjang seperti pabrik produksi pada umumnya.

Berjalan aku menyusuri ujung2 gedung untuk mengikuti arahan dari Google Maps ke tempat lokasi Treffpunkt (Meeting Point) bersama para pekerja lainnya yang baru memulai kerja nya dihari tersebut sama sepertiku.

Setelah sampai di Treffpunkt yang berlokasikan di depan salah satu kompleks gedung Daimler, terlihat sudah ada beberapa pekerja yang juga sudah menunggu hingga seiring berjalan waktu terus bertambah banyak datang selagi menunggu informasi atau kabar berkaitan pembagian atau penempatan kerja dihari pertama ini.

Hingga beberapa lama menunggu, tiba-tiba datang seorang bapak-bapak dengan secarik kertas dibawanya.

"Ist da jemand hier mit dem Vornamen Muhammad?" (apakah disini ada yang bernama depankan Muhammad?) Sontak suara bapak-bapak yang datang menghampiri kerumunan para pekerja baru disitu termasuk aku.

"Ja das bin ich, Muhammad" ("Ya, itu aku, Muhammad") jawabku selagi mengancungkan tangan menjawab pertanyaannya. Aku berpikir melihat temen-temen pekerja disini yang berwajahkan bule-bule, adapun berwajahkan asing itupun dari negara jauh lain seperti afrika. Jadi dengan percaya diri aku yakin Muhammad yang dimaksud itu tertuju untukku.

"Komm doch bitte mal kurz" (Tolong kesini bentar) jawabnya,
Sambil menunjukkan identitas diri ku ia menanyakan apakah benar bahwa yang dimaksud adalah Muhammad yang dituju, dan benar semua sesuai data diriku. 

"Ja, das sind alle hier richtig!" ( ya, semua datanya benar) jawabku,

"OK dann kommst du jetzt bei mir mit" (Oke, kalau gitu kamu ikut aku!) kata bapak tersebut,
Dengan perasaan heran dan bingung "kenapa aku sendiri yang dipanggilnya?", akhirnya akupun terpisah dengan rombongan para pekerja baru lainnya dan aku pun mulai bertanya-tanya.

"Warum nimmst du nur mich und lassen die andere da noch warten?" (kenapa kamu hanya mengambil aku dan meninggalkan pekerja baru yang lain menunggu disana?) tanyaku kepada sang bapak.

"Weil nur du einfach ausgewählt wurdest" (karena hanya kamu sendiri yang terpilih)
Heran dan sedikit bingung tapi aku berusaha untuk tidak banyak bertanya dahulu dan tetap mengikuti proses awal untuk memulai bekerja disini.

Bapak itu sedikit menjelaskan jalan masuk kedalam departemen tempat dimana aku akan bekerja dan mengenalkan tempat-tempat disekitar.

"Hier ist der Pausenraum, da sollst du jetzt einfach nur warten bis der Leiter zu dir kommt. Das kann vielleicht bis halbe Stunde dauern. Geh doch mal drin und warte" (Disini ialah ruang istirahatnya, kamu sekarang tunggu didalam sampai bos nanti datengin kamu, kurang lebih sampai setengah jam lagi) 

Singkat kata dari sang bapak menyuruhku untuk menunggu diruang istirahat tersebut hingga tibalah bos setempat datang.

"Du muss Muhammad sein, oder?" (Kamu pasti Muhammad kan?) tanya dia,

"Ja richtig, Ich bin´s" (Ja betul itu aku)

Disaat itu terjadi lah dialog kecil diriku dengan bos. Bosku yang tampak dari wajahnya seperti blasteran arab dan eropa kala itu memegang kontrak kerjaku yang akan ku tanda tangani beserta form dan CV. Dalam dialog itu pun beliau mengatakan bahwasanya beliau tertarik dengan negara Indonesia dan tak diduga beliau melemparkan satu pertanyaan yang membuatku harus bercerita panjang. Ya, beliau bertanya:

"Wie hatte sich der Islam in deinem Heimatland Indonesien verbreitet?" (Bagaimana agama Islam bisa tersebar di negara asalmu Indonesia?). 
Dari pertanyaan ini serentak tersadar dari hati kecilku bahwa beliau ternyata seorang muslim. Beliau pun mulai perlahan mengenalkan dirinya yang biasa disapa Ismail. Beliau mengatakan bahwa dibawah kepemimpinan dan jabatan nya saat itu, beliau menarik banyak muslim yang telah mendaftar kerja di Daimler untuk masuk di departemen nya. Yang mana kebetulan disitu aku termasuk menjadi pilihan nya beliau. Beliau menjelaskan dari ratusan applicant yang terqualifikasi masuk, beliau sesekali memperhatikan nama-nama yang identik dengan muslim, sehingga karenanya Muhammad ada dalam namaku, beliau akhirnya mengambil aku masuk ke departemen nya sebagai jawaban kenapa hanya aku yang terpanggil ke departemen nya sendiri. 

"Wah alhamdulillah" ucapan rasa syukur dan beruntung dalam kecil hatiku kala mendengar apa yang beliau sampaikan. Di hari pertama kerja beliau mengajak aku berkeliling, dan saat itu pula beliau menunjukkan suatu tempat yang mana tidak untuk diperlihatkan oleh pekerja umumnya, yaitu Musholla. Iya, ruang beribadah untuk muslim agar tentunya bisa melaksanakan shalat. Aku pun terkagum kagum dan sangat terasa mind-blowing sekali mendapat apa yang aku temukan di hari pertama aku kerja disini. 

Sungguh bagi aku suatu pengalaman pertama bekerja ditempat yang mayoritas kolleganya ialah non muslim di perusahaan besar Jerman seperti Mercedes Benz. Namun walaupun begitu tampak cahaya islam menyinari dan menerangi para pekerja muslim disana, sehingga diberikan nya kemudahan mereka menjalankan ibadah tanpa harus meninggalkan kesibukkan dan pekerjaan yang menjadi kewajiban lainnya. Subhānā-llāh


Salam
Iqro